<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177</id><updated>2011-12-21T04:55:43.107-08:00</updated><category term='Fadli Zon: Bukan Perburuan Rente'/><category term='Arif Siregar: Butuh Dana Besar'/><category term='Saptoadi Nugroho: Yang Muda Yang berlari'/><category term='Serat Sepak Bola'/><category term='Esthy Reko Astuty: Mendukung Promosi Indonesia 2010'/><category term='Ivan Sagito:  Kefanaan dan Absurditas'/><category term='Artis'/><category term='Artefak'/><category term='Berita Seni Rupa'/><category term='Martin Aleida: Kita memang bisa menulis apapun'/><category term='Poliseni'/><category term='Obituari'/><category term='Butet Kertaredjasa: Karena Tuntutan Naskah'/><category term='Biantoro Santoso: Karakter Galeri Sesuai Selera Pemiliknya'/><category term='Saptoadi Nugroho: Impian Tujuh Bintang'/><category term='Syaikieb Sungkar: Never Ending Story'/><category term='Fauzi Bowo Tidak Terkenal'/><category term='Oei Hong Djien: Insting Mengoleksi'/><category term='Heurmeneutika'/><category term='Oei Hong Djien: Dulu dan Kini'/><category term='Agus Dermawan T: Seni Rupa Terkini'/><category term='Ang Andy Bintoro: Sekelumit Rencana Fasilitas Baru'/><category term='Tapal Batas'/><category term='Irvan A No&apos;man: Paradigma Seniman Masa Depan'/><category term='Eddy Prakoso: Semua Pihak Harus Profesional'/><category term='Rizki A Zaelani: Kurator dan Kritikus Berbeda'/><category term='Tisna Sanjaya: Anak Zaman'/><category term='Tjetjep Suparman: Batik Indonesia Terbaik Di Dunia'/><category term='Farah Wardani: Seni Rupa: 70 % Urusan Ekonomi'/><category term='Jual Lukisan Beli Rambutan'/><category term='Tubagus Andre: Kepala Galeri Nasional untuk Eselon II'/><category term='Tisna Sanjaya: Jangan Konsumtif Melahap Kehadiran Media Baru'/><category term='Tan Deseng: China yang Sangat Sunda'/><category term='Kronik'/><category term='Diyanto: The New Icon Seni Rupa Indonesia'/><category term='Chris Dharmawan: Jangan Hanya Tiarap Saat Krisis Global'/><category term='Asikin Hasan: Harus Dilihat Kepentingannya Apa'/><category term='Nginap Di Hotel Bintang Lima Beli Rokok Di Kios Kaki Lima'/><category term='Telaah Fenomena'/><category term='Cantelan'/><category term='Resensi Film'/><category term='Anekdot'/><category term='Suwarno Wisetrotomo: Internasionalisasi Seni Rupa Indonesia'/><category term='Harry A Poeze: Tan Malaka'/><category term='Suwarno Wisetrotomo: Semua Oang Bisa Mengaku Kurator'/><category term='Aviliani: Kredit Investasi sedang Menurun'/><category term='Ketika SBY kaget lalu bertanya Loh kok sampeyan ada di sini?'/><category term='umum'/><category term='Berita Pertunjukan'/><category term='Inda C Noerhadi: Pasar Harus Dikontrol'/><category term='Catatan Perjalanan'/><category term='Menanti Sang Anemer Jadi Konduktor'/><category term='Syakieb Sungkar: Booming Mungkin 2014'/><category term='Sulistyo Tirtokusumo: Memprioritaskan Seni Tradisi'/><category term='Perbincangan'/><category term='Tetet Cahyati: Puisi Jadi Lukisan Lalu Jadi Batik'/><category term='Djuli Djatiprambudi: Persiapan-persiapan Menjadi Subject Matter Di Era Global'/><category term='Nasirun: Antara Nasionalisme dan Nasirunisme'/><category term='Ruang Seni'/><category term='Imam B Prasodjo: Harus Dibantu Pasukan Khusus'/><category term='I Gde Ptana: Promosi Adalah Investasi'/><title type='text'>N K R I</title><subtitle type='html'>NEGARA KERAJAAN REZIM INDONESIA</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>144</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-3523560389424878641</id><published>2011-12-21T04:48:00.001-08:00</published><updated>2011-12-21T04:48:43.958-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Seni Rupa'/><title type='text'>Gado-gado dari Kebon Jeruk</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Pameran seni rupa yang berlangsung di One Galeri Seni Rupa, jalan Panjang nomor 46, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dibingkai dalam tema Artikulasi [articulate], berlangsung pada 9 – 23 April 2008 silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya coba mengapresiasi pameran yang dikuratori Agus Dermawan T itu pada malam pembukaannya. Begitu masuk ruang pamer, menyaksikan satu per satu karya yang dipamerkan, langsung saja lahir kongklusi sederhana: Ini gado-gado.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Indonesia, khususnya yang bermukin di Pulau Jawa, gado-gado adalah makanan yang lezat. Di sana ada rupa-rupa bahan. Peminatnya tidak berasal dari pelbagai segmentasi strata sosial maupun ekonomi tertentu. Gado-gado bebas kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramodeya Ananto Toer pernah menulis cerita yang dibuka dengan mendeskripsikan gado-gado untuk menganalogikan tulisannya yang memang campur-baur. Walau campur-baur, makanan ini lezat, sampai menari-nari lidahku saat melahapnya, tulis Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Pram yang gado-gado itu ternyata enak dibaca. Bagaimana jika gado-gado itu terjadi dalam pameran seni rupa? Enak diresepsikah? Ini soal taste. Enak menurut saya, belum tentu menurut yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya yang didisplay berupa patung dan lukisan dengan berbagai corak, merupakan gubahan dari Agapetus A Kristiandana | Ahmad Zaki | Awan Simatupang | Cahyo Basuki [Yopi] | Didik Nurhadi | Eduard [Edopop] | Indyra | Kokok P. Sancoko | S. Tedy D | Suraji | Wayan Sumarta | Ugo Untoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita tengok lukisan-lukisan yang jumlahnya cukup banyak, mengapa disebut gado-gado. Menurut saya, paling kontras adalah membandingkan karya Ugo Untoro dengan karya Indyra atau karya Ahmad Zaki. Lukisan Ugo bercorak ekspresionis sedangkan gubahan Indyra beraliran realis-naturalis, dan Ahmad Zaki berekspresi dengan corak naturalis-surealis. Penyebutan aliran ini mungkin janggal, sebab memang sekarang membicarakan kategorisasi lukisan berdasarkan corak atau aliran, terasa membingungkan, sudah bercampur-baur. Pada sebuah lukisan bisa terdapat banyak aliran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jelas dari penampakannya, saya bisa merasakan perbedaan pelbagai corak itu, hanya saja kebingungan kalau harus memberi istilah. Ugo Untoro misalnya, lukisannya dibuat tanpa presisi, cenderung coretan-coretan liar, sepuasnya. Indyra dan Ahmad Zaki jelas membutuhkan model dan mengejar kemiripan dalam lukisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, ada perubahan saya lihat dalam lukisan Ugo. Pada pamerannya yang sekarang, berbeda dengan pameran tunggalnya di Java Gallery (sudah tutup galeri ini), di Edwins Gallery atau di Nadi Gallery beberapa waktu lalu. Lukisannya yang sekarang terlihat ada usaha kontrol yang lebih ketat dalam mendedahkan cat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu keragaman itu terlihat juga pada lukisan Wayan Sumantra yang secara penampakan terasa memancarkan suasana meditatif. Lukisan Suraji dan Eduard (Edopop) dekat pada unsur dekoratif, sampai-sampai keduanya harus membuat arsiran kecil guna menggambarkan objek secara detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian karya patung yang berdimenai trimatra, jelas berbeda dengan lukisan yang trimatra. Patung gubahan Didik Nurhadi berbeda dengan gubahan Cahyo Basuki atau Awan Simatupang. Didik Nurhadi membesut patung figuratif, Cahyo membuat patung simbolik, sedang Awan menggubah patung non-figuratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa bisa lahir pameran gado-gado seperti ini, pada mulanya adalah ide dari Adhi Wibowo selaku pengelola galeri yang hendak mengadakan pameran di galerinya, ia menyodorkan sejumlah perupa kepada kurator. Melihat nama-nama yang disodorkan, Agus Germawan T kemudian menyeleksi dan memilih beberapa perupa, lalu memberinya bingkai kontekstual bagi para perupa terpilih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya memberikan tema Artikulasi setelah melihat bagaimana artikulasi para seniman itu dalam menyikapi konteks seni rupa, baik konteks wacana maupun pasar,” kata Agus Dermawan saat saya mintai pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada katalog pameran, Agus Dermawan memberikan komentar, pameran ini perlu dibingkai dalam tema Artikulasi setelah melihat sikap para perupa yang luwes menghadapi fenomena seni rupa di Tanah Air, menyangkut fenomena wacana dan pasar. Luwes, itulah sikap para perupa yang berpameran dalam Artikulasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para perupa yang karyanya dipamerkan ini, bukanlah pendatang baru. Dari sisi usia, sebagian memang masih muda, belum 40 tahun. Satu dua saja yang sudah memasuki usia 40. Mereka sudah teruji oleh waktu, dan konsistensinya dalam berkarya dapat dipertanggungjawabkan. Mereka akan terus berkarya sekalipun Presiden berganti-ganti, sekalipun banjir bandang kembali menyerbu Jakarta. Kalau Jakarta kebanjiran tiap hari, kan susah menggelar pameran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran gado-gado memang sering dilakukan dibanyak tempat. Tapi tidak semua gado-gado-nya sedap dilahap. Terkadang ada karya yang belum layak dipamerkan, namun dijejalkan. Ibarat memasukkan bengkuang mentah ke dalam gado-gado, tentu akan terasa janggal. Namun untuk gado-gado dari Kebon Jeruk ini, semua bahannya terseleksi, tidak asal comot.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-3523560389424878641?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/3523560389424878641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/12/gado-gado-dari-kebon-jeruk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/3523560389424878641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/3523560389424878641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/12/gado-gado-dari-kebon-jeruk.html' title='Gado-gado dari Kebon Jeruk'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-2840595831702381878</id><published>2011-12-19T12:14:00.000-08:00</published><updated>2011-12-19T12:14:22.286-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Seni Rupa'/><title type='text'>Apa Kabar Tibet</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;i&gt;Perupa Enrico Soekarno menggelar pameran gambar tentang sudut-sudut Tibet. Katalog pamerannya diberi pengantar oleh Dalai Lama.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibet, bangsa yang nyaris in absentia dalam pergaulan internasional, semenjak China melakukan invasi sedari 1950 hingga sekarang. Mereka terisolasi dan teralienasi. Tidak ada kabar yang menguar dari sana. Padahal, setiap invasi pasti melahirkan kericuhan. Setidaknya, terjadi kekerasan kultural. Sungguh sayang, PBB tidak bergeming dalam kasus penjajahan China terhadap Tibet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi serapat-rapatnya Negeri Tirai Bambu itu mengerangkeng, nama Dalai Lama berikut ajaran Budha yang disiarkannya dari Tibet, tak pernah berhasil dibungkam 100%. Sajak yang ditulis Rendra berjuluk Rajawali, jadi perkiasan yang tepat untuk menganalogikan Dalai Lama yang dicekal. Rajawali tak bisa dibungkam sekalipun dikerangkeng dalam jeruji besi, begitulah intisari sajak Rajawali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kabar pun menyebar dari Tibet. Karena PBB dan negara-negara lain berdiam diri, para seniman bangkit untuk membela Dalai Lama, Tibet, dan warganya. Sejumlah figur publik bertarap internasional, segera tergugah, lalu menegaskan rasa empatiknya. Aktor gaek sekelas Robert de Niro atau pesepak bola Roberto Bagio, menyatakan pengagum Dalai Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Indonesia, perupa Enrico Soekarno turut terketuk. Ia menyelusup ke Tibet. Di tas ranselnya selalu tersedia kertas dan tinta untuk merekam ihwal Tibet. Ia menggubah sejumlah drawing. Hasil rekam visualnya kemudian dipamerkan dalam tema Out of Tibet, di Langgeng Icon Gallery, Jln. Kemang Raya No. 1, Jakarta Selatan. Dikuratori oleh Hendro Wiyanto, pameran berlangsung pada 10 – 31 Maret 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar Enrico sangat kuat dalam olah garis. Enrico sangat telaten mendeskripsikan detail-detail objek yang digambarnya. Misalnya logo, simbol, relief, profil, taperil yang terdapat pada gedung-gedung di Tibet, digambarkan serinci mungkin. Teknik ini pastilah sulit dan membutuhkan ketekunan. Hasil dari detailisasi objek ini melahirkan sebuah gambar lansekap yang mengandung imajinasi. Saya menangkap imaji perasaan asing dan sunyi dalam gambar yang dibebat oleh peraih penghargaan Departemen Kelautan dan Perikanan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, gambar-gambar Enrico lebih memancarkan nuansa keterasingan dari bangsa yang dialienasi oleh bangsa conqueror. Kesunyian seakan menggenang pada dinding-dinding kuil, pada wajah-wajah orang Tibet, pada gunung, stupa, langit, atau aksara. Bahkan pada gambar yang dititeli March 1959, yang menerangkan militer China tengah menyerbu Tibet, tidak muncul rasa yang getir. Tidak tercium bau tragedi di sana, dan tentu gambar Enrico tidak bisa dibandingkan dengan grafis karya Käthe Kollwitz misalnya, yang sarat dengan suasana muram lagi duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enrico mengaku sebagai pengagum Vincent van Gogh yang gambar-gambarnya memang kental suasana sunyi. Mungkin secara tidak langsung telah terjadi interferensi akibat pengaguman itu. Juga, seperti dikatakan Dalai Lama dalam pengantar katalog pameran, perjuangan bangsa Tibet dalam merebut kemerdekaan memang ditempuh tanpa kekerasan. Selaras dengan perjuangan para Rasul, atau Mahatma Gandhi yang mengumandangkan prinsip ahimsa (tanpa kekerasan) dalam perjuangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa yang muncul justru nuansa damai, padahal yang ingin diwartakan adalah penjajahan di atas muka bumi? Saya kutipkan saja pernyataan perupa yang pernah berlajar teori film ini. Berikut tanya-jawab singkat dengan Enrico.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Suasana damai terpancar dalam drawing Anda, sekalipun hendak menggambarkan kekerasan, misalnya pada karya March 1959, bisa diterangkan?&lt;/i&gt;Suasana damai adalah pencarian spiritual saya dalam mengikuti ajaran Buddha. Kekerasan merupakan panggilan keadaan duniawi yang tidak bisa saya diamkan. Memang kedua sisi ini menimbulkan semacam konflik sekaligus merupakan ajaran Buddha. Di mana pada dua ekstrem kita dapat menemukan jalan tengah. Selain dalam hidup, dalam seni pun, jalan tengah tersebut adalah yang saya cari. Kalau saya sudah bisa menceritakan kekerasan duniawi, tetapi pada saat yang sama juga menyampaikan sesuatu yang spiritual, berarti saya sudah berhasil. Untuk lebih lanjut, pada bagian terakhir Artist Statement saya di dalam katalog, saya bahas juga soal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Anda yakin ada dampak dari karya seni dalam mencegah kekerasan atau invasi seperti yang dilakukan China terhadap Tibet, atau Amerika terhadap Timur Tengah?&lt;/i&gt;Secara langsung pasti tidak, tetapi memang bukan itu fungsi seni. Karya seni hanya akan mengubah persepsi atau isi hati sang pemirsa. Dan, dari perubahan-perubahan kecil individual itu, kita berharap akan terjadi perubahan sosial yang lebih massif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kadangkala perubahan di tingkat atas karena sudah bekunya isi hati, diperlukan juga seniman yang juga aktivis. Seni yang beriringan dengan aktivisme sering kali akan lebih kuat gaungnya, dan lebih cepat proses perubahannya. Dengan itu pula rakyat dapat digerakkan untuk mengubah pemerintahnya. Jadi lambat laun, dengan kerja keras dan harapan yang benar, ya saya percaya seni dapat mengubah dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Apa yang menggerakkan Anda membuat gambar begitu detail dalam kontur dan tekstur setiap objek?&lt;/i&gt;Suatu proses perjalanan panjang menemukan jati diri dalam hidup dan ciri khas dalam seni, membawa saya ke sana. Sekaligus proses meditasi saya. Semacam berkarya sambil sembahyang. Dengan mengolah rasa dan karsa, menumpuk setiap garis pendek kecil di atas setiap garis pendek kecil, saya menemukan ketenangan. Kalau pilihan hitam putih, pertama adalah alasan kejujuran dan juga permainan dua ekstrem mencari jalan tengah tadi, dan kedua adalah ikrar yang saya kumandangkan pada tahun 1991 di Timor Timur selepas pembantaian Santa Cruz. Bahwa saya tidak akan menggunakan warna sampai Soeharto mati. Kemudian ya menjadi ciri khas saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Siapa seniman yang memberi pengaruh besar dalam berkarya?&lt;/i&gt;Seniman yang membuat saya ingin jadi seniman, waktu saya masih duduk&amp;nbsp; di bangku SMP, adalah Vincent Van Gogh. Yang walaupun paling terkenal sebagai pelukis, karya gambarnya-lah yang justru sangat menakjubkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-2840595831702381878?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/2840595831702381878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/12/apa-kabar-tibet.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/2840595831702381878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/2840595831702381878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/12/apa-kabar-tibet.html' title='Apa Kabar Tibet'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-7518497795449977637</id><published>2011-12-19T11:34:00.000-08:00</published><updated>2011-12-19T11:34:17.575-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Seni Rupa'/><title type='text'>Pancaroba</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;i&gt;Membangun daya apreasiasi masyarakat terhadap karya seni adalah tugas utama lagi berat.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin peralihan seringkali menimbulkan kondisi harut-marut akibat bermunculannya virus dan bakteri yang menyusup ke pelbagai aras perdaban manusia. Di era reformasi ini, angin peralihan berkesiur lebih kencang, meniupkan bau kekacauan yang lebih moyak.&amp;nbsp; Pelbagai tatanan yang sudah mapan, digempur dan digerus hingga berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi semerawut itu pula yang terjadi pada wacana seni rupa di Nusantara. Mungkin karena di ranah utama peradaban, yaitu politik, hukum, dan ekonomi sedang babak belur, pemerintah nampak tidak memiliki strategi dan perncanaan untuk memulas wajah seni rupa di masa hadapan. Kelihatannya, yang penting asal ada aktivitas seni rupa, selesai sudah tugas pemerintah. Sampai tahun 2007 ini, gelagat angkat tangan itu masih kentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa wajah seni rupa di masa hadapan, apakah akan nampak cantik mulus, atau buruk penuh bercak, sangat bergantung pada lengan pemerintah, tanpa menihilkan usaha swasta, karena semua kerja akan dihadapkan pada regulasi dan kemampuan mambangun infrastruktur. Karya seni rupa adalah benda luxurious yang aduhai, butuh biaya yang bukan sembarangan untuk menatanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas berat dan paling utama saat ini sebenarnya bukanlah mengadakan museum atau galeri seni rupa yang wah seperti dimiliki negara-negara maju, dan belakangan diusahakan habis-habisan oleh Jepang dan China, atau menyelenggarakan berbagai biennale dan triennale yang prestisius, melainkan bagaimana memacu masyarakat memiliki apresiasi yang bagus terhadapnya. &lt;br /&gt;Adalah mubajir dana besar digelontorkan jika masyarakat tidak bisa dibedol untuk mengunjunginya. Sungguh menyedihkan, Galeri Nasional dan Museum Nasional yang berdiri menyepi di seputar lingkar Monas, Nampak sedikit pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya apresiasi itulah yang memang lemah gairahnya dari bangsa ini. Seluruh lahan kesenian, kecuali pop art, sunyi pengapresasi. Masyarakat dan pemerintah sama saja, minor apresiasi. Berapa banyak sih pejabat yang bersedia hadir pada pembukaan pameran lukisan di Galeri nasional, atau pertunjukan teater di TIM?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih lemah apresiasi barangkali bisa dimaklumi, sebab memikirkan kebutuhan primer saja masih morat-marit. Yang paling parah ialah memandang karya kesenian dengan pikiran yang picik. Kepicikan muncul karena suwung daya apreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukurlah pada tahun 2007 ini tidak terjadi pemberangusan terhadap karya seni. Tahun 2006 lalu, sejumlah masyarakat dengan mengatasnamakan agama, memerotes dengan keras dan meminta karya Agus Suwage yang dianggap porno dan menghina agama, diturunkan dari CP Open Biennale II yang diskondani Jim Supangkat. Hal serupa terjadi pada pameran patung Dadang Christanto di Bentara Budaya Jakarta beberapa tahun sebelumnya, dan instalasi karya Tisna Sanjaya dianggap ‘sampah’ saat dipamerkan di Babakan Siliwangi Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana harus membangun daya apreasiasi masyarakat terhadap karya seni ini. Pemerintah tidak boleh fatalistik dan apatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu, dunia seni rupa sedang bergulir liar mengikuti angin perubahan yang berhembus dari peradaban Eropa dan Amerika. Pelbagai virus dan bakteri sedang menyusup ke dalam pikiran kita, membuat eksponen bangsa jadi pengekor paling taat, penjiplak paling akurat, dan pembajak paling mumpuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ajang yang dapat meningkatkan apresiasi memang dilakukannya festival sebanyak mungkin. Pameran sejenis biennale&amp;nbsp; atau triennial adalah bagian kecil dari festival. Melalui festival, kita dapat mengukur kemajuan atau kemunduran peradaban. Bangsa yang besar dengan wilayah dan jumlah penduduk ini, ternyata tidak memiliki festival bernama biennial atau triennial dalam sekala nasional. Galeri Nasional Indonesia atau Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, hingga 2007 ini, belum tergerak untuk menyelenggarakan festival bergengsi itu. Kapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sudah ada Biennale Jakarta, tapi akhir-akhir ini berjalan tersendat-sendat, bahkan menimbulkan perdebatan yang tidak substansial. Barangkali sudah benar di era otonomi daerah ini festival bergengsi itu biarlah dilaksanakan oleh daerah-darah seperti Yogyakarta yang mengadakan biennale 2007 mulai 28 Desember hingga 28 Januari 2008. Seniman Bali harusnya menggelar Biennale 2007 melanjutkan Biennale 2005 yang sudah dilaksanakan. &lt;br /&gt;Seniman Bandung, Padang, Malang, Surabaya, sudah saatnya bergerak dengan melupakan Jakarta. Toh Jakarta ini diciptakan supaya ‘neraka’ ada contohnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-7518497795449977637?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/7518497795449977637/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/12/pancaroba.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/7518497795449977637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/7518497795449977637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/12/pancaroba.html' title='Pancaroba'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-2086685379665391239</id><published>2011-12-19T11:20:00.001-08:00</published><updated>2011-12-19T11:20:35.823-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Seni Rupa'/><title type='text'>Bumi Tarung Kembali Tarung</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Setelah 46 tahun dibungkam, sisa-sia personel Sanggar Bumi Tarung (SBT) yang diketuai Amrus Natalsya, kembali menggelar pameran bareng. Pameran bersama yang pertama sekaligus terakhir berlangsung tahun 1962. Tiada harapan bakal bisa kembali pameran karena begitu kuatnya Orde Baru membungkam segala sesuatu yang berbau komunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBT adalah organisasi seni rupa yang berafiliasi ke Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Adapun Lekra selalu disebut-sebut sebagai underbow Partai Komunis Indonesia (PKI). Padahal tidak ada garis instruksi PKI terhadap Lekra. Benar banyak seniman Lekra sekaligus anggota PKI. Nah, karena SBT berafiliasi terhadap Lekra, dan Lekra dianggap antek-antek PKI, maka oleh Orde Baru seluruh anggota SBT diberangus sebagai tahanan politik. Mereka ditahan, dan bahkan di antaranya ada yang dikirim ke Pulau Buru, misalnya Adrianus Gumelar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu, anggota SBT sekira 30-an seniman. Tahun ini, personel yang tersisa, tinggal 11 seniman. Tuhan memberi takdir baik sehingga mereka dapat kembali menggelar pameran bersama dengan mengambil tempat di Galeri Nasional Indonesia, berlangsung pada 19 – 29 Juni 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang berpameran adalah: Amrus Natalsya | Djoko Pekik | Misbach Tamrin | Isa Hasanda | Adrianus Gumelar | Hardjija Pudjanadi | Sudiyono SP | Sabri Jamal | Dj. M. Gultom | Muryono | Sudjatmoko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, waktu di masa Orde Baru, saya selalu membayangkan kesenian yang dilahirkan seniman Lekra dan afiliator-nya itu seram-seram. Bayangan saya itu sungguh salah setelah era keterbukaan membuka segala sesuatu secara transparan. Karya para personel SBT yang sedang dipamerkan di GNI, ternyata nampak estetis dengan pencapain kualitas yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya mereka menjadi terkesan seram adalah oleh stigma para politikus Orde Baru. Politik memang selalu kejam. Panglima sebagai politik, baik yang dijalankan pada masa pemerintahan Soekarno maupun Soeharto sungguh telah merusak kesenian. Boleh saja politik menjadi panglima, tetapi sebaiknya kesenian netral dari hegemoni politikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dipamerkan oleh Sanggar Bumi Tarung kini dan dulu, menurut Bambang Subarnas yang menjadi kurator pameran berjemaah ini, semangatnya sama, yaitu revolusioner. Bedanya, revolusioner versi dulu adalah mengacu pada Konferensi Nasional Lekra yang pertama, yang digelar di Bali pada 1962. Semangat revolusioner kini tentu lebih kontekstual dengan peradaban terkini, lebih zeit geits kalau kata orang Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konferensi Nasional Lekra melahirkan prinsip 1 – 5 – 1 sebagai pedoman etik dalam berkesenian, yang berbunyi 1): Politik sebagai panglima – 5): meluas-meninggi: luas jangkauan dan daya gugah seni kepada masyarakat; tinggi mutu ideologi dan artistik; memadukan realisme revolusioner dan romantisme revolusioner; memadukan tradisi baik dan kekinian revolusioner; memadukan kreativitas individu dan kearifan masyarakat – 1) Turba (turun ke bawah), yaitu bahwa seniman harus turun ke masyarakat untuk melakukan observasi dan memberi wawasan serta padangan politik kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun semangat revolusioner SBT dalam pameran yang sekarang diarahkan sebagai upaya untuk menyikapi seni rupa kontemporer, sehingga SBT mengembangkan konsep yang disebut Kontrev (kontemporer revolusioner) yang berbunyi; 1) penyederhanaan, 2) kekuatan artistik, 3) kemanusiaan yang dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tulisan ini, saya menyeru kepada para politikus dan aparat Negara, biarkanlah kesenian menjadi kesenian yang bertugas memberi ruang katarsis dan inspirasi bagi masyarakat. Tak ada kesenian yang kejam. Tak ada puisi yang sanggup merubuhkan gedung DPR – MPR. Tak ada patung yang dapat melengserkan presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenian adalah ide, bukan provokator yang menghasut masyarakat. Bahkan kesenian sanggup mengajak masyarakat untuk berbuat baik dan menjaga persatuan bangsa. Bukankah Raja Ali Haji yang sudah diangkat menjadi Pahlawan Bahasa Indonesia oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004 adalah orang yang mempersatukan Indonesia melalui bahasa? Bukankah perekat nasionalisme saat ini yang paling kuat adalah bahasa Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada polisi dan tentara, janganlah semena-mena terhadap karya seni berikut senimannya, hanya karena Anda merasa menjadi penjaga keamaan. Jangan-jangan Anda yang justru pengkhianat yang telah merusak bangsa. Apakah jika Anda mem-backing pembalakan liar atau perjudian harus disebut pahlawan bangsa. Ketahuilah, pelukis Affandi dan penyair Chairil Anwar, atau juga Pramoedya Ananta Toer, adalah seniman-seniman yang telah berjasa terhadap bangsa dan negara.