Saturday, January 12, 2013

Gado-gado dari Kebon Jeruk

Pameran seni rupa yang berlangsung di One Galeri Seni Rupa, jalan Panjang nomor 46, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dibingkai dalam tema Artikulasi [articulate], berlangsung pada 9 – 23 April 2008 silam.

Saya coba mengapresiasi pameran yang dikuratori Agus Dermawan T itu pada malam pembukaannya. Begitu masuk ruang pamer, menyaksikan satu per satu karya yang dipamerkan, langsung saja lahir kongklusi sederhana: Ini gado-gado.

Bagi orang Indonesia, khususnya yang bermukin di Pulau Jawa, gado-gado adalah makanan yang lezat. Di sana ada rupa-rupa bahan. Peminatnya tidak berasal dari pelbagai segmentasi strata sosial maupun ekonomi tertentu. Gado-gado bebas kelas.

Pramodeya Ananto Toer pernah menulis cerita yang dibuka dengan mendeskripsikan gado-gado untuk menganalogikan tulisannya yang memang campur-baur. Walau campur-baur, makanan ini lezat, sampai menari-nari lidahku saat melahapnya, tulis Pram.

Tulisan Pram yang gado-gado itu ternyata enak dibaca. Bagaimana jika gado-gado itu terjadi dalam pameran seni rupa? Enak diresepsikah? Ini soal taste. Enak menurut saya, belum tentu menurut yang lain.

Karya yang didisplay berupa patung dan lukisan dengan berbagai corak, merupakan gubahan dari Agapetus A Kristiandana | Ahmad Zaki | Awan Simatupang | Cahyo Basuki [Yopi] | Didik Nurhadi | Eduard [Edopop] | Indyra | Kokok P. Sancoko | S. Tedy D | Suraji | Wayan Sumarta | Ugo Untoro.

Mari kita tengok lukisan-lukisan yang jumlahnya cukup banyak, mengapa disebut gado-gado. Menurut saya, paling kontras adalah membandingkan karya Ugo Untoro dengan karya Indyra atau karya Ahmad Zaki. Lukisan Ugo bercorak ekspresionis sedangkan gubahan Indyra beraliran realis-naturalis, dan Ahmad Zaki berekspresi dengan corak naturalis-surealis. Penyebutan aliran ini mungkin janggal, sebab memang sekarang membicarakan kategorisasi lukisan berdasarkan corak atau aliran, terasa membingungkan, sudah bercampur-baur. Pada sebuah lukisan bisa terdapat banyak aliran.

Namun jelas dari penampakannya, saya bisa merasakan perbedaan pelbagai corak itu, hanya saja kebingungan kalau harus memberi istilah. Ugo Untoro misalnya, lukisannya dibuat tanpa presisi, cenderung coretan-coretan liar, sepuasnya. Indyra dan Ahmad Zaki jelas membutuhkan model dan mengejar kemiripan dalam lukisannya.

Namun demikian, ada perubahan saya lihat dalam lukisan Ugo. Pada pamerannya yang sekarang, berbeda dengan pameran tunggalnya di Java Gallery (sudah tutup galeri ini), di Edwins Gallery atau di Nadi Gallery beberapa waktu lalu. Lukisannya yang sekarang terlihat ada usaha kontrol yang lebih ketat dalam mendedahkan cat.

Lalu keragaman itu terlihat juga pada lukisan Wayan Sumantra yang secara penampakan terasa memancarkan suasana meditatif. Lukisan Suraji dan Eduard (Edopop) dekat pada unsur dekoratif, sampai-sampai keduanya harus membuat arsiran kecil guna menggambarkan objek secara detail.

Kemudian karya patung yang berdimenai trimatra, jelas berbeda dengan lukisan yang trimatra. Patung gubahan Didik Nurhadi berbeda dengan gubahan Cahyo Basuki atau Awan Simatupang. Didik Nurhadi membesut patung figuratif, Cahyo membuat patung simbolik, sedang Awan menggubah patung non-figuratif.

Mengapa bisa lahir pameran gado-gado seperti ini, pada mulanya adalah ide dari Adhi Wibowo selaku pengelola galeri yang hendak mengadakan pameran di galerinya, ia menyodorkan sejumlah perupa kepada kurator. Melihat nama-nama yang disodorkan, Agus Germawan T kemudian menyeleksi dan memilih beberapa perupa, lalu memberinya bingkai kontekstual bagi para perupa terpilih itu.

“Saya memberikan tema Artikulasi setelah melihat bagaimana artikulasi para seniman itu dalam menyikapi konteks seni rupa, baik konteks wacana maupun pasar,” kata Agus Dermawan saat saya mintai pendapat.

Pada katalog pameran, Agus Dermawan memberikan komentar, pameran ini perlu dibingkai dalam tema Artikulasi setelah melihat sikap para perupa yang luwes menghadapi fenomena seni rupa di Tanah Air, menyangkut fenomena wacana dan pasar. Luwes, itulah sikap para perupa yang berpameran dalam Artikulasi ini.

Para perupa yang karyanya dipamerkan ini, bukanlah pendatang baru. Dari sisi usia, sebagian memang masih muda, belum 40 tahun. Satu dua saja yang sudah memasuki usia 40. Mereka sudah teruji oleh waktu, dan konsistensinya dalam berkarya dapat dipertanggungjawabkan. Mereka akan terus berkarya sekalipun Presiden berganti-ganti, sekalipun banjir bandang kembali menyerbu Jakarta. Kalau Jakarta kebanjiran tiap hari, kan susah menggelar pameran.

Pameran gado-gado memang sering dilakukan dibanyak tempat. Tapi tidak semua gado-gado-nya sedap dilahap. Terkadang ada karya yang belum layak dipamerkan, namun dijejalkan. Ibarat memasukkan bengkuang mentah ke dalam gado-gado, tentu akan terasa janggal. Namun untuk gado-gado dari Kebon Jeruk ini, semua bahannya terseleksi, tidak asal comot.

5 comments:

  1. What's up to all, it's genuinely a nice for me to go to see this
    web site, it consists of useful Information.
    Feel free to visit my web page - static cling remedies

    ReplyDelete
  2. I don't know if it's just me or if perhaps everyone else experiencing problems with your site.
    It seems like some of the written text within your content are running off the screen.

    Can somebody else please provide feedback
    and let me know if this is happening to them too?
    This may be a issue with my browser because I've had this happen before. Thank you
    Visit my homepage : risks of hcg diet for men

    ReplyDelete
  3. I think the admin of this web page is actually working hard in favor of his
    site, for the reason that here every stuff is quality based information.
    My page : Lexington Law

    ReplyDelete
  4. Malaysia & Singapore & brunei greatest on-line blogshop for wholesale & quantity korean add-ons,
    accessories, earstuds, locket, rings, bangle, trinket & hair add-ons.
    Promotion 35 % wholesale discount. Ship Worldwide
    Take a look at my web-site : ohiomeansjobs.com

    ReplyDelete
  5. Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

    Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

    Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

    Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

    Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut

    ReplyDelete

tulisan yang nyambung