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-2086685379665391239?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/2086685379665391239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/12/bumi-tarung-kembali-tarung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/2086685379665391239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/2086685379665391239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/12/bumi-tarung-kembali-tarung.html' title='Bumi Tarung Kembali Tarung'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-2247817334398436305</id><published>2011-12-19T11:06:00.001-08:00</published><updated>2011-12-19T11:06:48.867-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Seni Rupa'/><title type='text'>Bali Makin Menjadi</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Sejumlah pelukis tradisional Bali melakukan pembaruan dalam teknik pewarnaan, hingga lukisannya makin dinamis dan kontekstual. Mereka berpameran di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah seniman lukis tradisional-kontemporer dari Bali menggelar pameran di gedung CSIS (Center of Strategic and International Studies), Jalan Tanah Abang III nomor 27, Jakarta Pusat, pada 10 – 18 April 2008 silam. Pameran ini diselenggarakan oleh Kupu Kupu APM (Arts Project Management). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekira 120 lukisan tradisional kontemporer Bali, dari aliran Batuan dan Keliki, yang didisplay pada ruang pamer. Lukisan gaya Batuan mengangkat tema kehidupan sehari-hari yang sarat gurau, dibuat di atas kanvas. Sementara lukisan Keliki yang ternama di dunia sebagai lukisan mini (berukuran 5 sampai 20 cm), digubah di atas kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran ini dibingkai dengan tema Pesta Puri. Frase pesta puri diambil oleh penggas sekaligus kurator pameran ini, Agus Dermawan T, untuk menandai kemeriahan pameran yang ibarat sedang menggelar festival puri (istana raja-raja Bali) melalui lukisan. Memang, lukisan yang sedang dipamerkan itu umumnya banyak menggambarkan puri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang berpameran adalah Ketut Sadia | Wayan Diana | Ketut Sudila | Ida Bagus Made Padma | Ida Bagus Putu Panda | Wayan Ketig | Made Kicen | Dewa Kompyang Pasek | Ida Bagus Made Mergeg | Ketut Manggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan Bali yang sedang dipamerkan itu dikatakan tradisional-kontemporer. Tradisional karena secara corak, para pelukis masih mempertahankan gaya lukisan tradisional Bali yang khas. Kontemporer, karena kemasan yang disajikan kontekstual dengan wacana seni rupa terkini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri lukisan tradisional Bali dapat dikenali dari beberapa hal. Pertama, metode melukisnya meminjam teknik fotografi, di mana lukisan itu menggambarkan suasana lansekap atau potret teater kehidupan masyarakat Bali. Kedua, kanvas yang dilukisnya selalu dipenuhi dengan dekorasi, sehingga tidak ada ruang kosong yang disisakan. Ketiga, objek-objek yang digambarnya tidak murni bercorak realis-naturalis. Keempat, pewarnaannya cenderung monokrom hitam-putih. Jikapun ada penambahan warna, paling banter warna biru dongker atau cokelat tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi para pelukis Bali tidak mandek. Mereka bergaul dan menerima pengaruh yang positif, sehingga lukisannya mendapatkan sentuhan akibat dari pergaulan itu, terutama sekali tampak pada teknik perwarnaan dan penggunaan medium. Dulu, lukisan tradisional Bali cenderung hanya menggunakan mangsi dan pinsil untuk mewarnai lukisannya. Mangsi warnanya hitam, jadi lukisannya mereka cenderung monkrom hitam putih, ada warna lain tapi paling-paling warna abu-abu yang timbul akibat dar teknik gradasi hitam-putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini beberapa pelukis menggunakan cat dari akrilik dengan warna yang lebih variarif. Namun meski merambah bahan dan warna, corak utamanya tetap dipertahankan sesuai dengan teknik yang mereka pelajari. Alhasil, lukisan tradisional-kontemporer Bali tetap terlihat meditatif seperti lukisan terdulu yang misalnya digubah oleh I Nyoman Lempad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat kontekstualitas pameran lukisan ini dengan semngat nation character building seperti yang sering didengungkan oleh Bung Karno. Lukisan tradisional Bali itulah salah satu karakter bangsa. Adalah lukisan tradisional Bali yang dikoleksi oleh berbagai pecinta seni di dunia. Juga hanya lukisan tradisional Bali yang benar-benar hasil budidaya sendiri, yang bukan hasil jiplakan dari luar. Di daerah lain seperti di Papua atau Kalimantan, tentu ada lukisan yang lahir dari local genuine, sayangnya kurang terekspos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran ini adalah bagian dari pemetaan yang dilakukan oleh Agus Dermawan T atas fenomena seni lukis tradisional Bali yang telah mengalami transformasi akibat pergaulan estetik secara global, hingga beberapa aliran seni lukis “tradisional” Bali itu mengalami modernisasi atau kontemporerisasi. Untuk itu, bagaimanapun, usaha yang dilakukan ADT ini perlu mendapat apresiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan suatu hari, ada ahli transformasi seni visual yang bersedia datang ke Jelekong, Kabupaten Bandung, atau ke tempat-tempat lain yang menjadi sentra produksi lukisan. Lalu berdialog dengan paran seniman di sana, dan terciptalah suatu usaha pembaruan estetika mencakup seluruh pengertian estetik, hingga lukisan model Jelekong mengalami pembaruan di berbagai unsur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik melukis Bali, kita tahu sangat rumit. Satu lukisan dikerjakan bisa lebih dari dua bulan. Rumit benar tekniknya, apalagi lukisan dari Keliki yang kecil-kecil itu. Bahkan untuk melihatnya dengan jernih, kita membutuhkan lensa pembesar, padahal pelukisnya tidak menggunakan lensa pembesar saat menggubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik lukisan tradisional Bali memang rumit. Bahkan bagi saya, untuk menghapal nama-nama seniman Bali saja, terus terang kesulitan karena adanya kesamaan nama setiap anak ke-1, ke2, ke-3, ke-4. Anak pertama, atau si sulung, biasanya diberi nama awal Wayan/Ketut/Gde, semacam ngabehi [(anak pertama] dalam tradisi bangsawan Jawa. Anak kedua selalu diberi nama awal Made, anak ketiga Nyoman, dan anak keempat Ketut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak seniman Bali yang bernama awal Wayan, Made, Nyoman, atau Ketut. Pada pameran ini misalnya, ada nama I Ketut Sudila yang bisa terbalik dengan I Ketut Sadia. Lalu ada I Ketut Kaja| I Ketut Manggi| Ida Bagus Ketut Panda| I Ketut Sana| I Ketut Priksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seniman Bali memang liyan, yang tradisional maupun yang kontemporer, selalu hadir eksotik dan mencengangkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-2247817334398436305?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/2247817334398436305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/12/bali-makin-menjadi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/2247817334398436305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/2247817334398436305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/12/bali-makin-menjadi.html' title='Bali Makin Menjadi'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-171932908845279778</id><published>2011-12-17T11:45:00.003-08:00</published><updated>2011-12-17T11:45:11.102-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Seni Rupa'/><title type='text'>Menjadi Yesus</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;i&gt;Perupa J. Ariadhitya Pramuhendra mereinkarnasi lukisan Perjamuan Terakhir karya Leonardo da Vinci. Ia memerankan tokoh Yesus dalam karyanya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Pramuhendra, peristiwa itu sebagai suatu metafor, suatu momentum penting dalam kehidupan relegi serta menjadi bermakna simbolik bagi dirinya, bahwa setiap sosok di sana mungkin bisa mewakili situasi keimanan seseorang pada saat sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian cacatan kuratorial Rifky Effendy, pada katalog pameran J. Ariadhitya Pramuhendra berjuluk On Last Supper (Pada Perjamuan Terakhir) yang berlangsung di Cemara 6 Galeri, Jl. HOS Cokroaminoto No. 9 – 11, Jakarta Pusat. Pameran berlangsung pada 11 – 25 Maret 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last Supper atau perjamuan terakhir, adalah persitiwa penting dalam keyakinan Kristiani, yaitu ketika Yesus sebelum dikhianati Yudas, mengumpulkan 12 muridnya dalam suatu silaturahmi. Yesus membagi-bagikan roti dan anggur, seraya menjelaskan anggur dan roti itu adalah simbol darah dan dagingnya. Setelah itu, Isa Almasih menyatakan, ada muridnya yang bakal berkhianat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian yang diceritakan dalam Inzil itu, pernah divisualisasikan oleh seniman supertalenta Leonardo da Vinci dengal titel Last Supper atas pesanan Puas untuk dipajang di Gereja Milan. Lukisan ini, bertahun-tahun menjadi rujukan visual bagi umat Kristiani dalam memahami kejadian perjamuan terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perupa J. Ariadhitya Pramuhendra kemudian melakukan semacam reinkarnasi atas tokoh-tokoh yang ada dalam lukisan itu. Para tokoh yang nampak dalam lukisan, termasuk Yesus, diganti oleh dirinya, namun gestur atau adegan para tokoh tetap dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya, Ariadhitya menirukan gestur pada tokoh oleh dirinya sendiri, termasuk tokoh Yesus, kemudian dipotret. Hasil potretnya diolah dengan photoshop, lalu dilukis dalam kanvas dengan pinsil arang. Maka Ariadhitya pun menjadi tokoh Yesus dalam karyanya. Asmudjo Jono Irianto pernah melakukan hal serupa pada lukisan Monalisa yang juga digubah da Vinci. Asmudjo menyebutnya, itulah proses kleptosign (mencuri tanda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan umat Kristiani, jadi tidak bisa menghayati relejiusitas yang terpancar dalam lukisan Leonardo itu, juga lukisan reinkarnasi gubahan Ariadhitya. Bagi saya, nilai lukisan itu sama dengan potret orang-orang yang sedang melakukan thawaf. Hanya sebuah foto, kebetulan foto orang-orang sedang thawaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat foto orang sedang thawaf, atau menggubah lukisan orang sedang thawaf, rasanya tidak berkait dengan relijiusitas, apalagi kalau melukisnya sambil menenggak alkohol. Karena itu, saya melihat karya Ariadhitya berupa lukisan, digital printing, dan patung sebagai karya seni rupa yang tidak berkait dengan intensitas beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai karya visual, drawing hasil bebatan Ariadhitya cukup menarik dan eksotik. Karena ukruannya besar-besar, sangat bagus menjadi backround untuk berpose. Memang, banyak pengujung yang tertarik difoto dengan latar karya Ariadhitya itu. Saya katakan, drawing-nya bagus. Ada suasana yang mamancar darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jelas makna lukisan Leonardo da Vinci memiliki kedekatan emosional dan relejiusitas bagi Ariadhitya yang beragama Katolik. Mungkin bagi Ariadhitya, menggubah ulang karya da Vinci adalah sebuah laku relejius, sama nilainya dengan Ahamd Sadali atau AD Pirous saat menggubah kaligrafi yang dinukil dari Quran. Bagi beberapa kaligrafer, membuat karya adalah bagian dari dakwah. Apa benar seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tanya Ariadhitya, motif apa yang menggugah pameran ini?&lt;br /&gt;“Berdasarkan imaji iman saya. Saya mengambil lukisan Leonardo karena itu adalah ikon relijius.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya melihat, ada persoalan terpisah antara bentuk visual dengan tema yang diusung?&lt;br /&gt;“Bentuk seni rupa tidak bisa dipisahkan dari tema yang diusung. Bahkan seni rupa selalu berkait dengan persoalan lain, misalnya politik dan ekonomi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, pangkal berangkat pameran ini dari tema atau bentuk?&lt;br /&gt;“Saya memberangkatkannya dari tema. Tadi kan saya bilang, motifnya berdasarkan imaji keimanan saya. Tema Last Supper ini sangat tepat dilakukan dengan cara memasuki lukisan Leonardo da Vinci yang telah menjadi ikon dalam ajaran Kristiani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drawing Anda itu handmade atau hasil digital printing yang ditimpah dengan pensil arang?&lt;br /&gt;“Pada mulanya adalah foto, kemudian saya olah dengan photoshop, diprint, lalu hasil printing saya gambar dalam kanvas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti itulah jawaban J. Ariadhitya Pramuhendra. Pameran ini menegaskan, bahwa seni rupa hanyalah sebuah media untuk menyampaikan gagasan, baik gagasan visual maupun gagasan tematik. Untuk bisa memahami tema yang diusung seorang seniman, apresiator harus terlibat atau memiliki ikatan batin dengan konteks persoalan yang dihadapkan oleh seniman.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-171932908845279778?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/171932908845279778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/12/menjadi-yesus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/171932908845279778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/171932908845279778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/12/menjadi-yesus.html' title='Menjadi Yesus'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-50101282718145178</id><published>2011-12-17T11:30:00.001-08:00</published><updated>2011-12-17T11:30:41.219-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Seni Rupa'/><title type='text'>Kota Prahara</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;i&gt;Pasangan suami isteri Anggar Prasetyo dan Laksmi Sitharesmi pameran bareng lagi di Galeri Canna. Keduanya merespons kota sebagai latar penciptaan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Kita sering menemukan seseorang yang nampak sudah cukup tua, namun usianya masih muda. Beban hidup telah mempertua wajahnya dari yang semestinya. Imajinasi akan mereka yang disatroni beban hidup, menyeruak pada lukisan-lukisan Anggar Prasetyo dan Laksmi Shitaresmi yang dipamerkan di Galeri Canna, Jl Boulevard Barat Raya Blok LC. 6 N0. 33-34, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dibingkai dengan tema City, helatan seni rupa itu berlangsung sedari 20 Februari hingga 9 Maret 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua perupa, kebetulan suami isteri, memandang kota dari cara yang liyan. Suwrno Wisetrotomo menulis dalam katalog pameran, Anggar membahas persoalan kota dari luaran, sedangkan Laksmi dari jeroan. Saya membahasakan, Anggar membahas kota dari fisik infrastruktur berikut persoalannya, sedangkan Laksmi menyusuri kota dari sisi penghuninya berikut problematikanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pandang keduanya memang dari sudut yang berbeda. Namun pandangannya tertumbuk pada soal yang sama, yaitu bahwa kota dan penghuninya nampak sudah begitu tua, kulitnya keriput, rentan diguncang prahara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggar melihat kota dari sisi geografis. Kota-kota di Tanah Air ini, memang kebetulan berada di wilayah ring of fire bila dilihat dari lempeng bumi, adalah daerah yang rentan terkena gempa atau digoyang bencana alam dan banjir. Yogya tempat Anggar bermukim, diguncang gempa pada Mei 2006 lalu. Anggar memisualisasikan kota yang rentan terkena prahara itu, misalnya melalui lukisan batu ukuran besar, lebih masif dari menhir. Batu itu diganjal oleh sebutir telur supaya tidak menggelinding. Di atas batu itu, dibangun sebuah kota dengan gedung-gedungnya yang mencakari langit. Bayangkan, sebutir telur yang mudah pecah, menjadi pengganjal sebuah batu yang begitu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laksmi menyoroti kota dari sudut sosiologis. Ia memisualisasikan sepasang telapak tangan yang kulitnya sudah keriput. Saya menangkapnya sebagai simbol relasi sosial masyarakat kota yang sudah bergerak menjadi masyarakat modern penghuni kota-kota tua di Eropa, yaitu individualis. Simbolisasi itu dapat diresepsi misalnya melalui lukisan berjuluk Kulihat Ibunya Ibukota Pertiwi. Ada rasa sakit di situ, dari jari jemari yang ditusuki suatu benda menyerupai jarum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pandang yang bereda kedua perupa ini, yang kebetulan suami isteri, bisa jadi berangkat dari hasil diskusi dan kesepakatan. Aku bikin ini, kau garap yang itu. Tapi bisa jadi perbedaan itu lahir secara alamiah, toh secara kodrat keduanya memang berbeda, satu mewakili sifat lingga dan satunya yoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dari pameran kedua perupa ini adalah perjalanan estetik yang mereka tempuh. Kali pertama saya melihat pameran Anggar dan Laksmi tahun 2000 lalu, juga dalam pameran berdua, di Galeri Daun. Saat itu, lukisan-lukisan Laksmi memancarkan aura hati yang garang, sedangkan Anggar mengedepankan suasana hati yang murung. Kini lukisan keduanya terlihat soft, manis, walau mengemas kecemasan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-50101282718145178?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/50101282718145178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/12/kota-prahara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/50101282718145178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/50101282718145178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/12/kota-prahara.html' title='Kota Prahara'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-2223870609645442147</id><published>2011-12-17T10:41:00.005-08:00</published><updated>2011-12-17T10:41:48.418-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='umum'/><title type='text'>Estetika Paska Orde Represif</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;i&gt;Terjadi perubahan dan pergeseran makna kesenian setelah rezim Orde Baru. Kesenian bukan lagi profresi istimewa yang unik.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;ADA argumentasi mengapa kebebasan berekspresi dalam berkesenian harus dibatasi. Bila tidak dibatasi, laku kreativitas memang bisa menerabas batas-batas yang mengganggu aspirasi pihak lain. Sebagai misal, memvisualisasikan Tuhan, malaikat, dan para nabi, terutama Nabi Muhammad, adalah pantangan bagi umat Islam. Karena itu, sekalipun yang membuat kartun Nabi Muhammad itu di Denmark, orang Islam di Indonesia ikut berang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebesan berekspresi atau litentia poetica memang bisa liar seliar-liarnya. Bila tidak diberi koridor, seniman dan karyanya bisa berlaku seperti ular berkepala dua yang akan mematuk kesana kemari. Itulah sebabnya, Rezim Orde Lama (Orla) menggariskan konsepsi kesenian pada yang bersifat progresif revolusioner. Acuannya adalah karya-karya yang secara tematik bernada realisme sosial, yang diadopsi oleh para seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) penyokong Orla. Di luar itu, seniman dan karyanya akan didepak. Kesenian yang mendayu-dayu, dicap sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rezim Orde Baru (Orba) juga membuat kredo untuk kesenian yang dianggap sah, yaitu kesenian yang merupakan hasil ekspresi kebebasan yang bertanggungjawab. Rujukan Orba ini terasa samar. Namun intinya, kesenian yang dihasilkan oleh seniman Lekra mendapat pelarangan yang keras dan tegas. Kesenian yang mengertik rezim, akan dibungkam. Sama seperti Orla, Orba juga memandang sampah terhadap kesenian yang mandayu-dayu. Mungkin Anda masih ingat Menteri Penerangan Harmoko di kala itu, melarang lagu-lagu yang dinilai cengeng, yang mebuat redupnya bintang Obbie Mesakh, Rinto Hararap, Pance Pondaag, Betharia Sonata, Iis Sugiarto, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Orla maupun Orba, sesikap sepandang dalam mendudukan kesenian. Keduanya menjadi regulator yang berperan aktif dalam mengontrol kesenian. Tetapi kacamata yang mereka pakai bukanlah kaidah estetika, melainkan ranah politik. Adapun perangai politik, seringkali alfa dalam menimbang nilai. Laku politik, tentu saja politik tanpa hati nurani, tidak segan-segan membunuh nilai. Sedang kesenian sarat dengan nilai. Karena itu, seringlah kesenian dengan politik berseberangan kepentingan.&lt;br /&gt;Dalam perang kepentingan ini, kesenian lebih sering menjadi pihak yang babak belur. Politik mejadi panglima yang siap dan tega memberangus. Tetapi memberangus kesenian adalah perbuatan blunder, sebab bukan saja merugikan kesenian itu sendiri, melainkan telah memperlindap unsur yang berfungsi meretas ranah afektif manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita adalah saksi, betapa dua rezim itu telah menjadi kurator paling linglung dalam jagad kesenian di Nusantara. Kesenian dipilih dan dipilah yang sesuai menurut garis politiknya. Yang keluar garis, jangan ambil bagian, atau silakan saja, tapi imbalannya mendekam di penjara. Kedua rezim ini sama-sama telah melakukan pembakaran terhadap buku karya seni, sama-sama telah mencekal seniman yang dinilainya nakal, dana sama-sama telah men-checkin-kan seniman bebal ke hotel prodeo.&lt;br /&gt;Orla dan Orba sama saja represifnya terhadap kesenian. Keduanya, juga sama-sama menempatkan kesenian sebagai alat propaganda. Alhasil, kesenian menjadi dangkal, berbau demagog (pidato kebohongan). Dalam acara-acara seremonial, kesenian menjadi life service.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memandang kesenian yang bertema seksual, kedua rezim ini telah dibantu oleh Majelis Ulama Indoensia (MUI) dalam menentukan koridornya. Kesenian yang dinyatakan haram oleh MUI, dilaranglah oleh kedua rezim ini.&lt;br /&gt;Sayang sekali saya tidak mengalami represi di jaman Orla. Saya hanya mendengar dan membaca apa yang terjadi di kala itu. Saya menyimpulkan, karena rezim Orba lebih lama berkuasa, maka kondisi represif di jaman Orba lebih lama pula. Tetapi hasilnya, bisa jadi sama buruknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September 1997 mulai berhembus wind of change, dan menjadi mailstone pelbagai perubahan dan pergeseran di Tanah Air. Dalam konstelasi politik, September 1997 menjadi lentik api yang membakar tuntutan reformasi di Tanah Air, hingga berhasil menurunkan Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Langkah ini diikuti dengan terbukanya keran-keran kebebasan yang selama Orba ditutup rapat-rapat. Semua orang jadi berani bicara, mengeritik, bahkan menghujat.&lt;br /&gt;Di ranah kesenian, terjadi perubahan dan pergeseran atmosfer. Saya mencatat beberapa perubahan drastis setelah orde represif berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, aura kesenian mengalami kepudaran, terutama aura kesenian yang bertema kritik terhadap penguasa. Pada masa Orba, saat menonton pertunjukan Teater Koma atau pembacaan puisi oleh Rendra, tercium hembusan aroma pemberontakan. Bahkan dengan membaca puisi Widji Thukul saja, gugatan terhadap kekuasaan itu sudah terasa. Ketika sang rezim tumbang, pisau-pisau kritik itu menjadi tumpul adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, meski aura kesenian memudar, tetapi justru yang ingin menjadi seniman malah berjubal. Para mantan pejabat Orba misalnya, tiba-tiba berkesenian, tulis-baca puisi, atau melukis. Generasi yang sudah post power syndrome, juga berkesenian. Tiba-tiba mantan direktur bank menjadi pelukis, lalu berpameran. Mantan GM hotel jadi penyair. Pengusaha sukses menerbitkan kumpulan puisi. Purnawirawan Jenderal menyanyi dan membuat album. Tokoh politik yang suaranya tidak merdu, membuat album campursari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkesenian dengan anggapan, bahwa kesenian bisa menghapus dosa-dosa politik yang pernah mereka lakukan. Mereka berkesenian dengan anggapan bahwa kesenian bisa menyembunyikan pakaian buruk yang mereka kenakan. Mereka berkesenian dengan andaian bahwa kesenian bisa menyulap wibawa dan harisma. Dan seperti sang rezim yang propagandis, mereka berkesenian dengan keyakinan bahwa kesenian bisa menjadi sarana kampanye yang efektif. Semua itu, memang, adalah hak setiap orang. Tapi setiap orang harus mengindahkan tanggungjawab estetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, afek domino dari banyaknya yang ingin berkesenian, telah terjadi proses instanisasi dalam berkarya, diikuti dengan penggampangan dalam proses kreatif, serta pendangkalan dalam konsep. Sebagai misal, di era reformasi ini, bermunculan jenis kesenian yang disebut performance art (seni penampilan). Dikatakan instanisasi, penggampangan, dan pendangkalan, karena mereka berkesenian tanpa proses sublimisasi ide yang intens, juga tanpa kemampuan teknik estetik. Setiap orang seakan bisa menjadi performer art dengan bagus. Bagai euphoria reformasi yang melahirkan pengamat dadakan, para performer juga bermunculan di banyak kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konvensi atau format yang diusung oleh mereka terasa naïf, yaitu menampilkan sesuatu, apapun itu, yang penting aneh atau terkadang vulgar seperti bertelanjang bulat. Beberapa kali saya menonton performance art yang beradegan nude. Pernah ada seorang performer dari Bandung bisa sampai tampil di festival luar negeri hanya kerena dia berani telanjang bulat. Tapi sekarang, kesenian performance art mulai surut, dan tinggal beberapa performer saja yang masih aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni Performance art kali pertama muncul di Eropa pada masa perang dunia I sebagai respona para seniman dari wilayah netral seperti Swis, yang mulai menggejala pada 1916. Seniman dari negara yang terlibat perang, segera merespon gerakan ini, kemudian mereka mendeklarasikan gerakan kesenian dadaisme. Para penganut dada ini di antaranya membentuk poros seniman Kobra (Kopenhagen, Brussel, Amsterdam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadaisme ialah sebentuk manifesto yang mengumandangkan politik anti perang lewat karya seni. Bentuk keseniannya menihilkan standar seni modern yang sudah baku. Seni modern sepenuhnya diabdikan untuk kesenian atau l’ art pour l’ art (seni untuk seni), dan dadaisme menertawakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para seniman yang memprotes peperangan melihat, kesenian modern yang diagungkan itu ternyata tuli lagi bisu di hadapan peperangan. Maka jadilah kesenian dadaisme diabdikan untuk kepentingan kemanusiaan. Bentuk kesenian tidak dipersoalkan lagi, keindahan dinisbikan, yang penting temanya mengugat peperangan itu. Manuver, teror, shock therapy, adalah ciri-ciri muatan yang diusung dadaisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faham dada bergerak di bidang seni rupa, sastra (puisi, manifesto seni, teori seni), teater, rancangan grafis, dan lain-lain. Salah satu bentuk kesenian yang mengemuka saat itu adalah performance art. Masuk ke dalam kategori ini adalah body art (inilah yang sering disebut performance art di Indonesia), fluxus (musik eksperimentalia diiringi visualisasi gambar), happening art (seni peristiwa), puisi aksi (yang pembacaannya atraktif, dan ternyata secara naluriah beberapa penyair Indonesia sudah membaca puisi secara atraktif zonder mengikuti gerakan dadaisme).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 70-an, muncul gerakan neo-dadaisme sebagai bentuk protes terhadap perang dingin antara blok Barat dan Blok Timur. Performance art semakin menjadi primadona di era neo-dadaisme. Salah satu tokoh neodadaisme adalah Joseph Beuys (Jerman). Seniman lain yang cukup terkemuka di antaranya Yves Klein, Vito Acconci, Hermann Nitsch, Chris Burden, Carolee Schneemann, Yoko Ono, Wolf Vostell, dan Allan Kaprow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar sana, performance art bukan suatu kesenian yang ujug-ujug (tiba-tiba) muncul tanpa dasar. Sebelum loncat jadi mahiwal (nyeleneh), mereka adalah seniman modernis yang menguasi pakem-pakem estetika, baik itu sastrawan, aktor, perupa, musisi, komposer, penari, koreografer, termasuk fotografer. Dasar-dasar teknik seni neo-dadaisme memang berasal dari disiplin genre-genre seni modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni performance art di era neo-dadaisme itulah yang masuk ke Indonesia sekira tahun 80-an. Kemudian marak setelah gerakan reformasi 1998. Tetapi, yang diusungnya itu sudah berbeda jauh dari wacana performance art di luar sana, yang lahir sebagai gugatan terhadap kondisi sosial-politik dan peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, performance art hadir sebagai ‘ujug-ujug’ akibat dari sikap latah dan euphoria, serta sikap menggampangkan kesenian. Dikiranya performance art itu asal aneh, nyeleneh, atau telanjang. Akhirnya, mereka tampil menjadi bintang semalaman. Besoknya sudah dilupakan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, juga kerana latah ikut-ikutan dengan wacana yang sedang berhembus di luar sana, para seniman kita mulai membongkar pakem-pakem kesenian modern yang sebelum reformasi dianut dengan kukuh. Dekonstruksi kesenian terjadi di semua genre. Banyak orang yang sebelumnya tidak pernah berkecimpung di kesenian secara formalis-strukturalis, tiba-tiba langsung hadir sebagai seniman dekonstruktif. Alhasil, banyak ulah seniman dadakan itu yang justru mendestruktifikasi kesenian, atau dalam bahasa yang sopan: Melahirkan kesenian tanpa estetika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, khusus di bidang seni rupa terjadi pelebaran makna. Semula, seni rupa merupakan terjemahan dari fine art (seni yang indah) atau high art (seni bermutu tinggi). Tetapi di luar sana, terutama Eropa dan Amerika, konsep fine art telah diruntuhkan oleh para eksponen dadaisme itu, sehingga terjadi prubahan istilah menjadi visual art. Seharusnya kita juga segera mengganti istilah seni rupa (fine art) menjadi seni tampak (visual art). Tapi kalau mau menggunakan seni tampak, nanti dikira ikut-ikutan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perluasan makna seni rupa ini, cakupannya pun jadi tambah luas. Sekarang ini, segala sesuatu karya seni yang nampak (visual), dapat dikategorikan ke dalam seni rupa. Misalnya arsitektur, seni video, fotografi, puisi kongkret, performance art, desain komputer, digital printing, seni foto kopi, masuk ke dalam keluarga besar seni rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, berkat penemuan piranti teknologi yang revolusioner, yang mendukung untuk semakin mudah berkarya, maka pengerjaan karya seni memang bisa menjadi lebih mudah. Ingin menjadi pelukis misalnya, stakat ini tidak begitu sukar lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, yang namanya melukis itu adalah menggambar pada sebuah kanvas dengan kuwas atau pisau palet. Sekarang, Anda cukup memotret wajah seseorang, lalu hasilnya dicetak di atas kanvas dalam ukuran besar. Foto pada kanvas itu kemudian dilabur sedikit dengan cat agar terdapat sentuhan tangan Anda. Selanjutnya tinggal mengklaim bahwa foto di atas kanvas itu adalah lukisan dengan teknik garapan dan materialnya adalah mix (campuran), atau bisa ditulis teknik garapan dan materialnya adalah digital printing dan drawing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini, telah ditemukan mesin digital printer yang bisa mencetak image file (data gambar) full color dalam ukuran yang besar, lebarnya mencapai tiga meter, sedangkan panjangnya bisa sepanjang-panjangnya. Adalah perusahan Canon, Eastman Kodak, Epson, Hewlett-Packard, ITNH Ixia, Mimaki, Mutoh, ColorSpan, dan Roland DGA yang telah berhasil melakukan revolusi printer itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan saya, Deddy PAW, seorang pelukis yang piawai melukis realis-naturalis dengan teknik manual atau hand made, tapi mulai menggunakan bantuan digital printer ukuran besar itu. Deddy PAW membuat konsep lukisan dengan didesain oleh komputer, biasanya menggunakan program photoshop. Ia mengolah foto sebaik-baiknya, kemudian di-print di atas kanvas ukuran besar. Hasil printer itu dipulas lagi dengan cat minyak atau akrilik. Hasilnya? Lukisan realis-naturalis yang ia buat prosesnya lebih cepat dikerjakan, dan lebih mirip dengan foto. Ternyata gubahan dia banyak peminatnya. Seni lukis realis- naturalis akhirnya mengalami reinkarnasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan printer ukuran besar untuk kesenian, pertama kali dipopulerkan oleh mesin merek Iris model 3024, sebuah anak perusahaan Bedford yang berkantor di Massachusetts. Pertama kali diperkenalkan pada September 1987 di Miami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendekati tahaun 1990, Printer Irish mulai digunakan di lapangan kesenian secara meluas oleh Graham Nash untuk mereproduksi karya foto dalam ukuran besar. Kini di Indonesia, digital printer ukuran besar mulai menggantikan teknik melukis air brush yang dimanfaatkan untuk membuat gambar halus pada baligo, papan rekalame, spanduk, dan lain-lain seperti dapat dilihat di mall. Sampul sebuah majalah, koran, atau tabloid sekarang tidak perlu digambar dengan teknik air brush jika ingin diperbesar. Di cetak printer hasilnya lebih bagus dan pengerjaannya lebih cepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat penemuan digital printer dalam ukruan besar itu, beberapa pelukis yang memerlukan gambar realis-naturalis, seperti wajah orang, tinggal mengolah foto dengan desain komputer, terus di print, jadilah lukisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenian kini bukan lagi sebuah profesi istimewa. Contoh radikal, kencing di trotoar jalan, kemudian dishoot dengan kamera, sudah bisa disebut veideo art. Tapi memang, bukan kesenian kalau tidak nyeleneh.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-2223870609645442147?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/2223870609645442147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/12/estetika-paska-orde-represif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/2223870609645442147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/2223870609645442147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/12/estetika-paska-orde-represif.html' title='Estetika Paska Orde Represif'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-3836881495159364608</id><published>2011-10-30T18:42:00.001-07:00</published><updated>2011-10-30T18:42:09.759-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Pertunjukan'/><title type='text'>Peradaban Lawas dalam Kabuki</title><content type='html'>Teks Doddi Ahmad Fauji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan kabuki disertai arti penjelasan gerakan tariannya di Gedung Kesenian Jakarta, menerangkan sisi beradabnya teater lawas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nonton kabuki? Wah, itu pertunjukan yang membosankan, menjengkelkan, terlalu lamban. Kesan ini sering dilontarkan oleh mereka yang bukan penggemar tari tradisi. Seni pertunjukan kabuki dari Jepang itu, dalam beberapa adegan tarian, memang terlihat lamban. Saya kira sama lambannya dengan beberapa adegan dalam tari bedhaya dari Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan teater kabuki dan tari bedhaya sama lawasnya, diciptakan oleh para seniman terdahulu. Tetapi kabuki telah menjadi kesenian kalsik yang ditempatkan menjadi warisan adiluhung bagi warga dunia. Padanya, terdapat sejumlah intangible value yang telah dirumuskan dan diabadikan dalam karya seni. Karena itu, menonton kabuki dianggap sebagai bagian dari belajar kebudayaan yang beradab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak teater kabuki bukan sekedar menonton kemeriahan kostum penarinya, atau menikmati tata rias wajah dan seting panggung yang glamour. Menonton kabuki sebenarnya sedang menyimak orang-orang Jepang terdahulu dalam bersikap, sebab pada setiap tata artistik termasuk tata gerak tarian, selalu menyimpan simbol sopan santun masyarakat Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini saya kemukakan setelah menyaksikan pertunjukan kabuki oleh Kyozo Nakamura dan Matanosuke, keduanya asli asal Jepang dan amat mumpuni sebagai aktor kabuki. Tentulah sedap menonton kabuki dari penuturnya langsung. Pertunjukan itu dihelat di Gedung Kesenian Jakarta pada 10 Februari lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan yang digelar adalah fragmen-fragmen tarian yang menjadi bagian dari pertunjukan teater kabuki. Ada dua tarian yang digelar, yaitu nomor Sagi Musemu dengan durasi sekira 30 menit, dan tarian Sakeye (Jembatan Batu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kostum yang mewah dan cara aktor mengganti pakaian di atas panggung secara demonstratif, tampak mengagumkan. Para penonton selalu memberikan aplaus begitu sang aktor berhasil mengganti kostum tanpa terlihat kapan melepas yang lama dan kapan mengenakan yang baru. Ia cukup bersembunyi pada sebuah paying, atau merunduk, dan begitu nampak lagi, kostumnya sudah berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabuki disebut kesenian tradisional dengan mutu nilai adiluhung, karena seperti dituturkan di atas, pada setiap elemennya menyimpan simbol-simbol yang berkait dengan nilai-nilai praktis. Juga, gerakan tarian dalam kabuki, mengandung simbol-simbol terkait santunitas dalam bersikap. Penonton yang mengerti simbol-simbol tiap gerakan, akan mengerti jalan cerita yang sedang diusung para penari. Mereka yang tidak mengerti makna tarian kabuki, di Jepang sana pada masa Edo, yaitu masa ketika tarian ini lahir, akan dianggap kurang pendidikan atau kampungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menari nomor Sagi Musume, Kyozo Nakamura mendemonstrasikan dan menerangkan arti dari gerakan-gerakan tariannya. Misalnya cara lengan menunjuk pada diri sendiri bagi perempuan. Adalah berbeda cara menunjuk seorang gadis, seorang ibu cukup umur, dengan seorang nenek. Dari perbedaan cara menunjuk itu saja, seorang penonton dapat mengerti tokoh yang sedang dimainkan itu perempuan berusia berapa, dan tentu seperti apa tindakan yang dianggap santun untuk seusiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian dan rias wajah untuk tiap tokoh juga dibedakan. Dengan demikian, pertunjukan kabuki yang lebih banyak dipresentasikan dalam bentuk tari, bisa dikatakan semacam akumulasi dari gerak pantomim. Di kita, jarang sekali ada penjelasan dari tiap gerakan tarian tardisi apalagi tarian kontemporer, sehingga di negeri kita tarian menjadi kesenian yang sulit dipahami oleh penonton. Tarian hanya sedap untuk ditonton gerakan-gerakannya, tetapi sulit mencerap makna darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja pencipta tarian tradisi di negeri kita hendak menyampaikan makna dan arti pada tiap gerakan yang diciptanya, hanya saja makna dan arti itu tidak pernah dicatat, sehingga lenyap dalam perjalanan waktu. Mungkin saja dalam setiap gerak tari bedhaya itu ada makna tertentu, hanya saja jarang diterangkan baik di sekolah-sekolah atapun di panggung-panggung oleh pemain atau koreografernya. Kelemahan leluhur kita memang jarang mencatat, termasuk mencatatat metode, sehingga kita tidak tahu bagaimana cara membuat candi borobudur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan tradisi di Jepang yang termasuk cukup bagus catatannya. Kabuki bisa dilacak hingga ke pencipta perdananya. Menurut catatan yang mereka miliki, kali pertama kabuki dimainkan pada 1603 oleh Okuni yang bekerja sebagai miko (gadis pelayan) di kuil Shinto Izumi Taisha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap berikutnya, sejak tahun 1962, pemerintah militer melarang wanita mementaskan kabuki seiring dengan perkembangan yang dianggap merusak moral penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabuki, bersama seni wayang dari Indonesia dan 42 kesenian lainnya dari pelbagai penjuru dunia, ditetapkan menjadi maestro warisan seni budaya dunia oleh UNESCO sejak 2005. Nah, pantaslah jika demikian adanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-3836881495159364608?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/3836881495159364608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/peradaban-lawas-dalam-kabuki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/3836881495159364608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/3836881495159364608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/peradaban-lawas-dalam-kabuki.html' title='Peradaban Lawas dalam Kabuki'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-1483464583608452184</id><published>2011-10-30T18:40:00.001-07:00</published><updated>2011-10-30T18:40:29.798-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Pertunjukan'/><title type='text'>Indonesia Kere</title><content type='html'>Mereka hadir dengan pakaian compang-camping untuk merayakan keprihatinan. Tak ada kostum baru yang bagus, yang bekas dan jelek pun tak mengapa. Prihatin, di satu sisi, bisa bermakna derita, namun berkah yang didatangkannya adalah kreativitas yang tidak terbayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pekarangan rumah yang luasnya sekira 200 meter persegi, mereka menari dengan mengenakan kostum tambal-sulam. Semua penari mengenakan kaos hitam, tapi tidak seragam, yang penting hitam. Celananya juga warna hitam, sam tidak seragamnya. Sepatunya beraneka merek dan corak, dari pantopel, boot, hingga cats.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada batang kaki mereka dipajang giring-giring, sehingga selalu terdengar bunyi gemirincing tiap kaki mengentak-hentak. Pada bagian dada dan paha dipasang serabutan rumput. Muka mereka dibikin coreng-moreng. Melihat kostum yang dikenakannya, dan raut mukanya, para penari itu nampak seperti prajurit angkatan darat yang sedang latihan tempur. Apalagi pemimpin grup tari itu membawa tongkat berkepala tengkorak. Rajin meniup peluit tiap kali terjadi perpindahan gerak, makin miriplah seperti serdadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, lima penari yang nampak dari tubuhnya lebih kecil, usianya pasti lebih muda, masing-masing mengenakan topeng. Maka jadilah tarian ini dijuluki tari topeng. Sebenarnya ini tidak bisa disebut tari topeng, sebab para penari yang mengenakan topeng itu tidak memiliki kesadaran untuk berekspresi dengan topengnya. Topeng-topeng itu berhenti sebagai hiasan yang menutupi muka. Jangan pernah membayangkan tari topeng yang dibawakan oleh Rasihan, maestro penari topeng dari Indramayu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tari topeng ini dipentaskan di Studio Mendut, Kabupaten Magelang, pada 5 Agustus ini. Studio Mendut didirikan oleh seniman Sutanto. Pada konstelasi kesenian di Tanah Air, Sutanto dikenal dengan sebutan Tanto Mendut. Dia dan studionya adalah oase di gurun tandus, menjadi kawah candradimuka untuk kelahiran seniman-seniman survive dengan konsep sepi ing pamrih sangkan paraning dumadi (jauh dari pamrih agar bersatu dengan-Nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya cermati, pada pertunjukan tari itu banyak soal tidak berkaitan. Misalnya, syair yang menjadi narasi sekaligus ilustrasi, yang disampaikan dengan cara ditembangkan, berisikan nadom atau pepujian, sedangkan gerak tariannya merupakan tarian tradisi khas Bantul, salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang terkena gempa paling parah pada 27 Mei 2006 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kostum yang lebih tepat untuk tarian perang, ternyata menjadi hiasan artistic untuk tarian yang gemulai. Sedangkan ilustrasi musik, kendangnya menggunakan kendang Sunda, tetapi instrument lainnya menggunakan istrumen musik Jawa. &lt;br /&gt;Untuk pertunjukan yang kurang koheren ini Tanto Mendut menyampaikan argumentasi, “semua itu datang dari mereka, bukan dari kepala saya. Kalau mengikuti keinginan saya, tentu pertunjukan ini akan membutuhkan biaya yang mahal, sebab akan menuntut segalanya ideal,” kata Tanto usai pertunjukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanto menuturkan, pertunjukan tari ini digelar untuk merayakan keprihatinan, terutama setelah gempa mendera daerah Yogya. Gempa terjadi, rekonstruksi dan recovery-nya belum tuntas hingga sekarang. Kita menjadi bangsa yang selalu terlambat. Lebih dari itu, kita menjadi bangsa yang tidak bisa belajar dari pengalaman. Lebih menyedihkan lagi, pemerintah tidak bertanggungjawab sehingga di mana-mana penderitaan nampaknya mutlak menjadi milik masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menghibur diri, dalam pertunjukan teater menghibur diri biasanya menggunakan dialog-dialog parodis, mereka menyanyi dan menari. Sambil melupakan derita, mereka merekayasa benda-benda yang ada. Rumput di sekitar parit disulap jadi bagian dari kostum untuk menari. Intrumen musik yang tersisa dari gempa, diberdayagunakan. Lalu, terian khas Bantul karena dikhawatirkan punah, kemudian diajarkan kepada anak-anak dari Magelang oleh seniman Bantul, dan jadilah tari topeng itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarian itu dipentaskan oleh grup yang menamakan dirinya Paguyuban Mudha Samudra. Penarinya ada 23 orang, para pengrawit (penabuh alat musik) ada sembilan orang, dan seorang penyanyi yang menembangkan narasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tarian topeng, ada juga tarian Badui dari daerah Sawangan. Sebelum pertunjukan dimuali, juru bicara mereka menyatakan tariannya itu diadopsi dari Timur Tengah. Bukan hanya tatanan gerak, tapi juga ilustrasi syairnya yang ditembangkan itu masih sebagiannya memakai bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tarian dan tembang yang diadopsi dari Jazirah Arabia itu, semakin menegaskan, bahwa orang Indonesia ini di sisi lubuk terdalam tetaplah bangsa yang relijius dan berfalsafah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-1483464583608452184?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/1483464583608452184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/indonesia-kere.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/1483464583608452184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/1483464583608452184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/indonesia-kere.html' title='Indonesia Kere'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-3115487063159215865</id><published>2011-10-30T17:40:00.000-07:00</published><updated>2011-10-30T17:40:01.255-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Pertunjukan'/><title type='text'>Tarian Perlawanan Ery Mefry</title><content type='html'>Koreografer asal Sumatra Barat, Ery Mefry, mencipta tari bernuansa tradisi Minang sebagai pernyataan dan perlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks Doddi Ahmad Fauji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LIMA penari mempertontonkan kebolehannya di panggung Bentara Budaya Jakarta (BBJ) pada 23 Agustus 2007 lalu. Mobilisasi gerak yang mereka peragakan bukan sekadar melenggak-lenggok gemulai nan manis, tapi meriah oleh beragam adegan atraktif seperti jumpalitan, meloncat-loncat, meliuk-liuk bak ular, bertepuk rantak, berjingkrak, menendang, memukul, berpelukan, bahkan bermain musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menari sekaligus bermain musik tentulah bukan sesuatu yang baru di dunia seni pertunjukan, namun hal ini jarang dilakukan. Koreografer Ery Mefri asal Sumatra Barat, belakangan ini tercatat sebagai penggubah tarian sekaligus bermusik di dalam karyanya. Tarian di BBJ malam itu merupakan buah koroegrafinya. Sebelunnya, saya pernah menonton koreografi semodel ini di Gedung Kesenian Jakarta pada 2005 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua buah nomor tari yang dihelat, yaitu Ratok Piriang dan Sarikaik Pangka Sangketo. Kedua nomor ini dibingkai dalam Sangketo Piriang dalam Randai. Ditarikan oleh Angga Djamar, Rio Mefri, Gabby Delsa Wahyuni, Intanni Ebi, Maulidya Oktarina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur musik yang dilahirkan lima penari itu digagas dengan mendayagunakan vokal untung melengkingkan jerit kepedihan. Juga, dengan metode tatalu (menabuh) pada tubuh dan kostum yang mereka pakai. Misalnya, para penari itu memakai rok panjang yang longgar sehingga menyerupai sarung. Ketika kaki mereka dilebarkan, rok yang terbentang di antara paha mereka, ditepuk-tepuk dengan telapak tangan, lahirlah bunyi buk buk yang cukup keras dan resiprokal. Pukulannya dilakukan dengan ketukan bermusik, sehingga terciptalah simponi perkusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang saya suka menonton tari, karya para koreografer dari Sumatra Barat terlihat memiliki kekhasan yang mentradisi. Vokabulari gerak silat, rantak tari piring, dan nuansa teater randai, seringkali muncul dalam serangkaian gelaran tari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para koreografer asal Sumatra Barat yang sekarang sedang menjadi buah tutur di percaturan tari Nusantara semisal Ery Mefri, Boi G Sakti, Hartati, Rasmida, Indrayuda, Erwanto, memang kerap membawa unsur tarian lokal ke dalam tariannya yang bernuansa kontemporer. Sebelumnya, tarian kontemporer Nusantara turut disemarakkan oleh koregografer asal Minang, Huriah Adam dan Gusmiati Suid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomor tarian Ratok Piriang yang dikoreografi Ery, jelas-jelas diberangkatkan dari tradisi tari piring yang khas Minangkabau itu. Menurut Ery, tari ini berada di ambang kepunahan, sehingga penggalian kembali semangat tari piring melalui Ratok Piriang, dilakukan misalnya dengan mengadu-adu piring, dan memukul-mukulnya oleh suatu benda. Suara lirik peraduan piring itu diibaratkan sebagai gambaran tradisi Minang saat ini yang sedang tercabik-cabik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun nomor Sarikaik Pangka Sangketo hendak menggambarkan bahwa orang-orang Minang mulai individualis dengan menonjolkan kemampuan diri, dan tak peduli terhadap lingkungan, sangat tidak mencerminkan musyawarah. Petaka darinya bisa diterka, lahirlah sengketa. Tarian ini terinspirasi oleh randai, yakni teater rakyat khas Sumatra Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suguhan Sangketo Piriang dalam Randai memang bukan sekadar menari. Selain memuat unsur musikalitas dalam tarian, juga terkandung semangat perlawanan secara diskursif terhadap dua arah, yaitu melawan seni-budaya Barat yang kian agresif berkampanye lewat beragam pranata komunikasi, dan melawan kealfaan masyarakat yang semakin alfa menggeluti tradisi seni-budaya Minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan bakal tergesernya tradisi bangsa kita oleh budaya Barat yang sering dituding tidak sesuai dengan norma Pancasila, di satu sisi telah melahirkan sikap naïf dari warga ini, tetapi di lain ruang justru menjadi inspirasi bagi para seniman dan budayawan seperti nampak pada gerak Ery itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polemik kebudayaan antara Sutan Takdir Alisjahbana yang mengajak elemen bangsa berkiblat ke Barat supaya bisa diterima sebagai warga dunia, yang kemudian ditapis oleh Sanusi Pane, Ki Hadjar Dewantara, dan lain-lainnya yang menyerukan agar warga berkiblat ke Timur terutama Jazirah Arabia dan India, adalah bagian dari dinamika diskurif bangsa kita dalam menyikapi budaya Barat. Bung Karno pernah melarang budaya ngak ngik ngok Koes Ploes yang berepigon kepada Beatles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seruan Alisjahbana sepertinya mendekati kemenangan di era globalisasi ini. Maka ketakutan akan ketercerabutan akar tradisi bangsa oleh budaya yang lian, yang sering dituding haram karena terlalu liberalis itu, tak pernah kunjung redup, walaupun juga tidak semakin gencar diedarkan menjadi sebuah gerakan kolektif bangsa ini. Di era demokratis ini, mungkin juga tidak perlu mengambil sikap protektif yang membabi buta untuk melawan sesuatu yang dicap barat yang batil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutang gigi dibayar gigi, kata pepatah. Serangan dengan karya seni (oleh Barat) maka sebaiknya dilawan dengan karya seni. Apa yang dilakukan Ery Mefri merupakan perlawanan diskursif dan intelektual, sebagaimana tradisi Sumatra Barat, melahirkan para cerdik-cendekia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-3115487063159215865?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/3115487063159215865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/tarian-perlawanan-ery-mefry.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/3115487063159215865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/3115487063159215865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/tarian-perlawanan-ery-mefry.html' title='Tarian Perlawanan Ery Mefry'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-7038178923608522588</id><published>2011-10-18T21:30:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T21:32:49.116-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Pertunjukan'/><title type='text'>Republik Miskin Akting</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-VUUF6jyP1NA/Tp5SPW0jixI/AAAAAAAABCQ/KYn3kTCrxqY/s1600/anthurium.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-VUUF6jyP1NA/Tp5SPW0jixI/AAAAAAAABCQ/KYn3kTCrxqY/s1600/anthurium.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;sumber foto: oase.kompas.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Teks Doddi Ahmad Fauji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;]Teater Tetas mengangkat absurditas hidup lewat lakon Republik Anthurium, Sungguh miskin dialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru honorer yang sudah 10 tahun mengajar dengan setia, dengan gaji kecil tentunya, terpaksa mencuri bunga antorium. Urusan perut memang bisa memantik revolusi. Di kantor polisi ia membikin kejutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa pekerjaanmu?” tanya polisi.&lt;br /&gt;“Saya guru honorer,” katanya.&lt;br /&gt;“Hah? Seorang guru mencuri?” polisi keheranan.&lt;br /&gt;“Sudah 10 tahun saya menjadi guru honorer, tapi tak diangkat-angkat jadi PNS. Saya menunggu dan terus menunggu dengan setia. Sekarang saya mengerti, kesetiaan itu ternyata tidak ada artinya,” kurang lebih begitulah guru itu menyampaikan pengakuannya sambil terisak-isak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polisi yang memeriksa berpangkat rendah, jujur, dan kerenanya dililit kemiskinan pula. Akhirnya, juga dengan terisak-isak, polisi membenarkan pernyataan sang guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau benar, kesetiaan tidak ada artinya,” kata polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri yang minim jaminan kepastian, kesetiaan adalah jalan untuk melanggengkan kepedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakadilan dalam pelaksanaan hukum dan praktik ekonomi, menjadi akar masalah yang terus menjalar. Kemiskinan hanyalah satu getah, getah-getah lainnya mewujud dalam bentuk krisis multi-dimensional separti yang sekarang kita saksikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teater Tetas melalui lakon Republik Anthurium mempertontonkan ketidakadilan berikut pernik-pernik dan dampaknya, pada 22 – 23 Januari 2008, di Goethe House, Jakarta Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ags Dipayana (kini sudah almarhum) yang menulis naskah, sekaligus menyutradarai pertunjukannya, menampilkan dua wajah kemiskinan di negeri ini. Pertama, wajah murung yang direpresentasikan melalui tokoh guru honorer yang terpaksa mencuri, atau isteri polisi yang terpaksa melacur. Kedua, wajah ceria yang direpresentasikan melalui orang-orang yang dengan mudahnya mengoleksi bunga antorium, padahal harganya jutaan. Selembar daun antorium bisa dihargai ratusan ribu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kondisi seperti ini, bisa ditarik kongklusi, sebuah sistem telah menyebabkan sejumlah orang tambah miskin, tetapi sambil menyulap sedikit orang tambah kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya ampun, puun keladi dibeli 250 rebu perak. Cuman puun gituan, dasar rezeki,” kata seorang warga Betawi. Beberapa warga Betawi masih menanam pohon keladi di pekarangannya. Ada salah satu jenis antorium yang mirip pohon keladi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis naskah yang disampaikan lewat press release, lakon Republik Anthurium&amp;nbsp; merupakan refleksi dari kelangsungan berbangsa dan bernegara yang tatanannya dibangun dengan basis isu. Tatanan politik, budaya, ekonomi, maupun sosial dikendalikan oleh sesuatu yang berada di luar sistem – suatu kekuatan yang tidak tampak – dan perubahan dapat terjadi kapan saja, tanpa terduga sebelumnya. Segala hal menjadi nisbi sifatnya, bahkan juga tata nilai. Pengendali yang tidak nampak itu adalah kekuatan modal, alias kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapitalisme tidak buruk seluruhnya, bahkan rasanya sulit menghindari perputaran modal begitu peradaban manusia memasuki era industrialiasasi. Kecuali kembali ke perekonomian barter, mungkin kelemahan kapitalisme bisa sedikit dieliminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ags Dipayana mengatakan, Republik Anthurium menjadi cermin atas lajunya isu sebagai salah satu penggerak geliat hidup masyarakat. Memang, di tengah kemiskinan, issue atau gossip terasa jadi sedap. Maraknya tayangan infotainment di televisi, merupakan refleksi dari masyarakat yang betah diterlenakan oleh isu dan gosip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah selembar daun antrorium yang harganya mahal, menjadi pengantar untuk menyampaikan sejumlah absurditas yang kompleks di republik ini. Lakon itu dikemas dalam pertunjukan yang berlangsung sekira 75 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleksitas permasalahan diejawantahkan ke dalam bentuk teater yang kompleks pula. Bentuk teater realis formalinstik untuk panggung prosenium yang kita pinjam dari barat, oleh Ags Dipayana dipadukan dengan gaya lenong, dramatari, dan adegan-adegan absurd yang sulit dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada adegan-adegan di mana para aktor berdialog layaknya dalam pertunjukan drama. Di adegan lain, muncul akting sampakan ala teater tradisi. Adegan-adegan dialog berselang-seling dengan sesi pertunjukan tari dan gerak-gerak liar para aktor. Beberapa aktor menyampaikan dialog setelah memeragakan gerak silat.&lt;br /&gt;Saya meresepsi adegan-adegan tari dan gerak yang disajikan, tampak lebih eksotis dari adegan-adegan dialog. Keterlibatan koreografer Elly D Lutan dalam pertunjukan Teater Tetas kali ini, memang turut memperindah mobilisasi gerak para aktor. Sementara adegan-adegan dialog yang seharusnya disajikan dengan penghayatan dan wibawa, terlihat kedodoran, sehingga timbul ketimpangan estetik antara gerak dan dialog. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mengerti, mengapa dalam pertunjukan ini, akting marah lebih sering dipresentasikan dengan suara berteriak, sekalipun suara sang aktor nyaris serak. Apakah aktor-aktor terater sudah terkontaminasi oleh formula akting dalam sinetron, di mana adegan marah seringkali diindikasikan dengan suara lantang, sedang adegan sedih dipresentasikan dengan suara lirih diikuti tangis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi gagasan dan mobilisasi gerak, estetika yang disuguhkan Teater Tetas dalam pertunjukan Republik Anthurium, sudah cukup menghibur. Ada tarian yang sedap ditonton. Tata ilustarsi musik yang digarap Nanang HP, terdengar ritmis dan bertenaga, turut memperkuat eskapistik tata gerak para aktor. Gerak yang bagus ini, merupakan hasil letihan sekira enam bulan. Latihan memang kunci kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terasa masih lemah di dalam pertunjukan itu, atau belum menampakkan greget, sekali lagi, terletak pada adegan dialog. Adegan dialog akan terus menjadi tantangan bagi para penulis naskah dan para aktor. Para aktor teater memang harus terus-menerus bersastra, menafsir puisi, memaknai naskah drama, dan melapalkan dialog dengan penghyatan dan wibawa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-7038178923608522588?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/7038178923608522588/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/republik-miskin-akting.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/7038178923608522588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/7038178923608522588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/republik-miskin-akting.html' title='Republik Miskin Akting'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-VUUF6jyP1NA/Tp5SPW0jixI/AAAAAAAABCQ/KYn3kTCrxqY/s72-c/anthurium.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-7656108105488339458</id><published>2011-10-18T21:11:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T21:11:12.738-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Pertunjukan'/><title type='text'>Teater Kosong Jakarta</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;Press Release&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 HARI 11 MATA DIKEPALA&lt;br /&gt;Naskah/sutradara RADHAR PANCA DAHANA&lt;br /&gt;6 dan 7 Juli 2007 pukul 19.45 wib&lt;br /&gt;Teater Studio Taman Ismail Marzuki&lt;br /&gt;Jl.Raya Cikini 73&lt;br /&gt;Jakarta Pusat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PENGANTAR:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjalani masa vakum cukup panjang dari panggung teater, kecuali beberapa pertunjukan dramatik sastra (terakhir pentas Lalu Batu, di Gedung Kesenian jakarta dan 5 kota di Jawa, 2004), Radhar Panca Dahana akhirnya melakukan come back lewat sebuah pertunjukan teater yang ia tulis, sutradarai dan mainkan sendiri. Bersama sejawat-sejawatnya di Teater Kosong (angkatan ke-7), ia akan membawakan sebuah suguhan yang mengintegrasikan seluruh kekuatan artistik seni lainnya, dari mulai fotografi hingga arsitektur, dari akting hingga sinematografi, di atas panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pertama kali terlibat dalam pertunjukan teater bersama Teater Gombong sebagai Roberta dalam drama Jack dan Penyerahan (GR Bulungan, 1979) bersama grupnya—termasuk yang terdahulu, Teater Aquilla dan teater Telaga—radhar sudah memenataskan 30-an panggung teater. Termasuk eksperimen laboratorisnya di Depok selama lima tahun bersam 15-an anggota kelompoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ia menerbitkan beberapa bukunya tentang teater. Mendirikan dan memimpin Federasi Teater Indonesia sambil menuliskan pengamatan dekatnya pada perkembangan teater Indonesia mutakhir. Dari semua jejak itulah, ia setahun belakangan mempersiapkan gagasan pertunjukan anyarnya, sebagai sebuah “surprise” (apa maksud tersembunyi di balik ini) kepada para kolega, rekan-rekan pekerja teater dan masyarakat umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hasil perenungannya setelah aktip dalam hidup kesenian sepanjang hampir 30 tahun: sebuah pandangan yang coba memberi alternatif bagi pemahaman atau cara pandang kita melihat manusia dan hidup di sekitarnya. Sebuah drama yang mengubah panggung bukan lagi sebagai mimesis atau representasi kenyataan belaka, tapi membentuknya kembali dan realitas barunya yang berlapis-lapis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SINOPSIS:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak tragedi, ironi juga komedi. Bukan cuma bagi dan dalam manusia. Tapi semua yang ada: sayur, kursi, kecoa, air susu yang tumpah atau sekedar nafsu seks yang gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bisa di satu tempat atau sekaligus di berbagai tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI RUANG TIDUR: Hajjira, pekerja toko, juga pekerja seks komersial, melihat ruang tidurnya setiap hari selalu berubah. Hal itu membuatnya cukup tenteram, karena dunia luar yang dijalaninya telah membuat ia seperti angkotan kota yang ditilang begitu keluar dari jalur atau line-nya. Hingga satu kali ia melihat tikus mati di lubang wastafelnya: segalanya berubah. Ruang tidur itu tak lagi berubah namun selalu berada dalam cuaca yang sama: kecemasan bahkan ketakutan, suatu saat Hajjira akan menemukan dirinya tersesat dalam lubang wastafel dan ia tak mampu mengubah dunia dalam kepalanya: lorong wastafel itu, untuk selamanya. Ruang tidur menjadi neraka monotoni dan dunia luar hanya ilusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI DAPUR: Mari, penari balet yang menikah dengan seorang pegawai kantor kepolisian. Suaminya mati karena salah tembak, disangka polisi hanya karena jaket yang dikenakannya. Setelah itu, mari selalu berusaha di dapur, menyibukkan diri, menyiapkan segala hal untuk suaminya yang akan berangkat pergi atau pulang dari kantor. Ia bersih-bersih, mencuci, memasak dan bicara, seakan suaminya ada di dapur, meruang bahkan adalah dapur itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI WARUNG: Solar dan sonar duduk di sebuah warung kopi, yang satu menikmati kopi, satu menikmati yang sedang menikmati kopi. Yang satu menghisap rokok, satunya menikmati yang menghisap rokok. Yang satu bicara, yang satu bicara tentang yang sedang bicara. Satu lelaki satu perempuan. Keduanya bertukar sapa, mengaku sumai dan istri. Yang satu duduk satu pergi. Yang satu pergi satu duduk. Mereka bertemu. Mereka tak pernah bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kejadian berlangsung dimana-mana. Dimana ruang tercipta dan waktu “bermain” di dalamnya. Tak ada aktor, karena semua adalah pelaku, pelakon (manusia, bangku, cahaya lampu atau tikus di wastafel). Semua bisa berjuktaposisi, bisa beroposisi, bisa berkontemplasi, bisa apa saja. Dalam sebuah panggung yang memungkinkan apa pun yang diinginkan terjadi. Dan&amp;nbsp; ada tak ada relasi, bukan soal lagi. Semua berrelasi sekaligus mengingkarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KONSEP PERTUNJUKAN:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan ini dikreasi berdasarkan pemahaman teater kini tidak lagi dapat mewakili realitas secara apa adanya. Bahkan sebenarnya ia tak mewakili realitas itu sama sekali. Tidak terjadi mimesis sebagaimana secara klasik dipahami oleh sejarah teater terutama oksidental selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan karena teater itu berubah atau terdapat kesalahan pemaknaan. Tapi karena realitas itu sendiri yang berubah. Dan seni, sebagaimana terjadi sejak dulu adalah anjing setia yang mengikuti kemanapun hidup itu pergi. Hidup itu berubah. Lebih tepatnya diubah. Ia tidak lagi dalam pemaknaan tradisionalnya. Setiap hidup, dalam jengkal ruang manapun, tidak lagi memiliki makna sebagaimana yang ada di dalamnya sendiri, sebagaimana yang ia kehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia ada dan bermakna sejauh mata yang memandang, hati yang merasakan, dan akal yang merumuskannya. Realitas adalah mata. Barangkali realitasnya itu-itu saja, hanya satu,tapi ada sejuta mata yang melihatnya: maka iapun berubah menjadi sejuta. Setiap keadaan (waktu yang memuai susutkan ruang) kepentingan, latar sosio-kultural, dunia pikiran hingga cita rasa kuliner, bisa menggubah kenyataannya sendiri-sendiri, dari satui hidup yang tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah doublu double burger dengan sekian lapisan kenikamatan, yang sayang junk dan artifisial. Jangan mencoba menelannya sekaligus, jika tak kemudian anda menjadi makhluk dengan kepenuhan kontaminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi itulah manusia melangkahkan perginya. Teater menrjemahkan dirinya. Menerjemahkan hidup yang tak pernah selesai ditafsirkan. Memberi manusia sekian (bahkan terlalu banyak) pilihan, dan seseorang hanya dapat mengambilnya satu-dua. Yang lainnya tinggal sebagai obskuritas bahkan chaos. Dan panggung teater adalah chaos (signikansi) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda tetap akan meraih signifikansi itu, lakukanlah tanpa dengan jiwa dan pikiran tertekan. Nikmatilah seperti anda menikmati segelas anggur, sup yang sedap plus alunan bossas yang meringankan badan. Nikmati pertunjukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;ARTISTIK:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemain&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Krisniati Marchelllina, Yudarria, Jeffry Djakatara&lt;br /&gt;Panggung&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Nobon&lt;br /&gt;Cahaya&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Reno Azwir&lt;br /&gt;Musik&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Jalu G.Pratridina&lt;br /&gt;Kostum&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Yudarria&lt;br /&gt;Tata rias&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Ratna Kosong&lt;br /&gt;Stage manager&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Anto Ristagi&lt;br /&gt;Karya/sutradara&amp;nbsp; : Radhar Panca Dahana&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-7656108105488339458?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/7656108105488339458/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/teater-kosong-jakarta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/7656108105488339458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/7656108105488339458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/teater-kosong-jakarta.html' title='Teater Kosong Jakarta'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-7824037169400827087</id><published>2011-10-18T20:39:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T21:03:24.215-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Pertunjukan'/><title type='text'>Teater Geger Cilegon</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-LBmXQRsMipA/Tp5Gf6MTIGI/AAAAAAAABAY/V5JcMKX7dCM/s1600/bicaralah.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-LBmXQRsMipA/Tp5Gf6MTIGI/AAAAAAAABAY/V5JcMKX7dCM/s400/bicaralah.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto Agus Bebeng&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Teks Doddi Ahmad Fauji&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Pemberontakan petani Banten tahun 1888, diangkat ke dalam pertunjukan oleh Teater Studio Indonesia. Pertunjukan yang membuat bulu kuduk merinding.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Musik etnik Sunda buhun (klasik) mengalun, menandai dimulainya pertunjukan. Perlahan lampu panggung terang, dan terlihatlah kain putih membentang, menutupi seluruh panggung.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kain itu ditarik perlahan-lahan. Nampaklah kepala beberapa aktor yang tubuhnya terkubur dalam tanah. Juga ada cangkul dan parang yang menancap pada tanah itu. Usai seluruh kain ditarik, mulailah para aktor berakting. Mereka bangkit dari kuburnya, dan berjalan perlahan-lahan layaknya zombie, menuju ke hadapan penonton. Dengan suara yang bergetar, para aktor berujar, “Bicaralah Tanah! Bicaralah cangkul! Bicaralah parang! Bicaralah ladang!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-n1y1p9wUu1Y/Tp5JrQD2vdI/AAAAAAAABBY/xKFcoKrEeGU/s1600/IMG_8053.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/-n1y1p9wUu1Y/Tp5JrQD2vdI/AAAAAAAABBY/xKFcoKrEeGU/s400/IMG_8053.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto Iman Nitnet&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pertunjukan ini tidak berlangsung di panggung prosenium gedung pertunjukan. Tapi pada sebuah pekarangan kantor salah satu radio swasta yang ada di Banten. Batas antara penonton dan pemain, ditandai dengan tanah merah dan lumpur basah yang ditaburkan di lantai pekarangan. Di bagian belakang panggung, ada instalasi berupa kerangkeng bambu gelondongan. Para penonton, ada yang duduk di kursi, ada yang duduk lesehan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kerangkeng bambu tadi bersifat multi fungsi, sekaligus multi tafsir. Bisa diandaikan sebagai rumah, bukit, atau apapun. Sebagian pertunjukan, berlangsung di kerangkeng bambu ini. Para penabuh musik, ditempatkan di bagian paling atas kerangkeng bambu itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-s1SLgRgDDHg/Tp5Kl5w__WI/AAAAAAAABBk/kKPLh9TlZsw/s1600/IMG_8071.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-s1SLgRgDDHg/Tp5Kl5w__WI/AAAAAAAABBk/kKPLh9TlZsw/s400/IMG_8071.jpg" width="266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto Iwan Nitnet&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Setelah mengucapkan salam pembuka berupa kalimat&amp;nbsp; “Bicaralah Tanah! Bicaralah cangkul! Bicaralah parang! Bicaralah ladang!” kini para pemain memasuki suasana ritual. Mereka melaburi tubuhnya dengan lumpur. Muka dan rambutnya juga disapu dengan lumpur, sehingga mereka kini mirip manusia purba yang muncul dari kegelapan. Dengan pakaian compang-camping, mereka menari dan menyanyi. Sambil menenteng parang atau kelewang, mereka berbanjar dan maju perlahan ke depan panggung. Di ujung panggung, parang itu dihunus ke arah penonton, sambil berteriak, “Bicaralah Tanah!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-QzVmE2w5gYo/Tp5Iu4Q0q0I/AAAAAAAABBA/JsS1obrwZI4/s1600/IMG_8166.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-QzVmE2w5gYo/Tp5Iu4Q0q0I/AAAAAAAABBA/JsS1obrwZI4/s400/IMG_8166.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto Iman Nitnet&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Seorang penonton, masih bocah balita, menjerit melihat hunusan parang itu, dan lari ke pangkuan ibunya. Perkusi menghentak-hentak, ditalu oleh Rohaendi dan kawan-kawannya, berusaha menghadirkan suasana yang mencekan. Misterius. Seperti tersihir, bulu kuduk saya jadi berdiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Itulah sekuel pembuka pertunjukan Bicaralah Tanah (Pemberontakan Petani Banten) yang diusung oleh Teater Studio Indonesia pada 11 – 13 Juli 2007 lalu, di Teater Terbuka Radio Dimensi, Jl. Raya Taktakan No. 12, Kota Serang. Naskah ditulis oleh Nandang Aradea, diangkat dari cerita nyata pemberontakan petani Banten kepada pemerintah kolonial liberal Belanda yang terjadi pada 9 Juli 1888. Pertunjukan sekaligus disutradarai oleh Nandang Aradea.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kini para aktor berperan sebagai petani. Gemuruh dan amarah, membuncah-buncah di dada mereka. Berlabur lumpur, dengan tampang garang, mereka mendatangi kumpeni (yang diandaikan bermukim di kerangkeng bamu tadi). Seraya mengacung-acungkan parang, para petani berteriak, “Keluar kafir!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-bQ1cE7E5qaY/Tp5JA6OR3nI/AAAAAAAABBI/0rbaXINo2zw/s1600/IMG_8180.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://4.bp.blogspot.com/-bQ1cE7E5qaY/Tp5JA6OR3nI/AAAAAAAABBI/0rbaXINo2zw/s400/IMG_8180.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto Iman Nitnet&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pemberontakan kemudian berkobar. Perang meletus antara kumpeni versus inlander (kolonialis Belanda melawan pribumi). Darah tumpah. Tubuh rebah.&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-XYxZ7-bL340/Tp5GqpMipWI/AAAAAAAABAg/o7cPDGg9xGw/s1600/blogs%252BBicaralah%252BTanah%252B%252813%2529.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-XYxZ7-bL340/Tp5GqpMipWI/AAAAAAAABAg/o7cPDGg9xGw/s400/blogs%252BBicaralah%252BTanah%252B%252813%2529.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto Argus Firmansyah&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pertunjukan ini berlangsung di Kota Serang yang menjadi Ibukota Provinsi Banten. Daerah Banten, terkenal dengan atraksi debus dan praktik pelbagai ilmu klenik. Nuansa debus itu, disajikan dalam pertunjukan ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Mereka yang selalu miris kalau menyaksikan atraski debus, maka menonton pertunjukan teater di Tanah Jawara itu, bisa meringis. Saya sendiri merinding ketika melihat para aktor, menghantam-hantamkan parang dan kelewang ke mata cangkul yang sedang dipanggul oleh rekannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Bayangkan seseorang sedang memanggul cangkul. Mata cangkul berada di punggung orang itu. Lalu orang yang ada dibelakangnya, memukuli mata cangkul dengan kelewang atau parang, sementara mereka semua bergerak-gerak menari di atas lumpur. Bila ada pemain yang terpeleset karena lumpur memang becek, bisa saja pukulan parang itu meleset, dan menghantam punggung pemain. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di adegan lain, seringkali para pemain mengacung-acungkan parang atau kelewang itu ke arah penonton. Saya jadi paranoid. Takut kalau-kalau lengan aktor yang basah oleh lumpur, tidak kokoh saat memegang gagang parang yang licin itu. Bisa saja cengkraman lepas, dan parang terlempar ke arah penonton. Tapi segera saya tersadar, ini pertunjukan berlangsung di Negeri Debus, di mana kekerasan dirayakan sebagai hiburan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sekira 100 menit pertunjukan itu menggelinding.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-bY5NSkQGRr8/Tp5HbTKD5dI/AAAAAAAABAs/OZCO_efgUy4/s1600/blogs%252BBicaralah%252BTanah%252B%252811%2529.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-bY5NSkQGRr8/Tp5HbTKD5dI/AAAAAAAABAs/OZCO_efgUy4/s1600/blogs%252BBicaralah%252BTanah%252B%252811%2529.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto Argus Firmansyah&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Menjelang akhir pertunjukan, kaki salah seorang aktor berdarah. Darah beneran. Usai pertunjukan, aktor bernama Budi W Iskandar itu langsung dilarikan ke rumah sakit.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Adanya kecelakaan di atas panggung, bukan mustahil terjadi dalam dunia pertunjukan. Sering saya temui penari yang karena bergerak terlalu atraktif, ia kehilangan keseimbangan, sehingga nyaris terperosok seusai salto. Penyair Hamid Jabbar yang sering membaca puisi dengan tarian atraktif gaya tarian randai Minang, meninggal di podium saat membaca puisi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kecelakaan di atas panggung, tentulah tidak diharapkan terjadi. Memang, bukan hanya pita suara yang harus diolah, tubuh juga harus digojlok supaya para aktor memiliki plastisitas tubuh yang bagus. Apalagi konsep pertunjukan yang diusung Nandang Aradea berusaha mengadopsi konsep teater Meyerhold, dramawan dari Rusia yang mencetuskan teater biomekanik.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Melalui buku The art of conscious theater, Meyerhold membayangkan tubuh manusia itu bisa berfungsi seperti mesin yang bekerja tanpa kesalahan. Tapi itu utopia yang gila, sebab mesin saja bisa macet, apalagi tubuh manusia. Maka terjadilah kecelakan seperti yang dialami oleh aktor Budi W Iskandar di malam terakhir pertunjukan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pertunjukan Bicaralah Tanah diperankan oleh Farid Ibnu Wahid, Budi W Iskandar, Dian Sucintra, Arip FR, Remaya Simanjuntak, Ina Ayu Agustina, Ade Fitri, dan Iroh Munawaroh. Para aktor yang rata-rata masih mahasiswa itu, belum matang benar untuk bermain dengan konsep Meyerhold.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Bukan hanya kecelakaan yang dialami Budi, yang menjadi indikasi beberapa aktor belum matangan, belum memiliki jam terbang yang tinggi. Pada adegan menari dan menyanyi, yang porsinya mencapai 65% dari durasi pertunjukan, memperlihatkan garapan ini masih harus dipoles keras, diampelas, sehingga menjadi suguhan yang melodius dan ritmis, sebagaimana tarian dan nyanyain purba yang khusyuk, meditatif, dan inspiratif.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-bNqNab5h6Gg/Tp5Hl4aXClI/AAAAAAAABA0/bxyYRNzf_0A/s1600/blogs%252BDSCF8906%252Bokay.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-bNqNab5h6Gg/Tp5Hl4aXClI/AAAAAAAABA0/bxyYRNzf_0A/s1600/blogs%252BDSCF8906%252Bokay.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto Argus Firmansyah&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Nandang Aradea, sebagai sutradara, punya bekal untuk menggarap Bicaralah Tanah menjadi lebih memikat. Ia berpengalaman menggarap pertunjukan-pertunjukan beraksen primitif, arkais, lampau, lawas-tilawas. Ia besar di lingkungan pertanian Ciamis. Jadi tubuh masa kecilnya memang akrab dengan lumpur. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sewaktu kuliah di IKIP Bandung (kini namanya UPI), ia menjadi aktivis teater, dan pernah ikut acting course yang diselenggarakan Studiklub Teater Bandung, yang waktu itu masih dipimpin alm Suyatna Anirun. Tahun 1996, untuk pertamakalinya Nandang menggarap pertunjukan primitif dalam lakon Reportase Ladang-ladang yang naskahnya ditulis Deden Abdul Aziz.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Saya ikut main dalam pertunjukan yang digelar di pekarangan gedung itu. Kebetulan musim penghujan. Jadi, terasa khusyuk bermain teater di bawah siraman gerimis. Lumpur melekat di tubuh. Bergelantungan pada bambu dan tambang yang licin, menjadikan pertunjukan itu sebagai permainan purba. Manusia memang homo ludens (makhluk bermain). Suasana ludens ini yang diulang Nandang pada pertunjukan Perahu (2006) di Universitas Tirtayasa Serang, dan&amp;nbsp; Bicaralah Tanah.&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-3d1pcGb4Drc/Tp5JVWQ5LuI/AAAAAAAABBQ/vR-jYBdPva0/s1600/IMG_8414.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://3.bp.blogspot.com/-3d1pcGb4Drc/Tp5JVWQ5LuI/AAAAAAAABBQ/vR-jYBdPva0/s320/IMG_8414.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto Iman Nitnet&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sewaktu menjadi guru Bahasa Indonesia di Sekolah Indonesia Moskwa, Rusia, ia juga ternyata mempertontonkan teater yang aktor-aktornya berlabur lumpur. Sekira tiga tahun Nandang bermukim di Rusia, yang semakin mengukuhkannya untuk menggarap teater-teater primitif yang dalam bahasa Meyerhold disebut biomekanik itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Lakon Bicaralah Tanah akan dipentaskan lagi pada 3 Agustus 2007 di Pusat Kebudayaan Perancis Bandung, dan 20 Agustus di Pusat Kebudayaan Rusia Jakarta. Seandainya saya berkesempatan lagi menonton, tentu saya berharap petunjukan revans itu akan lebih berkecamuk, dan dapat menggambarkan kedahsyatan pemberontakan petani Banten.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pemberontakan itu menelan korban ribuan nyawa. Berkobar karena dipicu oleh tiga soal. Pertama, berjangkitnya wabah yang mematikan hewan ternak, terutama kerbau, yang membuat hasil pertanian di Banten jadi jore (jelek). Kedua, pada 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau yang berdiri anggun di Selat Sunda, meletus dengan menewaskan puluhan ribu jiwa, membuat pertanian di Banten benar-benar paceklik.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-F3ukF8vY-UQ/Tp5K7KHzO8I/AAAAAAAABBs/t0CWIRNMy3A/s1600/IMG_8418.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-F3ukF8vY-UQ/Tp5K7KHzO8I/AAAAAAAABBs/t0CWIRNMy3A/s400/IMG_8418.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto Iwan Nitnet&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ketiga, di tengah kondisi petani yang semakin pailit, sumbu amarah mereka seperti disulut oleh pengutipan pajak yang tidak bijak. Pemerintah kolonialis liberal Hindia Belanda yang bangkrut setelah Perang Jawa (Diponegoro, 1825 – 1830) dan Perang Padri (Imam Bonjol, 1821 – 1837), memang mengutip pajak yang tinggi. Bahkan Gubernur Jenderal Van den Bosch menerapakan konsep cultuur stelsel (tanam paksa), di mana Belanda setiap tahunnya mengeruk kekayaan Nunsatara mencapai 2.5 juta Gulden.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-HdOrA7OC_OY/Tp5LKpK4FYI/AAAAAAAABB0/Fs0AE-iikBI/s1600/IMG_8456.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-HdOrA7OC_OY/Tp5LKpK4FYI/AAAAAAAABB0/Fs0AE-iikBI/s320/IMG_8456.jpg" width="213" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto Iwan Nitnet&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Memang cultuur stelsel dihapuskan pada 1870, namun pengutipan pajak terus berlanjut, dan tidak mengenal kondisi, termasuk di Banten yang sedang morat-marit.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Semenjak runtuhnya kesultanan Banten, terjadi sejumlah pemberontakan yang sebagian besar dipimpin oleh tokoh-tokoh agama. Seperti, pemberontakan di Pandeglang pada 1811 yang dipimpin Mas Jakaria. Lalu peristiwa Cikande Udik pada 1845, pemberontakan Wakhia pada 1850, peristiwa Usup pada 1851, peristiwa Pungut pada 1862, kasus Kolelet pada 1866, kasus Jayakusuma pada 1868, dan yang paling populer adalah Geger Cilegon yang dipimpin oleh Ki Wasid.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Geger Cilegon terjadi pada 9 Juli 1888. Tragedi ini pernah ditulis dengan bernas oleh sejarawan Sartono Kartodirdjo, dan dibukukan dalam Pemberontakan Petani Banten 1888 (Pustaka Jaya, 1984). Pemberontakan memang berlangsung di daerah Cilegon. Karena itu, tragedi ini dikenal dengan Geger Cilegon.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sebelum menulis naskah, Nandang Aradea, mengadakan penelitian selama lima bulan, bekerja sama dengan Konsorsium Pembaharu Banten.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8opZi4zLtI4/Tp5Lc0eCUPI/AAAAAAAABB8/BohFDXw0w3A/s1600/IMG_8573.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/-8opZi4zLtI4/Tp5Lc0eCUPI/AAAAAAAABB8/BohFDXw0w3A/s400/IMG_8573.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto Iwan Nitnet&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sebagai catatan penting, lakon dalam pertunjukan ini semestinya banyak mengutip diksi atau simbol-simbol Geger Cilegon. Bahkan selama pertunjukan berlangsung, saya tidak mendengar diksi populer yang sering diucapkan para kumpeni, yang membikin leluhur kita jadi minder: inlander!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-P-SYGrXs1to/Tp5LqRaeoRI/AAAAAAAABCE/zx55qb827LQ/s1600/agus_bebeng__4_.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://3.bp.blogspot.com/-P-SYGrXs1to/Tp5LqRaeoRI/AAAAAAAABCE/zx55qb827LQ/s640/agus_bebeng__4_.jpg" width="424" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto Agus Bebeng&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;*** Tulisan ini pernah diterbitkan di almarhum Tabloid Koktail (tabloid seni budaya dan folklore yang diterbitkan oleh grup Jurnal Nasional)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-7824037169400827087?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/7824037169400827087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/teater-geger-cilegon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/7824037169400827087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/7824037169400827087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/teater-geger-cilegon.html' title='Teater Geger Cilegon'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-LBmXQRsMipA/Tp5Gf6MTIGI/AAAAAAAABAY/V5JcMKX7dCM/s72-c/bicaralah.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-5231300481585172980</id><published>2011-10-17T22:47:00.000-07:00</published><updated>2011-10-17T22:47:10.955-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Pertunjukan'/><title type='text'>Hamlet ala Teater Aristokrat</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Teks oleh Doddi Ahmad Fauji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teater Aristokrat memainkan lakon Hamlet di TIM. Lumayan menghibur walau masih kurang greget di beberapa adegan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah karya William Shakespeare bisa menjadi jaminan sebuah pertunjukan teater yang digelar, bakal enak ditonton. Ini hanya sebuah asumsi. Memang, naskah yang bagus, bisa memancing para aktor untuk berperan dengan bagus pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi itu tidak meleset ketika Teater Aristokrat mempertontonkan lakon Hamlet yang merupakan mahakarya penulis drama asal Inggris itu. Pertunjukan Hamlet berlangsung di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, pada 7 – 9 November 2007 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan itu berlangsung sekira 345 menit (empat jam kurang seperempat). Ada parameter konvensional untuk menakar sebuah pertunjukan teater dinilai bagus atau tidak, berkenan atau membosankan penonton. Pertunjukan teater yang kurang bagus, biasanya membuat penonton tertidur, dan atau satu per satu meninggalkan gedung pertunjukan. Namun, pertunjukan yang disutradarai Ucok R Siregar itu tidak membuat penonton beranjak dari gedung. Dalam beberapa adegan, terdengar tawa penonton. Ini menjadi indikasi, penonton merespon pertunjukan dengan keterlibatan yang intens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekira dua hari sebelum menonton pertunjukan ini, seorang teman saya berkata, “ngapain nonton Teater Aristokret, permainan mereka kan tidak bagus.” Setelah menonton Hamlet yang mereka bawakan itu, praduga teman saya tidak tepat. Memang, publik teater stakat ini sedang underestimate terhadap kualitas akting para aktor teater. Kualitas akting makin memburuk drastis bila dibandingkan dengan era Arifin C. Noer, Rendra, Suyatna Anirun, Adi Kurdi, Jim Adilimas, Teguh Karya, Putu Wijaya, Riantiarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada harapan bahwa aktor teater, juga film, akan kembali bertumbuh dengan kualitas yang bisa diandalkan dan benar-benar memikat untuk ditonton. Setidaknya dalam pertunjukan Hamlet, akting Ayez Kassar (pemeran Hamlet), Robinsar H Simanjuntak (Raja Claudius), Epy Kusnandar (Polonius), Ari Kusuma (Ratu Getrude) masih menyajikan akting yang nikmat ditonton. Keempat aktor inilah yang sanggup menjaga irama dari awal hingga akhir, sehingga pertunjukan berjalan stabil. Keempat aktor ini kebetulan menjadi tokoh sentral yang sering muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh sentral yang juga cukup penting, yaitu Ophelia yang diperankan Rosita memang kurang muncul. Beberapa adegan kunci seperti ketika Ophelia menjadi gila, kurang gereget diperankan oleh Rosita. Ada juga aktor yang melafalkan dialognya terlalu cepat, sehingga suaranya terdengar bergulung-gulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akting paling menghibur adalah yang dimainkan oleh Epy Kusnandar. Banyak-banyaklah ia memerankan adegan-adegan konyol yang humoris. Saya menduga, ada sejumlah akting improvisasi yang dilakukannya untuk menambah daya humor. Improvisasi bukan sesuatu yang haram dalam dunia akting, apalagi sejauh improve itu dilakukan untuk menyelamatkan kecelakaan pentas. Ada sutradara yang mengharamkan improvisasi. &lt;br /&gt;Tetapi untunglah, improvisasi Epy Kusnandar masih terukur, sehingga tidak menciderai pertunjukan teater realis yang membutuhkan kecermatan dan ketepatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan Teater Aristokrat memang di luar dugaan saya yang sudah terlanjur ikut-ikutan underestimate. Pertunjukan mereka membuka memori saya pada pertunjukan Julius Caesar, juga lakon gubahan Shakespeare, yang dimainkan Studiklub Teater Bandung (STB) pada 1997. Saat itu, Julius Caesar dimainkan STB dengan sutradara Suyatna Anirun. Naskah Julius Caesar sangat kontekstual dengan kondisi sosial-politik di Tanah Air. Saya merasa terserap oleh jalan cerita yang didedahkan Shakespeare. Konflik batin dalam setiap tokoh, berhasil dibawakan oleh para aktornya, membuat tontonan tiga jam tidak terasa berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah-nasakah yang digubah Shakespeare, terutama yang bersifat tragedi memang memiliki nilai universal. Meski naskah itu berkisah tentang peradaban manusia berberapa abad yang sudah lewat, namun selalu terasa aktual dan kontekstual sekalipun jaman telah berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inggris pernah didera krisis di masa Hitler berjaya dan nyaris menduduki Istana Birmingham. Biaya perang cukup besar. Mempertahankan peradaban juga butuh biaya besar. Penguasa Birmingham bertanya kepada anggota parlemen, apakah dana kita yang minim akan digunakan untuk mempertahankan India sebagai daerah koloni atau mempertahankan keharuman Shakespeare. Parlemen memilih Shakespeare. Maka naskah-naskah Shakespeare pun terus digali dan dipromosikan, hingga terkenal ke seluruh penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shakespeare (1564 – 1616) adalah dramawan paling populis sepanjang abad. Kehadirannya langsung meruntuhkan dominasi para penulis naskah teater klasik dari Yunani seperti Homers atau Aristophanes. Sebelum bermunculan naskah Shakespeare, para penulis Yunani adalah referensi naskah paling sering dimainkan untuk pertunjukan teater. Lakon-lakon Shakespeare kini belum tertandingi popularitasnya, sehingga menjadi lakon paling banyak dipanggungkan maupun difilmkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan Hamlet oleh Teater Aristokrat, nampak sudah berusaha diselenggarakan dengan pendekatan sosio-kultur seperti yang diamanatkan Shakespeare. Seting Eropa dalam lakon Hamlet, berusaha diwujudkan dalam pertunjukan ini. Hal itu terlihat pada artistik panggung, kostum, ilustrasi musik, tarian, dan gesture bangsawan yang semuanya mencitrakan peradaban Eropa di abad pertengahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi musik dihadirkan dalam bentuk orkestrasi gitar. Penata musik Amra Reza, mengadirkan lebih dari 10 pemetik gitar klasik. Permainan musik itu sendiri, sudah bisa menjadi konser yang merdu untuk didengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari awal hingga akhir, pertunjukan Hamlet oleh Teater Aristokrat, berhasil menemukan bentuk baku. Ini wajar, toh personel Teater Aristokrat adalah mahasiwa dan dosen yang belajar-mengajar teater di Jurusan Teater, IKJ. Tentulah ada bagian-bagian yang perlu mendapat perhatian dan perbaikan seandainya lakon ini kembali dimainkan, yaitu pada kata-kata atau kalimat-kalimat kunci yang menjadi sumber konflik. Harus selalu disadari, hakikat sebuah drama (naskah teater) terdapat pada konflik yang dijalinnya. Beberapa konflik menjadi kurang tajam dalam pertunjukan ini, karena kurang mendapatkan penegasan melalui pelafalan atau gerak tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai misal, pura-pura gilanya Hamlet, kurang diperankan dengan liar oleh Ayez. Hamlet dalam keadaan normal dan gila, belum nampak berbeda secara kontrastif. Kontrastif berperan ini menjadi bagian dari konflik itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shakespeare adalah rajanya merajut konflik, dan membuat cerita berbingkai yang tetap tanpa kehilangan konflik. Karena itu, untuk para aktor teater yang memang benar-benar ingin menjadi aktor profesional, harus pernah merasakan bermain teater dengan lakon gubahan Shakespeare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Koktail (sekrang tabloid ini sudah tutup usia).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-5231300481585172980?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/5231300481585172980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/hamlet-ala-teater-aristokrat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/5231300481585172980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/5231300481585172980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/hamlet-ala-teater-aristokrat.html' title='Hamlet ala Teater Aristokrat'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-645605089889512478</id><published>2011-10-17T22:26:00.000-07:00</published><updated>2011-10-17T22:30:38.357-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Pertunjukan'/><title type='text'>Tugas Teaterawan Ikut Memperbaiki Film dan Sinetron</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-YipbreXkbBI/Tp0O2kennoI/AAAAAAAABAE/oHfA7G_6FLU/s1600/Festival-Teater-di-Jakarta.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-YipbreXkbBI/Tp0O2kennoI/AAAAAAAABAE/oHfA7G_6FLU/s1600/Festival-Teater-di-Jakarta.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;FTJ 2009, sumber foto: &lt;span class="rg_ctlv"&gt;&lt;span id="rg_hr"&gt;vibizdaily.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Seni teater, film, dan sinetron seakan menjadi tiga dunia yang terpisah-pisah. Padahal sumbernya sama, yaitu seni pemeranan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEGAWATI Soekarnoputri ketika menjabat Presiden berujar seperti ini, “dengan merem saja saya bisa tahu film yang sedang ditayangkan itu film India atau film China.”&lt;br /&gt;Komentar Ibu Mega berhenti sampai di situ. Tetapi sebenarnya, apa yang hendak disampaikannya, tidak diucapkan oleh Megawati. Komentar itu disampaikan Presiden seusai menonton film di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden ingin mengatakan, karya sinematografi kita kehilangan atribut diri, sehingga susah untuk diidentifikasi. Lain dengan film India atau China yang ilustrasi audionya kental dengan warna musik tradisi. Karena itu, sambil memajamkan mata pun, film India atau China masih bisa dikenali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Megawati itu mengandung isyarat bahwa kualitas sinetron yang mewarnai televisi kita, terutama pada prime time, masuk ke dalam kategori buruk. Sebenarnya bukan hanya seorang Presiden yang memiliki penilaian kurang memuaskan terhadap sinetron kita. Ada banyak masyarakat, seniman, budayawan, bahkan pelaku sinematografi sendiri yang meresahkan dunia sinetron kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang film dan sinetron terlalu menggampangkan akting, sehingga yang terjadi adalah pendangkalan estetika. Naskahnya juga, tidak menantang para aktor untuk berakting dengan segala kewajaran, maka yang terjadi adalah seperti apa yang kita saksikan sekarang ini di televisi,” kata Putu Wijaya, sutradara Teater Mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak ada sinetron, saya sudah resah. Apa yang ditawarkan sinetron itu kebanyakan tidak berguna. Merusak moral anak-anak muda,” keluh Rusmiati, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah III, Pondokcina, Depok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suka ada adegan berantem, pacaran, banyak yang aneh-aneh,” tutur Putri Pradnyaningrum, siswi kelas 2 MTS Negeri 4, Srengseng Sawangan, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;Tapi tentu sinetron atau film kita tidak buruk semua. Terlepas dari persoalan akting atau elemen estetik lainnya, terdapat unsur yang menghibur dan mendidik. &lt;br /&gt;Toh Putri menyukai sinetron berjudul Intan yang menurutnya ada pelajaran yang bisa diambil. Tapi Putri menilai sinetron berjudul Pergaulan Bebas kurang bagus untuk anak-anak seusianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Putu Wijaya, mayoritas orang-orang yang bergulat dalam dunia film dan sinetron di negeri kita ini tidak belajar acting, juga tidak mempelajari dasar-dasar dramaturgi untuk pembuatan naskah atau skenario. Terutama para aktor dan aktris, dengan memiliki tubuh yang bagus dan paras yang rupawan, bisa terjun ke dunia film atau sinetron. Di sini, yang terjadi bukan lagi instanisasi, tapi benar-benar telah melakukan penggampangan terhadap dunia seni peran. Hasilnya tentu saja sebuah tontonan seperti yang marak pada televisikita saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar-dasar film dan sinetron adalah teater. Bahkan teater adalah ibu dari segala kesenian. Usianya sudah sangat tua. Sedangkan dunia film baru ditemukan manusia belum seabad ini, dan sinetron mulai muncul di Indonesia pada era 70-an, yaitu ketika televisi memasyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, para penggiat film kita adalah orang-orang teater. Usmar Ismail yang namanya diabadikan menjadi gedung pusat perfilman, adalah tokoh film yang juga aktivis teater. Di jaman Persatuan Artis Indonesia (Persari), pelaku film umumnya orang-orang yang terlibat dengan dunia teater, atau dasar-dasar mereka berakting untuk film berasal dari teknik bermain teater. Jamaluddin, Raden Mochtar, Soekarno M. Noor, Teguh Karya, Arifin C. Noer, Ninik L Karim, adalah aktor-aktor film yang bersentuhan dengan teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu, orang yang membuat film itu kan orang-orang teater. Namun sekitar tahun 70-an, mulai terjadi pemisahan film dengan teater. Film dianggap sebagai akting yang wajar, dan teater adalah akting yang teatrikal. Tapi sekarang terjadi kesalahan persepsi, bahwa yang dimaksud akting yang wajar itu sama dengan kehidupan sehari-hari, padahal di luar negeri, kewajaran dalam film itu tetaplah kewajaran sebuah akting, sehingga film dari luar itu selalu nampak ekspresif. &lt;br /&gt;Seharusnya teater, film, dan sinetron ditempatkan sebagi dunia yang sama, yaitu dunia kesenian. Tetapi ada kesan itu adalah tiga dunia yang berbeda. Jangan salah, film dan sinetron saja persepsi orang itu sudah berbeda,” kata Putu Wijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan itu bukan saja terletak pada akting dan persepsinya. Tetapi juga pada apresiasi terhadap ketiganya. Orang tahu kesejahteraan aktor sinetron dan film itu lumayan bagus, bahkan banyak yang bagus sekali, dan setelah itu mendapat honor karena menjadi bintang iklan. Tetapi kesejahteraan pemain teater itu sangat menghawatirkan. Dalam dunia kesenian, kesejahteraan orang-orang taeter itu menempati kasta paria, kelas paling rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya segelintir aktor yang menempatkan teater, film, dan sinetron adalah dunia peran yang harus digeluti dengan sungguh-sungguh. Banyak orang teater yang mengharamkan kalau harus terlibat dengan film atau sintron karena bisa meruntuhkan idealisme. Sebaliknya, banyak orang yang film atau sinetron yang menganggap tidak berguna berlatih teater, sebab proses akting dalam teater dan film atau sinetron toh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Rendra yang dikenal sebagai salah satu embah-nya teater di Tanah Air, menganjurkan orang-orang teater harus terlibat dan menyerbu dunia film dan sinetron. “Kalau orang-orang teater merasa lebih baik dari film dan sinetron, dan merasa terpanggil untuk memperbaiki kebudayaan kita, mereka harus terjun ke sana dengan itikad memperbaiki. Saya sendiri pernah main film. Tapi saya merasa tidak sanggup menjadi orang film,” tutur pemimpin Bengkel Teater yang main dalam film Yang Muda yang Bercinta itu, beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu, tidak sedikit kritik dilontarkan kepada para taeterawan masa kini, bahwa saat ini teater mandul dalam melahirkan aktor-aktor kaliber sekaliber Teguh Karya, Rendra, Eros Jarot, Arifin C. Noer, Ninik L. Karim, Putu Wijaya, Adi Kurdi, Ratna Riantiarno, dan sederet nama laonnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa di era instan ini, proses bermain teater pun mengalami instanisasi, yaitu penggampangan, sehingga yang lahir adalah aktor-aktor masih mentah. Menyambut Festival Teater Jakarta 2006 (FTJ 06) yang berlangsung pada 07-17 Desember, harian Jurnal Nasional mengingatkan, bahwa tugas teaterawan semakin berat, bukan saja berteater dengan baik, tapi juga turut membenahi kebudayaan melalui dunia film, sinetron, dan televisi yang kualitas tayangannya mennghawatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menunggu Naskah Ditulis Sendiri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertempat di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jl Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat, Festival Teater Jakarta 2006 (FJT 06) digelar sejak Kamis 7 Desember, dan akan berlangsung hingga 17 Desember 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah festival teater yang cukup tua usianya di Tanah Air. FTJ sudah digelar sejak 1973, sewaktu Wahyu Sihombing, tokoh teater di Tanah Air, menjabat Ketua Komite Teater, Dewan Kesenian Jakarta. “Festival itu dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, diikuti oleh 110 grup teater yang ada di Jakarta,” kata salah satu panitia dalam konprensi pers di TIM, Senin pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantas bila FTJ disebut sebagai ruang pembinaan, sebab banyak tokoh-tokoh teater yang lahir melalui ajang tahunan itu. Pada tahun 70-an, FTJ ini benar-benar merangsang gairah untuk berteater. Pada 1980, peserta festival mencapai 142 grup. Tetapi kini, FTJ diikuti oleh 18 grup. Dari sisi kuantitas, jelas telah terjadi penurunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grup yang akan tampil itu adalah Teater Ema, Teater Ras, Teater Ciliwung, Teater Mega-mega, Teater Indonesia, Teater Kolong Langit, Teater Kummis, Teater Kubus, Teater Biru 42, Teater El Na’ma, Teater Komunitas Kaki Lima, Teater Mode, Teater Cermin, Teater Kertas, Teater Semat, Teater SBKMN, Teater Sapu Lidi, Studi Teater 24.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang segera ketahuan menjadi satu kelemahan dari FTJ tahun ini, dan tahun-tahun sebelumnya, adalah soal naskah. Dari 18 grup yang tampil, hanya tujuh grup yang membawakan naskah karangan orang Indonesia. Lebih banyak merupakan naskah karya orang asing hasil terjemahan atau saduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal posisi naskah pada sebuah teater itu sangatlah penting. Naskah yang baik akan merangsang seorang aktor untuk bermain dengan baik. Untuk sebuah festival yang bersifat pembinaan, sudah seharusnya FTJ juga menyarankan setiap grup yang tampil wajib membawakan naskah sendiri, sehingga grup teater itu dipicu untuk menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun sebuah pertunjukan teater yang ditampilkan merupakan eksperimental yang terkadang nir-dialog, tetapi pada peristiwa pertunjukan yang dipersiapkan melalui sebuah latihan, pastilah terdapat konsep dan plot. Konsep dan plot itu bisa ditulis, dan ini sudah bisa menjadi persyaratan untuk festival.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan bangsa ini memang terdapat dalam soal menulis. Para leluhur kita jarang mencatat, sehingga banyak metode atau teknik yang tidak bisa diwariskan kepada generani kemudian. Metode atau teknik membuat candi Borobudur misalnya, tidak pernah ditemukan manuskripnya, sebab besar kemungkinan metode dan tekniknya tidak pernah dicatat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teater modern kita akan selalu mengekor ke Barat selama kita masih menggunakan naskah-naskah Barat. Sudawah seharusnya para teaterawan kita ‘dipaksa’ menulis, sedari menulis naskah, konsep, resensi atau kritik pertunjukan, serta dasar-dasar bermain teater menurut persipnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini pernah dimuat di koran Jurnal Nasional.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-645605089889512478?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/645605089889512478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/tugas-teaterawan-ikut-memperbaiki-film.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/645605089889512478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/645605089889512478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/tugas-teaterawan-ikut-memperbaiki-film.html' title='Tugas Teaterawan Ikut Memperbaiki Film dan Sinetron'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-YipbreXkbBI/Tp0O2kennoI/AAAAAAAABAE/oHfA7G_6FLU/s72-c/Festival-Teater-di-Jakarta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-3841478104173017070</id><published>2011-10-17T22:10:00.000-07:00</published><updated>2011-10-17T22:10:57.780-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Pertunjukan'/><title type='text'>Teater Campur-Baur</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-8lVrfFwiWcs/Tp0KNh4H2bI/AAAAAAAAA_4/qFICCUkgg6w/s1600/collage.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-8lVrfFwiWcs/Tp0KNh4H2bI/AAAAAAAAA_4/qFICCUkgg6w/s1600/collage.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;sumber foto: theresajackson.multiply.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Kolaborasi beberapa seniman dari Indonesia dan luar negeri pada panggung teater, belum menemukan artikulasi yang pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPAT suci Desa Rancamaya suatu ketika. Hari mulai terang tanah. Di pagi yang masih buta, gadis bernama Dewi nampak bubulucun (telanjang bulat), kemudian jebrus saja ke mata air yang berada di tempat suci itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujang yang tidur semalam bersama sahabatnya, Alex, di dekat mata air itu, untuk tetirah agar beraih hikmah dari Dewi Sri Poaci, terbangunlah ia, dan melihat Dewi yang sedang mandi telanjang. Alex dibangunkan. Alex menduga, perempuan itu pastilah jelmaan Nyai Sri Pohaci, yaitu Dewi Padi dalam kepercayaan masyarakat Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujang membantah. Perempuan itu bukan jelmaan Sri Pohaci. Tapi menusia beneran yang bernama Dewi, warga kampung yang ia kenali, yang pernah dipangkunya saat Dewi menjadi Puteri Panen di suatu pesta musim panen yang sudah lama lewat beberapa musim. Saat pesta itu, Ujang tertunjuk menjadi pemikul Puteri Panen di bahunya.&lt;br /&gt;Ujang kemudian memperkenalkan Alex kepada Dewi, dan menikahkannya untuk membuktikan bahwa Dewi bukanlah peri. Alex sering mendapati Dewi menerawang, dan menyebut-nyebut nama Ujang di dalam mimpinya. Alex jadi curiga, mungkin Dewi menyesal tidak menikah dengan Ujang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, dibuatlah rencana, yaitu bertamasya bertiga ke Sanghiangtikoro (tempat sungai menembus bukit, dan mengalir kembali di seberang bukit). Di sana, Alex bersemedi. Saat itulah Alex semakin menyadari telah berbuat salah dengan menikahi Dewi. Ia pun bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujang yang mendapati Alex bunuh diri, akhirnya ikut-ikutan bunuh diri, sebab ia takut dipersalahkan telah membunuh temannya. Dewi yang menemui kedua orang itu telah bergelimang darah, berencana ikut bunuh diri. Saat hendak bunuh diri, datanglah penjelmaan Nyai Sri Pohaci. Nyai mengingatkan kepada Dewi bahwa ia sedang mengandung, karena itu jangan gegabah bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas permintaan Dewi, Nyai menghidupkan kembali dua orang mati itu. Namun, terdapat kesalahan. Kepala Ujang berada pada tubuh Alex, dan kepala Alex disangga oleh badan Ujang. Kedua orang yang kembali hidup itu akhirnya bingung, siapa sebenarnya yang menjadi ayah syah bagi Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat kebingungan itu, berangkatlah mereka menemui dukun yang bisa mengatasi berbagai persoalan. Sang dukun sempat kasmaran oleh kemolekan Dewi. Tetapi akhirnya bisa memberikan solusi, bahwa kepala adalah yang memerintah seluruh badan. Karena itu, yang menjadi ayah bagi anak Dewi adalah siapa yang memiliki kepala. Maka orang yang berkepala Alex dan bertubuh Ujang itulah bapaknya anak Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ujang tidak terima. Dan berkelahilah Ujang dan Alex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sari cerita dalam The Tangled Garden yang dipentaskan oleh Sidetrack Performance Group (Australia), bekerjasama dengan Central Cultural Ledeng (CCL) Bandung. Lakon itu dipentaskan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, pada 10 – 11 Agustus 2007 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dijabarkan dalam teks, lakon ini akan nampak sederhana. Namun, dalam pementasan, lakon ini nampak liar, bahkan sedikit vulgar. Ada kata-kata yang jorok, menyelusup ke dalam pertunjukan. Tapi penonton tertawa mendengar kata-kata yang jorok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, pada tradisi Sunda, pemujaan terhadap dewi padi yang diyakini menjadi sumber suburnya tanaman, diejawantahkan secara verbal, dan pada beberapa adegan amat vulgar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai misal, di daerah Sumedang, salah satu kabupaten di Jawa Barat, ada alat musik tarawangsa, atau oleh masyarakat setempat sering juga disebut ngok ngek atau jentreng. Instrumen musik ini menjadi salah satu pengiring upacara tanam padi. &lt;br /&gt;Upacara digelar selepas magrib hingga siang hari, hingga tanam padi pertama sebagai simbolis, usai digelar. Upacara ini diikuti oleh berbagai usia. Namun, menjelang dini hari, peserta upcara yang diperkenankan hanya mereka yang sudah berumah tangga. Sebab, setelah dini hari hingga subuh, upacara ini mulai memasuki adegan-adegan sensual nan-hot. Ada di antaranya tarian sanggama yang ditarikan oleh pasangan laki-perempuan. Semua ini merupakan simbolisasi dari kesuburan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbolisasi itu kemudian menjadi inspirasi untuk pertunjukan multikultural. Naskah The Tangled Garden ditulis oleh Don Mamouney dari Australia. Pementasannya disutradarai oleh Carlos Gomes, sutradara dari Brazil. Di Brazil, juga terdapat masyarakat yang percaya pada tahayul dan perdukunan, pada tetirah dan ziarah ke kuburan leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata gerak aktor dikoreografi oleh Iman Soleh, aktor dan sutradara dari Bandung. Para pemainnya adalah Gusjur Mahesa (orang Nganjuk yang sudah lama tinggal di Bandung), Dedi Warsana (Bandung), Maryam Supraba (Bandung), Alex Blias (Australia), Monica Wulff (Australia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang pangung bagian atas, terdapat layar untuk menampilkan gambar video art, foto, dan text cerita dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Karya video art digarap oleh Assa Abdi (Palestina) yang merekam pemandangan di Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para seniman agaknya mulai jenuh dengan pakem-pakem kesenian yang sudah mapan, dan dicarilah alternatif-alternatif bahasa estetik. Mengkolaborasikan berbagai bentuk seni tradisi ke dalam suatu pertunjukan, sehingga menjadi kemasan kontemporer, adalah alternatif yang kini sedang digandrungi para seniman avantgardist. Seperti itulah yang terbaca pada pertunjukan The Tangled Garden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep The Tangled Garden mencoba meminjam gaya longser, yaitu teater tradisi gaya masyarakat Sunda. Longser ini sejenis dengan makyong (Riau),&amp;nbsp; ludruk (Jawa Timur), lenong (Betawi), ketoprak (Jawa Tengah), dan teater-teater tradisi lain di Nusantara. Pada pertunjukan longser, jarak antara pemain dan penonton coba dihapuskan, sehingga terjadi komunikasi antara keduanya. Lalu, humor dan parodi mendapatkan porsi yang cukup tinggi. Demikianlah The Tangled Garden diusung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu lelucon dalam The Tangled Garden, selain diksi-diksi porno, adalah dialog antara Ujang dalam bahasa Melayu yang sesekali diselingi bahasa Sunda, dengan Alex yang menggunakan bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai drama komedi, pertunjukan The Tangled Garden telah sukses mengundang tawa penonton. Tapi pertunjukan teater bukan sekadar mendulang tawa, harus pula ada artikulasi yang tegas untuk menyampaikan pesan yang hendak diusung. Pada pertunjukan ini, artikulasi itu masih terlalu kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini pernah dimuat di koran Jurnal Nasional edisi Minggu. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-3841478104173017070?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/3841478104173017070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/teater-campur-baur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/3841478104173017070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/3841478104173017070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/teater-campur-baur.html' title='Teater Campur-Baur'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-8lVrfFwiWcs/Tp0KNh4H2bI/AAAAAAAAA_4/qFICCUkgg6w/s72-c/collage.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-3846512367314707274</id><published>2011-10-17T21:56:00.000-07:00</published><updated>2011-10-17T21:56:19.600-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Pertunjukan'/><title type='text'>Kulitas Vokal Festival Teater Jakarta 2006 Membaik</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;MARILAH para koruptor sebangsa dan setanah air… kita tingkatkan semangat juang kita mengkorup uang negara. Saya tahu, saat ini banyak fihak yang mengeritik eksistensi kita. Banyak orang menginginkan agar para koruptor seperti kita dihukum seberat-beratnya. Dimasukkan ke penjara!&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Itulah salah satu bait cerpen sang Koruptor karya Agus Noor yang dibacakan oleh Butet Kartaredjasa dengan logat mantan Presiden Seoharto pada penutupan Festival Teater Jakarta 2006, di gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.&lt;br /&gt;Si raja monolog itu memang pandai menirukan suara pejabat saat berpidato, misalnya suara Soeharto, BJ Habibie, suara Presiden SBY. Butet juga dikenal sebagai Presiden SBY (Si Butet dari Yogya) dalam acara Republik Mimpi yang ditayangkan Metro TV.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Keterkaitan antara penampilan Butet dengan Festival Teater Jakarta 2006 terdapat pada kualitas vokal. Butet memiliki kualitas vokal yang tepat untuk bermain teater maupun sinema. Penampilan Butet menjadi contoh bagi para peserta festival teater yang kebanyakan dari generasi muda itu, bahwa seperti Butetlah minimalnya melapalkan dialog dalam pertunjukan teater.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Putu Wijaya, salah satu Juri mengatakan, gairah FTJ tahun ini terlihat pada kualitas dialog yang membaik. Banyak aktor mampu menyampaikan kata sehingga terdengar dengan baik oleh penonton, “maka terjadilah interaksi yang baik,” tutur Putu saat memberikan pertanggungjawaban dewan juri.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Selain vokal, menurut Putu, tata lighting dan seting panggung saat ini lebih bagus, bahkan perempuan juga ikut mendirikan panggung. Juga, kata pentolan Teater Mandiri itu, ada keberanian dari para pemian untuk menampilkan dunianya, yaitu dunia ABG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Juara-juara&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara I grup teater terbaik FTJ 2006 dimenangkan oleh Teater Indonesia (Jakarta Pusat), Juara II oleh Studi Teater 24 (Jakarta Barat, dan Juara III untuk Teater Cermin (Jakarta Barat).&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sutradara terbaik diraih oleh Irwin Mula Limbong dari Studi Teater 24, pemain pria terbaik direbut Budi Ketcil yang berperan sebagai professor Real Man dalam lakon Kenapa Tidak Mati-mati yang dimainkan oleh Teater Indonesia. Sedangkan pemain wanita terbaik diraih Reni Kaha yang berperan sebagai Pateman dalam lakon Surat pada Gubernur yang dimainkan Studi Teater 24.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; FTJ 2006 memunculkan nama Irman Nisha dari Studi Teater 24 yang menjadi penata artistik terbaik, dan Wahyu dari Teater Indonesia sebagai penata musik terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini pernah dimuat di koran Jurnal Nasional&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-3846512367314707274?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/3846512367314707274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/kulitas-vokal-festival-teater-jakarta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/3846512367314707274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/3846512367314707274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/kulitas-vokal-festival-teater-jakarta.html' title='Kulitas Vokal Festival Teater Jakarta 2006 Membaik'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-4561045427326431658</id><published>2011-10-16T08:19:00.001-07:00</published><updated>2011-10-16T08:19:11.598-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anekdot'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jual Lukisan Beli Rambutan'/><title type='text'>Jual Lukisan Beli Rambutan</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Menjadi seniman di Indonesia, memiliki nilai gambling yang tinggi, termasuk seniman rupa. Bila pencaharian sepenuhnya bergantung pada hasil berkesenian, seringkali dapur seniman megap-megap untuk ngepul. Banyak seniman rupa yang terpaksa harus nyambi pekerjaan lain supaya perut tidak berontak.&lt;br /&gt;Tetapi tentu ada seniman-seniman yang berhasil secara ekonomi, malah berkecukupan, dengan tetap mengandalkan penghasilan dari berkesenian. Perupa Jeihan Sukmantoro adalah contohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan lihat kesuksesan material Jeihan di masa sekarang, di mana seniman kelahiran Solo 1938 itu kini memiliki beberapa rumah, studi lukis empat lantai, bahkan memiliki mesjid. Lihatlah dulu ketika ia berjuang habis-habisan guna sukses di dunia seni rupa, khususnya lukisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu perekonomian Jeihan sempat morat-marit. Saya tidak tahu persis, tapi ia yang mengatakannya, bahwa dulu sempat harus jual celana buat beli beras, jual baju ditukar lauk-pauk. Tapi Jeihan tidak kapok, tidak takut, dan tidak goyah dengan keyakinan memilih jalan “kuas” untuk melakoni hidup ini.&lt;br /&gt;Sampai pada suatu hari, ia berkesempatan menggelar pameran tunggal di Balai &lt;br /&gt;Budaya, Jakarta Pusat. Gedung ini dulu cukup legendaris. Banyak seniman yang dibesarkan di gedung yang kini nasibnya tragis itu. Tapi pameran lukisan kala itu, sekita tahun 70-an, belum tentu bisa mendatangkan kesuksesan. Belum tentu karya yang dipamerkan dibeli oleh kolektor. Bukan hanya kala itu, sekarang pun belum tentu sebuah pameran bisa menjualkan karya yang dipamerkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeihan pun mengalaminya. Luksian-lukisan yang dipamerkan tidak laku. Ia bingung harus membawa pulang karya lukisnya ke Bandung, harus sewa mobil, dan tentu membutuhkan biaya. Akhirnya ia menawarkan lukisannya dengan harga yang murah, bisa dikatakan banting harga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya juga hasil banting harga, tentu uang yang dihasilkan tidak banyak. Tapi Jeihan sudah punya anak, dan yang namanya anak tidak amu tahu bagaimana keuangan orang tua. Yang mereka tahu, bapak pergi ke Jakarta, pasti bawa oleh-oleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sampai ke rumah, Jeihan mampir ke Pasar Andir di Bandung, guna mencari oleh-oleh. Ia melihat rambutan. Maka diboronglah satu kol dolak rambutan, dan di bawa pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini anak-anak, oleh-olehnya, rambutan satu mobil,” kata Jeihan, menghibur anak-anaknya. Tapi dalam hati menjerit, ini rambutan hasil banting harga lukisan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-4561045427326431658?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/4561045427326431658/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/jual-lukisan-beli-rambutan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/4561045427326431658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/4561045427326431658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/jual-lukisan-beli-rambutan.html' title='Jual Lukisan Beli Rambutan'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-5233166482286866669</id><published>2011-10-15T18:50:00.000-07:00</published><updated>2011-10-16T08:25:13.323-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tapal Batas'/><title type='text'>Melawan Pencuri Pulsa: Bela Negara ala Kurosawa</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Melibatkan warga adalah benteng pertahanan yang lebih efektif dibandingkan dengan strategi dan senjata. Siskamling – Hankamrata perlu dihidupkan di mana-mana.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Teks Doddi Ahmad Fauji&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Walau makin memudar, di beberapa daerah terutama di desa-desa, sistem keamanan lingkungan (Siskamling) masih dijalankan oleh warga masyarakat. Siskamling itu diejawantahkan dalam bentuk “ronda”. Sampai sekarang, ronda yang dijalankan adalah pada malam hari, karena masih mengandaikan bahwa para pencuri selalu beroperasi di malam hari ketika lingkungan sedang hening, sunyi lagi senyap. Lagi pula, para petugas ronda yang notabene adalah masyarakat yang bergiliran bertugas, memiliki waktu luang pada malam hari. Di siang hari, umumnya mereka harus bekerja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Lalu siapa yang harus menjaga lingkungan di siang hari sementara aksi para pencuri sudah tidak mengenal waktu? Sedangkan jenis kriminal pun, makin beragam. Lingkungan bukan saja harus aman dari aksi para pencuri, tapi juga imun dari keseluruhan aksi para kriminalis dan varian kejahatan lainnya, termasuk aman dari aksi yang nampak spele seperti pengurasan pulsa oleh operator penyedia konten berbayar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tidak sedikit masyarakat yang frustrasi karena menerima SMS berbayar dari sebuah operator penyedia konten. Sekali terima SMS, pulsa dikuras Rp2.000. Dalam sehari, bisa terima hingga lima kali SMS yang isinya tidak bermutu. Mereka yang menerima SMS itu, benar-benar merasa dirampok.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri,sans-serif;"&gt;Mereka terkadang heran, mengapa tiba-tiba menerima SMS yang harus dibayar itu, padahal mereka tidak pernah menghendakinya? Ada beberapa modus operandi dalam praktik yang kurang jujur itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Para pengelola operator penyedia konten, melakukan promosi dengan cara menjebak konsumen.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri,sans-serif;"&gt;Misalnya SMS yang tiba-tiba “nyelonong” dari MOCO INFO, berbunyi: “Selamat Anda berkesempatan PULSA 50.000 untuk 20 orang. Silakan cek di &lt;b&gt;111&lt;/b&gt;1821# u/ gabung sms NADA. Ganti RINGTONEmu tiap hari di sini.2rb/sms.cs:0214519910.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Atau SMS jebakan dari 27672 yang berbunyi seperti ini: “Bagi2 pulsa 50rb buat km &amp;amp; SEMUA pelanggan setia XSMS! Ada uang THR 1 JUTA &amp;amp; BB juga lho, buruan hub &lt;b&gt;123&lt;/b&gt;2767# dr HP mu! Bisa kirim sms jd WALLPAPER ramadhan!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bila perintah itu diikuti, sudah pasti Anda akan sering menerima SMS, dan sekali terima SMS, pulsa melayang RP.2000. Banyak orang yang waktu kali pertama menerima SMS itu, langsung tergiur dan “tertipu” karena hadiah tak kunjung datang, sementara pulsa terus melayang. Sialnya, isi SMS yang kemudian dikirimkannya, bisa dikatakan tidak berguna dan tidak informatif, terkadang hanya berupa kuis semisal: Ibu Kota Arab Saudi? A. Mekkah, B. Riyadh. Begitu dijawab, misalnya dijawab B, si mesin operator penyedia kuis berbayar akan mengirimkan SMS lanjutan dengan mengajukan pertanyaan lain, dan setiap kali menerima SMS, pemilik HP harus rela kehilangan Rp2.000. Bila terus diikuti dengan menjawab pertanyaan yang diajukan, maka pertanyaan itu akan terus datang dan entah sampai kapan selesainya, sementara hadiah yang dijanjikan barangkali hanya 1 berbanding semilyar SMS. Program seperti ini memang dirancang untuk menguras pulsa konsumen. Dan sebab promosinya disampaikan dengan cara menjebak, perusahaan seperti ini sudah bisa dikatakan melakukan perampokan yang bisa disejajarkan dengan perbuatan koruptor. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Modus lain dalam menguras pulsa konsumen adalah melalui jebakan di internet. Misalnya saat membuka &lt;a href="http://www.blogger.com/"&gt;&lt;span class="Internetlink"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;www.blogger.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, yang muncul adalah halaman yang menyatakan blogger sedang berulang tahun, dan blogger bagi-bagi hadiah berupa barang-barang elektronik, tentu dengan syarat harus menjawab pertanyaan yang sangat mudah untuk dijawab. Tapi sebelum menjawab, akan diminta dulu memasukkan nomor HP di kolom yang sudah disediakan guna mengirimkan PIN. Begitu nomor HP dimasukkan dan mengklik “register” atau “daftar” maka secara otomatis nomor itu terdaftar sebagai pelanggan dari penerima SMS berbayar. Adapun PIN yang dimaksud, hanya &lt;i&gt;scam &lt;/i&gt;(tipuan) belaka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Banyak masyarakat yang merasa terganggu dengan praktik pengurasan pulsa seperti itu. Baru saja isi pulsa, sejam kemudian sudah hilang sampai Rp6.000 karena ia menerima kiriman SMS hingga tiga kali. Karena jengkel, akhirnya orang itu mengganti nomor baru. Resiko dari penggantian nomor baru, harus memberitahukan nomor itu ke sejumlah kolega atau famili.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Saking pusingnya, aku lempar tuh HP. Aku sudah ikuti UNREG supaya enggak menerima SMS lagi, tapi UNREG selalu gagal. Memang sengaja mereka membuat sistem merampok yang canggih.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri,sans-serif;"&gt;Akhirnya aku ganti nomor HP. Waduh, ganti nomor kan repot, harus memberi tahu kawan-kawan via sms, yah keluar pulsa lagi,” kata Irwan Guntari, aktor teater asal Bandung, awal Juli lalu kepada saya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hingga saat ini, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) belum nampak beraksi dengan sungguh-sungguh untuk menyikapi ulah para pengirim SMS jebakan itu. Entah tidak ada pengaduan dari masyarakat, atau entah YLKI memandang hal ini belum jadi masalah besar. Padahal uang (pulsa) yang dikuras dalam sebulan, jumlahnya bisa milyaran rupiah. Bila dalam sehari ada sejuta orang yang terjebak, dan masing-masing menerima SMS hingga tiga kali, maka pulsa yang dikuras adalah 1.000.000 nomor X 3 SMS X Rp.2.000 = Rp.6 Miliar dalam sehari. Sangat mungkin bahwa yang terjebak dalam sehari lebih dari sejuta orang, mengingat pengguna IM3 saja, menurut pihak Indosat, jumlahnya mencapai 40 juta nomor. Belum lagi kartu lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sekedar informasi, salah satu operator yang suka menguras pulsa itu adalah perusahaan yang mengelola website &lt;a href="http://www.mobilegaul.com/"&gt;&lt;span class="Internetlink"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;http://www.mobilegaul.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang biasa mengirimkan SMS dengan kode atau nama 3767. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Modus lain dan cukup keren adalah kuis seperti yang sering diiklankan di televisi swasta, yang pertanyaan untuk kuis itu sangat mudah dijawab. Iklan disampaikan secara berulang-ulang dengan bintang iklan biasanya perempuan cantik berpenampilan seksi. Begitu sekali mengikuti kuis, pulsa langsung dikuras. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ilustrasi di atas menjelas-tegaskan betapa tindak ketidakjujruan makin meluas dan tidak mengenal waktu. Semestinya pemerintah, dalam hal ini Kemenkominfo dan Komisi Penyiaran Indonesia, tidak tinggal diam. Melindungi masyarakat dari jebakan adalah kewajiban pemerintah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bila pemerintah tidak turun tangan secara sungguh-sungguh, berarti masyarakat memang harus super ekstra dalam menyelenggarakan Siskamling - Hankamrata (Sistem keamanan lingkungan - Pertahanan rakyat semesta).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mampukah Siskamling - Hankamrata seperti “ronda malam” menghadapi kecanggihan permalingan di era sekarang ini? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Untuk menjawab tantangan ini, saya ingin becermin sekilas ke laju sejarah. Salah satu bangsa yang selalu becermin pada sejarah adalah bangsa Jepang. Betapa banyak karya seni, sastra, atau film gubahan orang Jepang yang dinukil dari kisah sejarah. Puluhan ribu novel dan karya seni lain di Jepang, lahir dari nukilan sejarah. Sekedar untuk menyebutkan beberapa contoh karya sastra yang berlatar sejarah antara lain &lt;i&gt;Musashi &lt;/i&gt;(novel karya Eiji Yoshikawa yang dinukil dari kisah hidup Miyamoto Musashi's), &lt;i&gt;Shogun &lt;/i&gt;(novel karya James Clavel yang ditulis tahun 1975), Taiko (novel yang dinukil dari tokoh Toyotomi Hideyoshi's), &lt;i&gt;Seven Samurai&lt;/i&gt; (film karya Akira Kurosawa).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Film &lt;i&gt;Seven Samurai &lt;/i&gt;memiliki benang merah yang relevan dengan Siskamling – Hankamrata orang Jepang. Kita bisa belajar kepada bangsa Jipun itu dalam mempertahankan keamanan lingkungannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Film ini ditulis, disunting, dan disutradarai oleh Akira Kurosawa pada 1954, yang berlatar jaman Sengoku (sekitar 1587/1588). Inti cerita bertumpu pada perjuangan masyarakat desa tani dalam memendung serangan para bandit yang akan datang ke desa itu untuk merampok seusai panen raya. Sebelumnya, para bandit pernah merampok desa trani sehabis panen. Berkaca pada sejarah, para warga jadi waspada menjelang musim petik yang akan datang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Warga berunding, dan bermunculan pendapat, sampai akhirnya tetua di kampung itu menyarankan untuk menyewa samurai. Ada warga yang berpendapat, menyewa samurai biayanya mahal, dan lebih dari itu kebiasaan samurai sungguh buruk, yaitu gemar main perempuan bahkan berani memperkosa anak-isteri. Tetua menyarankan, carilah ronin (samurai tidak bertuan) yang masih kelaparan, yang akan bersedia dibayar dengan makanan. Usulan tetua disetujui, dan berangkatlah beberapa utusan warga ke kota untuk mencari ronin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada awalnya para utusan berkali-kali menemui kegagalan, tidak ditanggapi oleh setiap samurai yang mereka tanyai, bahkan terkadang para samurai itu berikap sangat kasar kepada para utusan yang tidak dapat menawarkan apa pun selain membayar para samurai dengan tiga kali makan dalam sehari. Ketika pelbagai harapan seolah-olah hilang, mereka menjadi saksi dari samurai yang sudah tua (Kambei), yang secara dramatis berhasil menyelamatkan bocah laki-laki dari sandera pencuri yang licik. Para utusan pun meminta Kambei untuk membantu mempertahankan desa mereka. Kambei menerima tawaran itu. Kambei merekrut satu-per-satu empat ronin dari kota, dengan keahlian dan kepribadian khusus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada awalnya Kambei telah memutuskan diperlukan tujuh samurai. Namun karena keterbatasan waktu, ia berencana akan berangkat menuju desa dengan hanya empat orang samurai terpilih. Para utusan desa tani meminta Kambei untuk mengikutsertakan Katsushirō. Dengan sedikit desakan dari yang lain, dia setuju. Seorang ronin yang kikuk dan aneh bernama Kikuchiyo, yang telah ditolak Kambei untuk misi ini, mengikuti mereka ke desa dari kejauhan, mengabaikan protes dan upaya para ronin lain yang mengusir dia pergi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tujuh ronin itu, ternyata tidak benar-benar ahli pedang. Ketika mereka mengejar bandit yang terjebak masuk ke kampung, ternyata tidak dengan adu pedang yang atraktif, melainkan dengan cara dikejar-kejar, dilemapari batu, atau dipukuli dengan pentungan seperti penduduk di negeri kita menggebuki maling yang tertangkap basah. Bayangan tentang Tujuh Samurai yang pasti sakti sesuai dengan judulnya, runtuh sudah kesaktiannya ketika mereka memperagakan cara membunuh satu bandit yang terjebak. Ternyata membunuh bandit sama dengan&amp;nbsp; membunuh babi hutan yang terkena perangkap, yaitu dengan cara dikeroyok dan digebuki. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Namun meski tidak ahli pedang, pemimpin ronin itu (Kambei), memiliki kearifan tersendiri. Ia menyusun strategi dan melibatkan warga dalam menjalankan strategi itu. Tanpa bantuan warga, strategi pertahanan tidak bisa berjalan dengan brilian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ya, melibatkan warga adalah benteng pertahanan yang lebih efektif dibandingkan dengan strategi dan senjata. Siskamling – Hankamrata perlu dihidupkan di mana-mana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di Indonesia, pertahanan dan keamanan yang melibatkan warga, hingga saat ini juga memperlihatkan daya hadang yang tangguh. Sekedar contoh, pada 7 Agustus 2011, salah satu TV swasta memberitakan, ada warga yang dihajar oleh dua orang yang diduga anggota TNI. Kedua anggota TNI itu ngacir ketika para warga segera datang untuk membantu korban. Kriminalis Petrus yang berjaya di Tanah Abang, Jakarta Pusat, nyaris sulit dibungkam oleh aparat keamanan. Namun Petrus tersungkur ketika warga ikut turun tangan. SM Karto Suwiryo bisa dilumpuhkan oleh TNI ketika warga ikut dalam barisan pagar betis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tetapi warga, sering kali hanya bisa menjelma kerumunan yang tidak terorganisir. Dan kerumunan di mana-mana nyaris tanpa inspirasi yang berarti. Karena itu, dibutuhkan kepemimpinan warga yang inspiratif dan mampu melakukan koordinasi dengan baik. Kiranya dalam film &lt;i&gt;Seven Samurai&lt;/i&gt;&amp;nbsp; itu juga menggambarkan, warga tani akhirnya bisa berperang melawan bandit karena mereka yang semula hanya kerumunan, bisa dikoordinasi menjadi barisan yang rapi dan rapat. Elan vital dari kehadiran para samurai itu lebih berupa inspirasi untuk membangun barisan pertahanan, dan bukan mereka bertujuh yang bertempur secara langsung melawan musuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Rasanya, tentu menjadi tepat dan relevan bila program Bela Negara yang dijalankan oleh Kementerian Pertahanan, juga menengok kisah film lawas ini. Bela Negara bukan hanya menghimpun warga yang mau mendaftar, tapi justru semestinya dilakukan untuk melahirkan para pioner dan visioner dalam pertahanan rakyat semesta. Program bela negara mesti dirancang untuk mencetak instruktur yang akan mengkader warga ke dalam barisan Siskamling – Hankamrata. Termasuk dalam melamawan judi SMS yang berbau penipuan, atau SMS jebakan seperti dari mobilegaul.com, bisa dilawan dengan perlawanan rakyat semesta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-variant: small-caps;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-variant: small-caps;"&gt;Seven Samurai&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-variant: small-caps;"&gt;&amp;nbsp; bukan sekedar inspiratif dan menjadi upaya becermin pada kejadian sejarah, tapi juga sangat estetis. Film ini sering disebut-sebut sebagai salah satu film terbaik dan paling berpengaruh yang pernah dibuat manusia, dan menjadi salah satu dari sedikit film Jepang yang berhasil dikenal secara luas di dunia Barat untuk waktu yang cukup lama. Selain mendapat pujian, film ini juga banyak mendapat kritikan. &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Film berdurasi sekira 200-an menit itu, banyak mendapatkan penghargaan dan dikenal luas di seluruh dunia. Beberapa filmakker dari negeri lain, banyak yang mengadopsi atau terinspirasi oleh Seven Samurai, antara lain: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;1)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;The Magnificient Seven,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; film berlatar dunia Barat yang dirilis tahun 1960, di mana alurnya serupa dengan &lt;i&gt;Seven Samurai&lt;/i&gt;. Para samurai digantinkan oleh para &lt;i&gt;gunslinger&lt;/i&gt;. Dialog terakhirnya juga sangat identik yaitu "Tetua itu benar. Hanya para petani yang menang. Kita kalah. Kita selalu kalah."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;2)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sholay,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; film India tahun 1975 yang mengambil inti cerita &lt;i&gt;Seven Samurai&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;The Magnificent Seven&lt;/i&gt;. Film ini dinyatakan BBC India sebagai "Film Pilihan Millennium" dan berhasil menjadi film dengan pemasukan tertinggi dalam sejarah perfilman India. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;3)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Battle Beyond the Stars, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;film bertema fiksi ilmiah yang dirilis Roger Corman pada 1980, tidak hanya menyisipkan alur &lt;i&gt;Seven Samurai,&lt;/i&gt; tapi juga menghadirkan salah satu aktor &lt;i&gt;The Magnificent Seven,&lt;/i&gt; yaitu Robert Vaughn.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;4)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;A Bug's Life &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;mengambil berbagai unsur cerita dari &lt;i&gt;Seven Samurai&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;5)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada komentar audio DVD Star Wars III: Revenge of the Sith, pengamat realisme sosial George Lucas menyatakan gaya tangan Yoda yang sering diletakkan di kepala (seperti Kambei) adalah sebuah pernyataan salut bagi Kurosawa. Sedang dalam Star Wars Episode IV: A New Hope, terdapat dialog yang identik dengan dialog dalam Seven Samurai, yang menyatakan sebagian besar kehidupan para petani adalah menderita belaka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;6)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Film &lt;i&gt;Zatoichi &lt;/i&gt;(2003) menampilkan adegan pertarungan di tengah hujan, yang menurut Takeshi Kitano juga merupakan ungkapan salut untuk &lt;i&gt;Seven Samurai&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-variant: small-caps;"&gt;7)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sam Peckinpah menggunakan efek gerakan lambat dalam adegan kekerasan filmnya yang terkenal &lt;i&gt;The Wild Bunch&lt;/i&gt;, yang dipengaruhi sutradara lainnya, yang pada kenyataannya, dipengaruhi oleh Kurosawa pada film semacam ini.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-variant: small-caps;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;8)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-variant: small-caps;"&gt;Samurai 7 &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;ada “anime remake” dari 'Seven Samurai' yang gubah oleh GONZO pada 2004, dan menyajikan anime bertema steampunk alternatif dalam menceritakan kisah klasik. Versi manga dari anime ini juga tersedia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;9)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada musim keenam serial Star Trek: Deep Space Nine berjudul &lt;i&gt;The Magnificent Ferengi&lt;/i&gt; juga memuat lelucon akan film &lt;i&gt;Seven Samurai&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;10)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Permainan &lt;i&gt;Arasy of Darkness &lt;/i&gt;memberikan pemain kontrol pada tujuh orang samurai (empat dalam satu regu pada satu waktu) yang sangat menyerupai ciri khas Kurosawa dari segi peran, gaya pertempuran, dan tampilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;11)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Wolves of the Calla &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;karya Stephen King mengambil beberapa elemen dari film ini seperti kata &lt;i&gt;Magnificent&lt;/i&gt;, seperti yang ditulis pula dalam novel selanjutnya &lt;i&gt;Song of Susannah&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;12)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Permainan &lt;i&gt;Play Station 2&lt;/i&gt; berjudul &lt;i&gt;Seven Samurai 20XX&lt;/i&gt; telah dirilis, juga mengambil beberapa elemen dari film ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;13)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan masih banyak lagi karya film yang terinspirasi oleh Seven Samurai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kiranya, di tengah jenis kriminal yang makin variatif dengan eskalase kasusnya yang juga bertambah, pertahanan dan keamanan bangsa ini, baik melawan kejahatan dari luar maupun dari dalam, perlu melibatkan warga seperti dicontohkan dalam film gubahan Kurosawa itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;Tulisan ini pernah dimuat di majalah Tapal Batas edisi 9 (Agustus 2011)&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-5233166482286866669?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/5233166482286866669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/jasmerah-bela-negara-ala-kurosawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/5233166482286866669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/5233166482286866669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/jasmerah-bela-negara-ala-kurosawa.html' title='Melawan Pencuri Pulsa: Bela Negara ala Kurosawa'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-4580326487239007767</id><published>2011-10-15T18:34:00.001-07:00</published><updated>2011-10-16T07:48:37.004-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cantelan'/><title type='text'>Majalah "Arti" Tutup Usia</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-bYt0AIICk2s/TpruqWzL70I/AAAAAAAAA_s/5zN83BPpGJw/s1600/daf.bmp" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="228" src="http://1.bp.blogspot.com/-bYt0AIICk2s/TpruqWzL70I/AAAAAAAAA_s/5zN83BPpGJw/s320/daf.bmp" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;Oleh Kuss Indarto&lt;br /&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="5" class="MsoNormalTable" style="background: none repeat scroll 0% 0% white;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="padding: 0in;"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;KABAR tak sedap datang dari media seni. Arti, majalah seni yang kali pertama terbit pada Juni 2008 lalu, akhirnya “jatuh tersungkur” dan berhenti terbit. Setelah terbit selama hampir 3 tahun mengiringi perkembangan dan dinamika seni Indonesia, terutama seni rupa, ternyata Arti masih banyak menghadapi persoalan, baik di ranah internal ataupun eksternal. Berikut ini wawancara singkat Indonesia Art News dengan Doddi Ahmad Fauji, salah seorang motor penting majalah Arti. Doddi terlibat aktif dalam menggagas kemunculan media ini, bahkan sejak majalah Arti masih bernama Koktail yang menjadi sisipan mingguan di harian Jurnal Nasional, Jakarta. Selama ikut mengelola Arti, posisi sosok Doddi banyak hilir mudik antara bagian redaksional dan manajemen. Berikut hasil wawancara itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih penyebab paling elementer hingga Arti harus ditutup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab paling elementer, sejak saya ditarik dari marketing Arti, tepat setelah peringatan ultah Arti yang pertama, kondisi Arti menurun karena ditangani oleh manajer marketing yang tidak bisa menghayati kehidupan kesenian. Akibatnya, ia enggan datang ke pembukaan pameran seni rupa misalnya, apalagi memimpin kawan-kawan buka lapak di pembukaan pameran atau di acara kesenian lainnya. penurunan promosi langsung ini berdampak pada kepercayaan pengiklan. Inti soal dari ini adalah mis-management, sebab prinsip manajemen di mana-mana bunyinya sama: bila suatu urusan tidak ditangani oleh ahlinya, maka tunggulah keruntuhannya. Penutupan Arti adalah karena mis-management itu, baik di marketing maupun di redaksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah data dan angka (data penjualan, tiras, iklan, dan lain-lain) yang bisa menjadi indikasi bagi Arti (atau publik) yang kemudian bisa menjadi alasan kenapa Arti harus tutup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, hingga ultah Arti yang pertama, tiras Arti rata-rata antara 2.500-3.000 eksemplar. Pengiklan semakin membaik, dan merebut kue iklan yang biasanya dipasang di majalah seni rupa Visual Arts. Pelanggan sudah hampir sampai ke angka 500, dan bulk order (pembelian dalam jumlah banyak), seringkali terjadi antara 50-500 eksemplar. Ketika saya dipanggil kembali untuk menangani marketing Arti, kondisinya sudah jatuh, pelanggan jatuh, pengiklan juga jatuh, dan promosinya padam. Ketika saya melakukan ulang promosi, misalnya melalui diskusi Indonesia Art Fair 2011, ada titik terang, bahkan dari Bali, ada developer yang mau kerjasama, langganan 500 eksemplar tiap bulan mulai Januari 2011, dan kompensasinya ia mendapatkan 10 halaman tiap edisi. Dari Kementerian Budaya dan Pariwisata juga sudah ada komitmen untuk pasang iklan booking seperti terjadi waktu awal Arti, di mana Kemenbudpar pasang iklan museum tiap edisi. Tapi sebelum 2011 terjadi, tanpa diajak diskusi, dan saat itu tim marketing sedang di Bali, ternyata edisi Desember 2010, Arti tidak dicetak. Saya tidak tahu asalan paling konkret selain keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dana menjadi problem utama, apakah posisi Arti yang berada di bawah manajemen harian Jurnal Nasional (Jurnas) yang juga (menurut banyak sumber) didanai oleh Partai Demokrat (sebagai partai penguasa) tidak bisa mengatasi hal ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulanya Jurnas tidak didanai oleh Partai Demokrat, tapi oleh perorangan, salah satunya orang Sampoerna (dulu sih Soenarjo Sampoerna, salah satu pemilik perusahaan rokok PT Sampoerna). Justru karena tidak mau menggandeng Partai Demokrat, Jurnas malah terengah-engah. Soal keuangan saya tidak tahu persis. Yang jelas, begitu menutup Majalah Arti dan Majalah Eksplo (keduanya satu grup dgn Jurnas), Jurnas malah bikin sisipan 16 halaman dari hari Senin-Sabtu yang ongkos cetaknya dalam sebulan, 100% lebih mahal dari ongkos cetak Arti + Eksplo dalam sebulan. Selain bikin sisipan 16 halaman di Jurnas, juga menerbitkan koran Jurnal Medan yang tentu membutuhkan biaya untuk cetak, karyawan, dan operasional. Jadi sepertinya bukan masalah dana yang paling elementer, walaupun alasan manajemen Jurnas mengatakan, soal dana menjadi alasan penutupan Arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari aspek strategi jurnalisme, benarkah kelemahan Arti ada pada personal redaksinya yang diduga hanya bisa membuat reportase 5W+1H (what, who, why, where, when + how) tapi kurang paham cukup dalam “jerohan” dunia seni rupa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari aspek jurnalistik dan redaksional, saya kira anda bisa menilai seperti apa content Arti. Saya dalam posisi marketing, dan di redaksi bukan penentu kebijakan yang utama. Sebagai orang lapangan, saya sering berbeda pendapat dalam soal kontent redaksi. Bahkan pernah juga sampai ada gebrak meja. Kalau Arti hanya dilihat dari sisi seni rupa saja, saya ajukan pertanyaan, siapa orang redaksi Arti yang anda kenal sebelum arti ada? Kan kalau kau kenal aku, jauh sebelum ada Arti. Juga keengganan mendengarkan suara-suara publik, atau malah enggan melakukan riset dan observasi pasar, ikut menentukan menjadi seperti itulah content Arti yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik penutupan Arti ini, apakah pihak manajemen tengah mempersiapkan format dan disain besar baru bagi keberadaan sebuah media seni rupa baru pengganti Arti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu persis. Tapi sepertinya tidak ada. Dingin-dingin saja, sebab industri pers seperti Kompas misalnya, berapa persen sih karyawan Kompas yang benar-benar peduli "kesenian"? Juga, setelah aku dan Deddy Paw hengkang dari Media Indonesia (sekarang Deddy menjadi perupa), Anda bisa lihat wajah kebudayaan di MI, menurun atau lebih maju dibandingkan ketika kami mengelola?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari soal penutupan Arti, menurut Anda, apa sih sebenarnya media yang cocok bagi medan seni rupa di Indonesia yang relatif dinamis seperti saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua media pada dasarnya cocok untuk seni rupa. Soalnya adalah, bahwa bisnis media cetak memang trend-nya menurun. Kompas, Majalah Tempo, dan lain-lain, megap-megap dengan ongkos cetak, karena harga kertas akan terus naik. Tahun 2020-an, Amerika Serikat sudah merancang undang-undang pers, hanya membolehkan 4 media cetak saja yang terbit, yaitu 3 koran dan 1 majalah. Mau tidak mau, suka tidak suka, sekarang era konvergensi di dunia maya, sepertinya internet akan lebih efisien untuk media massa bidang apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari aspek content (muatan, isi), menurut pengalaman Anda, apa yang mendesak dibutuhkan bagi para seniman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi-informasi yang memberikan harapan dan benar-benar memberikan pengetahuan, dan informasi seperti itu selalu tertutup. Wartawan harus mau melakukan investigasi dan menghabiskan waktu bersama narasumber. Sekarang ini, semakin banyak wartawan baru yang pandai copy paste dari internet, dan ini adalah awal dari kehancuran. Padahal, seringan apapun informasi dari lapangan, jauh lebih dibutuhkan publik. Kalau hanya copy paste, kenapa pula harus beli koran Kompas? Baca saja detik.com lebih murah dan informasinya lebih berjubel, bisa diakses di mana saja dan kapan saja, termasuk lewat HP. Kekuatan wartawan ada dua sebenarnya, pengamatan langsung dengan menggunakan panca indera dan wawancara. Data sekunder dari hasil riset hanyalah pelengkap, bukan yang premier. Tapi kalau wartawan hanya pandai copypaste, yang disodorkan jadinya data sekunder yang bisa dicari di Prof. Dr. Mohammad Google. Betul kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada HUT pertama, Arti memberi award bagi almarhum Sanento Yuliman dengan (antara lain) memberi uang tunai sebesar Rp 50 juta. Ini luar biasa. Apa makna pemberian bagi Sanento yang adalah kritikus seni rupa itu? Apakah seni rupa kini tidak apresiatif pada hal yang kritis-konstruktif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ultah kedua Arti, saya merancang pemberian hadiah untuk para penulis yang masih hidup, tapi sayang begitu ultah pertama selesai, posisi saya digeser, dan tidak ada yang meneruskan visi serta misi seperti itu. Makna pemberian penghargaan kepada penulis (terutama kritikus), tentu saja untuk mengukuhkan bahwa dunia apapun membutuhkan kritik yang konstruktif. Ketika kritikus macam Anda yang dulu rajin nulis di media, sudah mulai jadi kurator (yang makanya bagiku kurator itu cenderung sebagai promotor), maka kritik kesenian jadi tumpul. Ketika kritik tumpul, kesenian jadi liberalis, dalam berbagai aspek dan bidangnya. Terutama dalam marketing-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Arti tutup, majalah seni rupa yang masih bertahan adalah Visual Arts. Apakah media yang tunggal keberadaannya itu akan berpotensi menjadi dominan dalam mengelola isu, atau akan merangkul pasar yang selama ini dibidik Arti, atau sama saja: akan segera tutup karena persoalan yang sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu akan seperti apa Visual Arts, semoga terus bertahan dan makin maju. Saya ingat, ketika arti pertama terbit bulan Mei 2008, iklan di Visual Arts mencapai 75 halaman dan jadi mirip katalog. Tapi kira-kira awal 2010, iklan di Visual Arts tinggal 25 halaman karena sebagian lari ke Arti, termasuk pembaca dan pelanggannya. Mengapa ini terjadi, tentu karena strategi Arti yang progresif dan langsung mendatangi rumah-rumah seniman, kurator, galeri, bahkan kami melakukan roadshow, dan aku tidak memiliki prinsip high art atau low art. Toh yang dulu dianggap poster, di era kontemporer bisa diakomodasi sebagai lukisian. Dengan semangat kontemporer itu Arti menjelajah ke berbagai kantong kesenian dengan semangat, kesenian adalah untuk semua kalangan, walau kenyataannya ada sedikit kalangan eksklusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visual Arts ditutup atau tidak, tentu bergantung kepada pemodalnya. Kalau nomor uangnya tidak berseri, kiranya Visual Arts akan bertahan dalam keadaan apapun. Bahwa dunia kesenian (dalam pengertian modern dibagi ke seni sastra, teater, tari, musik, rupa, film seperti yang diakomodasi oleh dewan kesenian dalam bentuk komite-komite) yang bisa swadaya itu seni rupa, ada benarnya di suatu saat dan kondisi, yaitu ketika terjadi booming lukisan. Tapi booming sama seperti gunung Merapi, ada saatnya ledakannya menghebohkan dunia, tapi pada saat lain, nampak adem-ayem. Bahkan kini, balai lelang sebagai tempat menggoreng lukisan, mengalami titik surut, lukisan yang biasa terjual di galeri mencapai Rp 50 juta, di balai lelang hanya laku Rp 15 juta, bahkan kadang tak laku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, apa sih hal yang paling mengenaskan selama Anda mengelola majalah seni rupa semacam Arti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal paling mengenaskan adalah kenyataan bahwa sejak awal aku merasa sendirian membawa majalah Arti ke wilayah seni rupa. Kemudian, baru kemudian, personel Arti (marketing maupun redaksi), dikenal oleh publik. Saya pindah haluan dari redaksi ke marketing, juga karena perasaan yang kenas itu. Lebih parah dari itu, bahwa induknya Arti, Jurnal Nasional, baru berhasil menyandang nasional dari segi nama, yaitu koran Jurnal Nasional yang alhamdulillah sudah mulai beredar di tiga provinsi, yaitu Jakarta, Banten (Tangerang maksudnya), dan Jawa Barat (Bekasi maksudnya). ***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-4580326487239007767?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/4580326487239007767/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/majalah-arti-tutup-usia.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/4580326487239007767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/4580326487239007767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/majalah-arti-tutup-usia.html' title='Majalah &quot;Arti&quot; Tutup Usia'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-bYt0AIICk2s/TpruqWzL70I/AAAAAAAAA_s/5zN83BPpGJw/s72-c/daf.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-8012324981046236016</id><published>2011-10-15T18:29:00.000-07:00</published><updated>2011-10-16T07:54:40.297-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cantelan'/><title type='text'>Wartawan Bandung dan Jakarta Gelar Pameran Lukisan</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Bandung, 30 Juli 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 16 pelukis yang berprofesi sebagai wartawan asal Bandung dan Jakarta akan memamerkan lukisan karyanya dari tanggal 3 Agustus sampai 31 Agustus, di Galeri Kita, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelukis Bandung Eddy Hermanto selaku kurator pameran itu, Selasa menyebutkan, pameran yang akan dibuka Pemimpin Umum Harian Pikiran Rakyat (PR) Atang Ruswita nanti, diikuti 16 orang pelukis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah Bambang Sapto (Bandung), Dedy PAW (Jakarta), Denny Yuriandi Ssn (Jakarta), Didin D Basoeni (Bandung), Diro Aritonang (Bandung), &lt;b&gt;Doddi AF&lt;/b&gt; (Jakarta), Eriyandi Budiman (Bandung), dan Herman His (Bandung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Harry Dim (Bandung), Ipong Purnama Sidhi (Jakarta), Nani Sakri (Jakarta), Remy Sylado (Jakarta), Soni Farid Maulana (Bandung), Tuti Gintini (Jakarta), Wawan S Husin (Bandung), dan Yusuf Susilo Hartonon (Jakarta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Eddy, mereka umumnya akan menampilkan karya lukis dua dimensi dengan berbagai corak sesuai pengalaman estetikanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika melihat karya mereka, terutama yang dipamerkan, mungkin tidak kalah dibanding perupa sungguhan. Meski beberapa orang di antaranya memiliki latar belakang seni rupa, seperti Ipong Purnama Sidhi, Remy Sylado, Bambang Sapto, Didi S Basoeni, Herman HIS, Nani Sakri, dan Deddy PAW," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, minimal dengan pameran lukisan itu dapat menjadi wahana apresiasi sekaligus sebagai rujukan pribadi antara perupa dengan karyanya. "Karena berkarya seni adalah aktivitas artistik, dan bukan hanya selalu dengan aktivitas rutin seperti halnya mencari berita," tutur Eddy. [Tma, Ant]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-8012324981046236016?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/8012324981046236016/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/wartawan-bandung-dan-jakarta-gelar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/8012324981046236016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/8012324981046236016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/wartawan-bandung-dan-jakarta-gelar.html' title='Wartawan Bandung dan Jakarta Gelar Pameran Lukisan'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-6487732398870455980</id><published>2011-10-15T18:12:00.000-07:00</published><updated>2011-10-16T08:31:44.115-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Seni Rupa'/><title type='text'>Adakah Spirit Orang Minang dalam Seni Rupa?</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;PERUPA Minangkabau (Sumatra Barat) se-Indonesia menggelar pameran seni rupa di Galeri Nasional Indonesia (GNI), Jl Medan Merdeka Timur 14, Jakarta Pusat, pada 3-12 Juni lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dibungkus tema Mempertimbangkan tradisi, pameran ini menjadi refleksi adat atau budaya masyarakat Minang yang terkenal sebagai perantau.Sejumlah 118 karya dari 111 perupa, ikut mewarnai pameran yang dikuratori Mamannoor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai corak dan tema karya, menghiasi ruang pamer tersebut.Tak pelak, dinding GNI penuh oleh karya yang memang berdesak-desakan itu, jumlahnya memang banyak, seakan tidak memberi ruang kontemplatif bagi pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak catatan dari pameran ini yang bisa dikemukakan. Pertama, arus mainstream atau 'pusat' kemajuan peradaban akan memengaruhi atau menggilas sebuah tradisi lokal secara besar-besaran akibat pertarungan hegemoni.Kenyataan ini terlihat dalam karya-karya urang awak itu yang mendalami seni rupa akademik, terutama di dua perguruan besar seni rupa, yaitu ITB dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama perupa seperti Rizal Mantovani, Handiwirman, Yusra Martanus, Yunizar, yang karyanya ikut dipamerkan kini, sangat riuh dengan karya kontemporer yang sedang menjadi demam di ISI Yogya, ITB, dan perguruan tinggi seni rupa lainnya di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca biodata perupa, lebih dari 60% perupa yang kini ikut berpameran itu lulusan atau sedang menempuh studi di ISI Yogya. Dua orang dari ITB. Pengaruh pergaulan estetik di ISI dan ITB ini mewarnai mereka dan bukan mereka mewarnai kedua perguruan tinggi itu. Maka benar adanya, pusat cenderung menggilas yang bukan pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, globalisasi atau internasionalisasi juga sedang terjadi di kalangan perupa secara khusus dan di kalangan seniman aliran lainnya. Kemenangan negara-negara modern dalam menanamkan pengaruhnya yang ditunjang oleh berbagai alat komunikasi supercanggih, membuat perupa Indonesia berkiblat ke negara-negara maju. Semangat kontemporerisme yang dicirikan dengan karya-karya representasional, yang sedang digeluti seniman negara-negara maju, seperti menjadi pedoman bagi seni rupawan Indonesia untuk juga melangkah ke jalan yang sedang dipijak seniman internasional itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budayawan Yasraf Amir Piliang, yang lulusan ITB dan kini menjadi dosen di almamaternya, yang merupakan putra Minang, dalam kata pengantarnya pada katalog pameran membenarkan globalisasi menciptakan suasana interconnectedness (kesalingterhubungan) dan interdependence (kesalingbergantungan) di berbagai tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, menciptakan suasana saling pengaruh yang kompleks. Tetapi, pada kasus Indonesia, peradaban luar itu seakan menjadi paling sahih, paling luar biasa.Sehingga, katakanlah, kita hanya menerima pengaruh mereka dan kita tidak bisa memengaruhi mereka. Pada kasus seni rupa, seniman kita lebih banyak mengimpor corak dan teori, dan mungkin tidak pernah berhasil mengekspor corak dan teori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan ketiga, orang Minang yang bertradisi merantau secara geografis, memiliki filsafat di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Tradisi inilah yang memungkinkan orang rantau itu dengan mudah beradaptasi pada sosial kultur di tempat menetap baru mereka.Filsafat bumi dipijak langit dijunjung itu mengandung sinyalemen mereka siap meninggalkan akar tradisinya untuk melebur dengan tradisi masyarakat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini terlihat juga pada pameran yang penyelenggaraannya didukung oleh Galeri Sarah (Padang), Gebuminang (Jakarta), Sakato (Yogyakarta), dan GNI Jakarta.Kalau kita percaya pada ramalan Naisbit pada buku gelombang ketiganya, sesungguhnya locall genius akan menjadi kekuatan bagi orang Asia, termasuk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, perlambang bagi subkultur di Indonesia akan muncul ke permukaan internasional sebagai new world atau new wave. Hal ini yang seharusnya disadari dan dijadikan patokan dalam pameran yang bertajuk Mempertimbangkan Tradisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran seni rupa Minangkabau ini baru tampak sebatas 'mengabsen' atau memetakan corak dan isme perupa putra Minang. Sehingga, empat subtema yang digarisbawahi oleh kurator Mamannoor terlihat lebih sebagai siasat untuk menampung perbedaan corak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat subtema itu Tradisi alam dan masyarakat Minangkabau, tradisi keagamaan dan spiritualitas religius, tradisi dan perubahan, serta tradisi kemasakinian.Mamannoor tidak membaca mainstream dari budaya Minang dengan spirit orang Minang. Dalam pada itu, kita juga bisa bertanya, adakah spirit orang Minang dalam seni rupa? Pertanyaan ini perlu direnungkan siapa tahu apa yang diramalkan Naisbit itu akan benar adanya. Alangkah ironis, bahkan mungkin tragis, ketika orang luar justru menengok tradisi subkultur Indonesia, malah seniman Minang ramai-ramai meninggalkan local genius-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui orang Minang ini memberi pengaruh besar di Indonesia. Terdapatnya rumah makan padang di seluruh kawasan Indonesia atau munculnya tokoh-tokoh seperti Mohammad Hatta, Agus Salim, Syahrir, M Natsir, Buya HAMKA, hingga Zaini dan Nashar, menegaskan orang Minang memiliki tradisi intelektualitas yang kuat. * Doddi AF/B-5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media Indonesia, Senin, 14 Juni 2004.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-6487732398870455980?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/6487732398870455980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/adakah-spirit-orang-minang-dalam-seni.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/6487732398870455980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/6487732398870455980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/adakah-spirit-orang-minang-dalam-seni.html' title='Adakah Spirit Orang Minang dalam Seni Rupa?'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-2599758322016774853</id><published>2011-10-15T18:07:00.000-07:00</published><updated>2011-10-16T08:24:41.331-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Pertunjukan'/><title type='text'>Teater Populer Mencoba Menghibur di Antara Kepalsuan Hidup</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks Doddi Ahmad Fauji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a class="isiberita" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6085450534307611177&amp;amp;postID=2599758322016774853&amp;amp;from=pencil"&gt;&lt;img align="right" border="0" src="http://www.jurnalnet.com/file/popular/resensi/Teater%20Populer.jpg" /&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt; Adakah seorang penyair identik dengan si pemberontak? Adakah si perajut  kata itu --sekalipun ia seorang hipokrit-- dapat menjadi personifikasi  dari si penguak kemunafikan? Kita bisa saja setuju, tapi boleh juga  ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, dalam lakon Julieus Caesar-nya Shakespeare,  penyair itu diibaratkan duri dalam daging yang harus segera dicabut.  Tidak mematikan memang, tetapi menyakitkan bila dibiarkan. Maka Caesar  pun bertanya, ''Siapa kamu?'' "Saya penyair!'' ''Negara tidak  membutuhkan penyair. Gantung dia!'' Dan penyair itu pun diseret ke tiang  gantungan. Dan di masa Orde Baru, si Burung Merak menjadi simbol dari  perlawanan. Dan pada pertunjukan Pakaian dan Kepalsuan (PdK) oleh Teater  Populer, pembacaan puisi Chairil Anwar bertajuk Sia-sia pun menjadi  pembuka tontonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih menegaskan bahwa penyair dalam lakon PdK adalah orang-orang  kritis yang dengan berani membongkar hipokrisi, ditampilkan wajah  almarhum Munir dengan menggunakan alat proyektor. Wajah Munir tampil di  bagian awal dan akhir pertunjukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambiguitas itu terlihat pula pada pertunjukan PdK yang disutradari aktor  Slamet Rahardjo Djarot, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki,  Kamis (2/12) malam kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada babak-babak awal, diperlihatkan, si penyair itu (dimainkan oleh  Alex Komang) ternyata 'demen' juga kepada si penjaja seks komersial (Ria  Probo). Tetapi di pertengahan pertunjukan hingga akhir, si penyair itu  dikisahkan menyerupai seorang santo. Ia tidak betah melihat kemunafikan  orang-orang yang mengaku diri sebagai veteran perang kemerdekaan, yang  menikmati hari tua sebagai orang sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke sebuah rumah makan Bakmie Djawa/Stup Alpuket, berkunjunglah para  pembohong itu, yaitu Abu, pejabat tinggi di sebuah kementerian  (Slamet  Rahardjo Djarot), Samsu, saudagar kaya (Muhammad Sunjaya), Sumantri,  calon duta besar (Eric MF Dayoh) dan istrinya (Niniek L Karim). Di  warung itu telah hadir lebih awal pengunjung setia, Hamid (Alex Komang)  dan Rustam (Andi Bersama). Berkisahlah mereka mengenai masa-masa di saat  mereka berjuang mengusir penjajah. Kisah mereka begitu heroik, dan  pantaslah kalau kini bisa menikmati hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di meja yang lain, penyair dan temannya yang sedang main catur, merasa  terganggu oleh bualan-bualan mereka. Akhirnya penyair mendatangi meja  mereka, dan mengatakan supaya mereka jangan membual, dan sebaiknya  segera mengakui diri mereka yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang itu tersinggung dan melecehkan penyair. Di luar dugaan,  penyair mengeluarkan pistol kuno yang tidak berpeluru, dan  menodongkannya ke mereka. Kini mereka dipaksa mengakui eksistensi yang  sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon PdK sering dimainkan oleh berbagai kelompok teater di seluruh  Tanah Air, termasuk kelompok teater mahasiswa. Tiap kelompok tentu  memiliki interpretasi dan memperlakukan lakon PdK dengan beragam. Sebab  pertunjukan Teater Populer ini digelar dalam rangka festival Panggung  Teater Realis Indonesia yang diselenggarakan Komite Teater Dewan  Kesenian Jakarta pada 26 November hingga 2 Desember, tentu Slamet  Rahardjo memanggungkan PdK dalam corak realis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sepekan festival teater realis itu, pertunjukan Teater Populer  adalah yang paling berhasil memberikan pencerahan sekaligus menghibur  penonton. Teater Populer berhasil meyakinkan penonton, bahwa ada pesona  dalam pertunjukan teater yang bercorak realis. Ada gereget yang  menggetarkan, ada hiburan yang menggelitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu, tentu saja, lahir dari suatu keterampilan akting para aktor  Teater Populer dalam PdK yang bisa dikategorikan  telah sampai pada  tingkat kewajaran berperan dengan takaran yang pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh disebut, semua aktor bermain dengan sangat wajar. Tidak indikatif,  juga tidak artifisial. Walau kita tahu teater adalah sandiwara, tetapi  para aktor itu seperti sedang menjalani kehidupan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertunjukan PdK itulah tampak kematangan para aktor. Teater Populer  dikenal sebagai grup yang berkiblat pada jenis komedian. Tetapi di atas  panggung, mereka tidak berkomedi. Mereka benar-benar berteater.  Sehingga respons penonton dalam bentuk aplaus maupun tawa yang  membuncah, tidak membuat mereka lantas lupa diri, dan kemudian melakukan  improvisasi untuk menonjolkan diri, hal yang sering dilakukan oleh  aktor-aktor komedian yang belum matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada yang mengganggu pada pertunjukan PdK itu, adalah akting  Alex Komang yang kurang intens di bagian pertengahan. Pada saat membuka  pertunjukan, akting Alex begitu meyakinkan dan realistis. tetapi saat  menggenggam pistol dan menodong para pembohong, akting Alex terlihat  mengendur. Bahkan cara dia menggenggam pistol kurang meyakinkan. Alex  memperlakukan pistol itu seperti mainan, bukan sebuah benda yang bisa  mencabut nyawa. Sehingga, kalau pistol itu digantikan dengan mainan yoyo  dan diandaikan sebagai pistol, rasanya tidak terjadi perbendaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hampir 10 tahun tidak tampil di panggung, kemampuan Teater  Populer ternyata tidak melorot. Penonton GBB pun penuh, hingga harus ada  yang lesehan hingga tiga baris di bagian depan panggung. Seandainya  semua pertunjukan teater di TIM memiliki kualitas standar seperti Teater  Populer yang dikenal banyak mencetak aktor film handal, tentu dunia  teater dan film di Tanah Air akan lain ceritanya. Sayangnya, kita baru  bisa berandai-andai.***&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tulisan ini pernah dimuat di Media Indonesia &lt;a class="penulis" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6085450534307611177&amp;amp;postID=2599758322016774853&amp;amp;from=pencil"&gt;(07/12/2004)&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-2599758322016774853?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/2599758322016774853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/teater-populer-mencoba-menghibur-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/2599758322016774853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/2599758322016774853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/teater-populer-mencoba-menghibur-di.html' title='Teater Populer Mencoba Menghibur di Antara Kepalsuan Hidup'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-5555783556262170217</id><published>2011-10-15T18:00:00.000-07:00</published><updated>2011-10-15T18:00:40.296-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obituari'/><title type='text'>Perginya Sang Pionir</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Suatu malam di tahun 1994, saya, Deden A. Aziz, dan Wan Anwar  menghadapi suatu resital; Kami akan membacakan puisi-puisi kami yang  dihimpun dalam antologi stensilan berjuluk “Rumah Kita”, di Gedung  Kesenian Rumentang Siang, Bandung, yang ditaja Forum Sastra Bandung  (FSB) atas kemurahan ketuanya, Juniarso Ridwan. &lt;br /&gt;Kami meminjam bus milik kampus, dan mengumumkan siapa yang mau ikut  menonton akan dapat tumpangan gratis. Maklum, pembacaan puisi sering  kali suwung apresiator, terasa sepi ing pamrih, nun jauh dari pikuk  fiesta yang dinikmati para penghelat pop art. Hanya segelintir penyair  besar yang bisa mendatangkan berjubel penonton. Adapun kami, kala itu,  masih dalam kategori “penyair calon” yang puisinya baru bisa menghiasi  koran lokal, dan kami merasa belum memiliki penggemar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, resital kepenyairan malam itu harus ditonton untuk  memperkukuh keyakinan kami. Kami pun merayu beberapa dosen yang  akomodatif supaya “mewajibkan” para mahasiswa untuk menonton. Maka  terjadilah “bedol kelas” dari IKIP Bandung (sekarang UPI) ke Rumentang  Siang, dengan menggunakan bus kampus. Penonton cukup banyak. Juniarso  ikut puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, Juniarso Ridwan sering mengontak kami untuk mengerahkan  mahasiswa IKIP sebagai penonton acara-acara FSB. Pembacaan puisi oleh  Sutardji Calzoum Bachri, Leon Agusta, dan lain-lain, yang  diselenggarakan FSB, sering ditempatkan di IKIP Bandung karena  penontonnya selalu meruyak. Sejak itu pula, dari IKIP Bandung berlahiran  para penulis sastra, hingga saat ini. Tentu sebelumnya sudah banyak  bermunculan senior kami sebagai penulis kreatif, tetapi tidak sesubur  setelah generasi kami. Kami menyombongkan diri bahwa kami telah  membangun rumah kreatif baru untuk melahirkan para penulis baru.&lt;br /&gt;Peletak dasar fondasi Rumah Kami, tak bisa disangkal, adalah Wan  Anwar. Saat semester dua, puisi Wan Anwar dimuat di Pikiran Rakyat untuk  pertama kalinya. Peristiwa penting ini langsung membakar banyak orang.  Saya ikut mendidih, membuat saya jadi giat belajar menulis puisi, sampai  ikut pelatihan pers kampus. Namun puisi yang saya cipta, belum juga  bisa dimuat di koran-koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam saya berkunjung ke indekost Wan Anwar, dan memintanya  menganalisis puisi-puisi yang saya tulis. Dia menguraikan kekurangan dan  kelebihan puisi saya, menjelas-tegaskan hakikat dan metode puisi dengan  kata-kata yang meluncur lancar, mudah dipahami. Saya terpesona, dan  turunlah testimoni yang tidak pernah saya sampaikan kepadanya; ia  berbakat dalam membabakbeluri suatu masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sangat serius ingin menjadi penyair, ingin jadi penulis.  Semangatnya menyala-nyala. Pada mesin ketiknya, ia sematkan plakat kecil  bertuliskan “Sang Penulis!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sering memadamkan lampu neon menjelang dini hari, dan menggantinya  dengan lilin. Ia menghisap kretek ditemani kopi pahit, lalu menarikan  jemarinya pada tuts mesin ketik di keheningan dini hari. Suara mesin  ketik setiap malam selalu terdengar berdetak syahdu. Dibasuh udara  kawasan Ledeng yang dingin, berlahiranlah puisi-puisi liris dari mesin  ketik Wan Anwar yang kami gunakan bergiliran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di angkatan kami, Wan Anwar adalah pelopor penulis dari kalangan  mahasiswa tingkat kemarin sore. Itulah yang mendorong saya mendukungnya  untuk jadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra  Indonesia (Hima Jurdiksatrasia) IKIP Bandung. Wan Anwar menang. Ia pun  membuka sekretariat Hima Diksatrasia siang dan malam sebagai “Rumah  Kita”, yaitu tempat menggelandang tetapi harus kreatif. Kami sering  begadang sebagai bagian dari proses kreatif. Malam-malam, kami  bergiliran membacakan puisi karya penyair besar dan mendiskusikannya.  Bergiliran pula membacakan karya sendiri, dan saling mengkritik. Dalam  soal mengkritik karya, Wan Anwar tak terkalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam-malam, kami sering ngawawaas suasana. Kami tidur di bawah pohon  beringin beralaskan tikar di depan Gedung Partere, atau pergi ke Gunung  Batu di Lembang. Semua itu dilakukan dengan keluguan dalam rangka  menangkap ilham, sebagaimana para kawon di zaman empu-empu melakukan  incognito di mayapada senyap guna “mengalami” yang sesungguhnya marwah  esthetic mengalir deras ke dalam sukma, lalu lahirlah kakawin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat kreatif yang dipelopori Wan Anwar itu berimbas positif.  Puisi Deden A. Aziz dimuat di “PR”, puisi saya menyusul di Bandung Pos,  menyusul Nenden Lilis A., Tateng Gunadi, Herwan F.R., hingga generasi  berikutnya. Sewaktu Wan Anwar menjadi Ketua Hima, kami mendirikan unit  kegiatan setingkat kampus, yakni Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS),  dengan Deden A. Aziz terpilih sebagai ketua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASAS mendapat pengakuan bukan saja di Bandung dan Jawa Barat. Kami  dikontak oleh Ahmadun Yossi Herfanda untuk mengumpulkan puisi-puisi anak  ASAS, dan ia memuatkannya di Harian Republika. Rendra menyampaikan  pujian. Setelah ada ASAS, daya jelajah puisi-puisi kami makin jauh,  memasuki koran-koran yang terbit di Jakarta, seperti Mutiara, Suara  Karya, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Pelita, Republika, dan  lain-lain, bahkan Herwan F.R. rajin menulis resensi buku di Republika,  sesekali di Kompas. Juga sampai-sampai kritikus Korrie Layun Rampan  memasukkan karya beberapa alumni ASAS ke dalam antologi “Angkatan 2000  dalam Karya Sastra”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASAS pernah nyaris mati karena politik kekuasaan mahasiswa berubah.  Sekretariat Hima dikuasai oleh kelompok fundamentalis “kanan”, membuat  kami dan ASAS terusir dari sekretariat Hima Diksatrasia. Wan Anwar  menyelamatkannya. Ia memindahkan sekretariat ASAS ke kamar indekostnya.  Tetapi kemudian Wan Anwar sakit dan harus cuti. Ginjalnya kacau. Deden  dan saya lebih berkonsentrasi di unit teater. ASAS pun vakum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cuti setahun, ternyata Wan Anwar sembuh dan balik ke kampus.  Pada 1996, ASAS dihidupkan lagi atas prakarsanya. Pada 1997, kami  meninggalkan kampus dengan memenuhi doktrin gelandangan kampus; kuliah  tepat waktu tujuh tahun. Saya dan Wan Anwar melamar ikut jadi dosen di  IKIP, tetapi sama-sama tidak lolos. Ada rasa sedih, mengapa alumnus  sekualitas Wan Anwar tidak diterima jadi dosen di almamaternya? Saya  bermigrasi ke Jakarta dengan bekerja di harian Media Indonesia, dan Wan  Anwar ke Serang dengan menjadi dosen di PTS Untirta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untirta berubah status jadi Perguruan Tinggi Negeri. Memasuki periode  ini, Wan Anwar bekerja lebih keras. Ia bersedia diminta Taufik Ismail  bekerja di Majalah Sastra Horison, dan mengembara bersama para sastrawan  dalam acara Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) ke beberapa kota. Ia  juga meneruskan kuliah di Universitas Indonesia Depok, hingga meraih  gelar master humaniora. Ia menjadi Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan  Sastra Indonesia di Untirta pada usia yang relatif muda. Dan seperti  dulu di IKIP, ia pun sering melakukan “bedol kelas” dengan menggiring  mahasiswanya ke acara-acara sastra, hingga ke Jakarta atau Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merelakan salah satu rumahnya untuk ditempati mahasiswanya yang  mau kreatif. Di rumah itu, didirikanlah organisasi Kubah Budaya. Ada  saya dengar satu dua anggotanya menjadi penulis yang mulai  diperhitungkan. Merelakan rumah resminya menjadi sekretariat gelandangan  kreatif, mengingatkan saya saat ia membuka sekretariat Hima Diksatrasia  di IKIP Bandung bagi para gelandangan dengan syarat harus kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam soal ini, ia seorang pelopor, dan alam unconsciousness-nya  berujar; // Semua akan luput, semua telah cukup/ tuhan, ya tuhanku, aku  menangis ketika sadar/ begitu banyak yang harus kurelakan.// (“Di Sebuah  Pesta”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wan Anwar sudah merelakan banyak hal, termasuk jiwa dan raganya. Akan  tetapi ada satu obsesinya yang tidak kesampaian. Ia menginginkan  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tempatnya mengajar, menjadi  Fakultas Ilmu Budaya seperti yang terdapat di UI, Unpad, dan perguruan  tinggi-perguruan tinggi bergengsi lainnya. Untuk mengubah FKIP jadi FIB,  pada fakultas itu minimal harus ada tiga dosen bergelar doktor. Wan  Anwar pun melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia Depok guna meraih  gelar Doktor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Depok ia menulis lirik “Depok Suatu Sore” yang berbunyi: aku kenang lagi air mata berjatuhan… /maut menggeliar dari sukmaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi itu mungkin terlalu jauh untuk direngkuh, terlampau keras untuk  ditaklukkan oleh ginjalnya yang kembali tidak normal. Sampai akhirnya,  saya harus membacakan doa untuk penyair dan sang pionir ini. Alfatihah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian &lt;/em&gt;Pikiran Rakyat&lt;em&gt; (Bandung), 29 November 2009.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-5555783556262170217?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/5555783556262170217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/perginya-sang-pionir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/5555783556262170217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/5555783556262170217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/perginya-sang-pionir.html' title='Perginya Sang Pionir'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-5896652074384213420</id><published>2011-10-15T17:29:00.005-07:00</published><updated>2011-10-15T17:29:40.882-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cantelan'/><title type='text'>UNTIRTA TRIES TO BREAK 'LITERATURE DEADLOCK'</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;&lt;a href="http://alphaamirrachman.blogspot.com/2006/02/untirta-tries-to-break-literature.html"&gt;&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;&lt;strong&gt;First published in &lt;i&gt;The &lt;/i&gt;Jakarta&lt;i&gt; Post&lt;/i&gt;, February 5, 2006&lt;/strong&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;UNTIRTA TRIES TO BREAK 'LITERATURE DEADLOCK'&lt;/strong&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Alpha Amirrachman&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;Contributor, Serang, Banten&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;In this era of global capitalism, materialism has rigorously marginalized the value of humanity. In education, for example, subjects that are perceived to be able to broaden one's knowledge and skills to survive in the era, such as economics, have become the darling among many students.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Education is now merely taken for jobs -- for money -- and no longer for molding character by instilling values such as honesty, sensitivity and tolerance. Other social sciences that are somewhat considered to be "less money-oriented", such as Indonesian literature, are increasingly marginalized. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"So we need to break this `literature deadlock'," argued Wan Anwar, head of the Literature and Bahasa Indonesia Department of the Faculty of Education at Sultan Ageng Tirtayasa State University (Untirta) in Serang, Banten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The department conducted a one-day seminar called "Enhancing the Quality of Literature and Bahasa Indonesia Teaching at School" on December 17, 2005. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While it was open to the public, the seminar attracted many schoolteachers, particularly from Banten province, as it aimed to explore an enjoyable but effective way of learning and teaching literature at school. &lt;br /&gt;Guest speakers of the seminar were Riris Sarumpaet, an Indonesian literature professor from the University of Indonesia, Abdul Chaer, an expert on teaching Bahasa Indonesia from Jakarta State University (UNJ), and Ahmadun Y. Herfanda, a Jakarta-based poet whose poetry and short stories have been widely published in the national media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riris, who is also chairwoman of the Association of Scholars of Indonesian Literature (HISKI), lamented that many Bahasa Indonesia teachers needed to respect the profession that they had chosen for themselves, and should not lose their zest for teaching literature. Riris urged that the teachers "re-internalize" literature. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"How many of you cry when you read a heart-breaking poem? How many of you really urge your students to appreciate literature and explore the depths of its meaning?" she challenged the overwhelmed audience. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meanwhile Abdul Chaer, a prolific writer of books on linguistics, shared his long-time experience in teaching Bahasa Indonesia. He specifically defined literature as a "language phenomenon" that has received appreciation around the world, but not so much in this country. He shared the theoretical and academic aspects of teaching literature, and also practical know-how to tackle potential problems in class. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmadun Y. Herfanda, drawing upon his creative experience as a poet, said expectations were high that the study of literature would not merely end with a mastery of literary theory, but also with a sufficient degree of writing skills. Succumbing to the audience's enthusiasm, Ahmadun eventually read a few of his poems in his usual, unique aura of spirituality. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhaps because of this encouraging atmosphere, several participating teachers began to stand and address questions to the speakers, while others read their own poems to the applause of their colleagues. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;More notably, the participants appeared delighted that the seminar also marked the inauguration of the Banten branch of HISKI. HISKI Banten is headed by Untirta's Chussaery and Yudi Juniardi as, respectively, chairman and secretary. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untirta is very much aware of the problems faced by teachers -- particularly literature teachers -- ranging from conflicting government policies to insufficient facilities and to low salaries. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is because of this that the department has initiated regular activities to promote literature awareness among HISKI students, such as the bimonthly "Afternoon Appreciation" program, which that involve students to encourage them to appreciate literature through reading, writing and performing plays. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The program has invited many figures from the literary and cultural communities, including: Jakarta-based poet Jamal D. Rahman, Yogyakarta-based short story writer Joni Ariadinata, Tangerang-based short story writer Khusnul Khuluqy, Bandung-based drama actor Ayi Kurnia Iskandar, Bandung-based actor Wawan Sofwan, Bandung-based novelist Dewi Sartika, Jakarta-&lt;b&gt;based poet Dodi Ahmad Fawdzy and Chaedar Alwasilah&lt;/b&gt;, a professor of English at Indonesian Education University of Bandung (UPI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The program was also marked by the launch of a book by several Aceh-based poets titled &lt;i&gt;8.9 Skala Richter, Lalu Tsunami&lt;/i&gt; (8.9 on the Richter scale, then the tsunami).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For 2006, it plans to invite Taufiq Ismail, a senior man of letters, novelist Gola Gong and Lampung-based poet Isbedy Setiawan, who has earned the title of "the pope of Indonesian literature". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poet Wan Anwar, who is also an editor of national literary magazine &lt;i&gt;Horison&lt;/i&gt;, cannot agree more with Riris that during the contemporary era, in which moral degradation is so pervasive and corruptors rule this country, "people in the literary community can come to the fore as a moral force by sharing with our students the spirit of humanity, the values of which are abundant in the world of literature". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But he also stressed that "we need earnest cooperation from all concerned parties to make this possible -- to make literature an enjoyable and meaningful subject at school".&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;The writer is a lecturer of the Faculty of Education at Sultan Ageng Tirtayasa State University, and also contributes opinion pieces to &lt;b&gt;The Jakarta Post&lt;/b&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-5896652074384213420?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/5896652074384213420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/untirta-tries-to-break-literature.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/5896652074384213420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/5896652074384213420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/untirta-tries-to-break-literature.html' title='UNTIRTA TRIES TO BREAK &apos;LITERATURE DEADLOCK&apos;'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-2427754793394091394</id><published>2011-10-15T17:08:00.000-07:00</published><updated>2011-10-16T07:52:42.483-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perbincangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imam B Prasodjo: Harus Dibantu Pasukan Khusus'/><title type='text'>Imam B Prasodjo: Harus Dibantu Pasukan Khusus</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;Media Indonesia - (7/2/2000)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNTUK mencermati apa yang tengah terjadi di Ambon-Maluku dan efektivitas darurat sipil dalam menghentikan konflik bernuansa SARA, &lt;b&gt;Doddi AF &lt;/b&gt;dari Media mewawancarai sosiolog dari Universitas Indonesia, &lt;b&gt;Imam B Prasodjo&lt;/b&gt;. Berikut petikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana sesungguhnya tipikal masyarakat Maluku sehingga mereka terus bertikai?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Secara rinci saya tidak tahu, perlu studi pemahaman yang mendalam. Masyarakat Maluku secara sepintas sekarang ini telah tersekat-sekat, terbelah oleh fragmentasi keagamaan salah satunya. Dinding penyekat itu sudah begitu tebal. Sehingga tidak ada saluran-saluran sosial atau sociotrans yang bisa menghubungkan mereka untuk saling percaya. Kalaupun ada, sangat rendah. Hal ini terjadi karena konflik yang berlarut-larut dan tidak terselesaikan. Itu tidak saja menebalkan dinding-dinding penyekat, tapi sekarang ini menciptakan kobaran dendam yang begitu tinggi untuk saling melumatkan. Seperti itu masyarakat Maluku sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jika demikian adanya, selain tidak bisa meredam, pemimpin agama bisa jadi ikut memperluas konflik, misalnya dengan adanya laskar-laskar sipil yang dikoordinasi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Harus kita pahami bahwa pada saat-saat seperti ini, saya sendiri tidak tahu persis mengapa konflik itu bisa berkepanjangan seperti ini. Tentu ada satu doktrin yang dibungkus, baik itu oleh keyakinan keagamaan atau yang lainnya. Doktrin itu memberikan legitimasi yang kuat bahwa satu pembunuhan atau pelumatan massal, itu sah dilakukan. Kita harus ingat, ada proses aksi dan reaksi. Nah, yang dari kalangan muslim menganggap bahwa kerusuhan terjadi karena mereka diserang lebih dulu dan korbannya cukup banyak. Sementara tidak semua orang Kristen terlibat dalam penyerangan. Tapi karena penyerangan yang terjadi dibalas dengan penyerangan lagi, yang tidak terlibat menyerang bisa menjadi korban, lalu balas menyerang. Nah, konflik kian melebar. Dalam situasi seperti ini, harusnya pencegahan awal dilakukan dengan melokalisasi orang-orang yang menjadi pelaku tindak kekerasan. Tapi itu tidak dilakukan pemerintah. Akhirnya, makin melebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena pasukan Jihad itu adalah efek dari melebarnya tindak kekerasan yang tidak pernah dihentikan secara efektif. Nah, di kalangan nonmuslim pun, fenomena `Pasukan Jihad` saya lihat juga terjadi. Dan, mereka akan terus serang-menyerang kalau tidak segera dihentikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Lalu peran pimpinan formal maupun informal yang sentralistis memang sudah tidak digubris?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan di sana sekarang sulit diindentifikasi secara sentralistis. Soalnya kerusuhan terjadi block to block. Misalnya begini, di Waehaong, Ambon, tidak jelas siapa yang paling berkuasa dan paling berpengaruh, karena terjadi krisis kepemimpinan lokal. Di sana bisa jadi memang ada tokoh agama dan juga tokoh pemuda, tapi ada juga tokoh-tokoh di pinggiran jalan. Atau, mungkin juga ada orang-orang yang sama sekali tidak pernah tentu tapi bisa juga menjadi pemimpin perlawanan. Di Kudamati, daerah Kristen yang paling angker, kita tidak tahu siapa sesungguhnya yang paling berpengaruh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang namanya tokoh agama atau tokoh formal yang sentralistis yang bisa berpengaruh. Ini yang membuat kita harus mengadakan social meeting antarwilayah. Hingga pada saat perdamaian dilakukan, maka yang dilibatkan bukan tokoh agama atau tokoh adat saja. Tapi juga berbagai elemen, sebut saja preman, pedagang-pedagang yang sekarang jadi penganggur. Kalau yang bertikai di Ambon itu ada tatanan masyarakatnya, ada hierarki kepemimpinannya, jelas peranan yang satu dengan yang lain, itu gampang diidentifikasi. Jadi di Ambon sudah tidak jelas lagi, siapa mengomandoi siapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi sebelum terjadi pertikaian, pasti ada pimpinan formal dan informal yang sentralistis, apakah mereka kurang berwibawa?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Otomatis sebetulnya ada, tapi kita tahu sendiri, efek dari sentralisme kekuasaan yang sebetulnya itu memerankan peran-peran birokrat formal yang terlalu besar, itu melemahkan kalau tidak boleh disebut menghancurkan peran pemimpin lokal. Jadi semua struktur aktivitas masyarakat sangat didominasi oleh tokoh-tokoh formal, Tokoh informal menjadi impoten. Nah kini, tokoh informal sudah impoten, sedangkan pimpinan birokrasi militer tidak bisa bertindak secara baik, maka terjadi kefakuman sosial. Tatanan itu cenderung memudar. Semua melemah. Tidak ada norma-norma pengendalian yang bisa kita andalkan sekarang ini. Yang ada adalah fragmentasi-fragmentasi kepemimpinan. Misalnya saya datang ke Ambon, di setiap wilayah semua orang mengaku jadi pimpinan pasukan. Ketemu orang ini, katanya komandan lapangan. Ketemu yang lain lagi, juga mengaku komandan lapangan. Itu kan kacau. Di Galela juga begitu. Kita tidak mengerti siapa menjadi komando siapa, siapa memimpin siapa. Nah ketika tawuran hari `H`-nya terjadi, ada pasukan-pasukan kecil yang tidak jelas siapa komandonya, itu problem kita sekarang. Kalau semuanya ada struktur komandonya yang jelas, hierarki yang jelas, dengan tatanan yang sistematis, mungkin bisa dilakukan pendekatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apakah darurat sipil yang diberlakukan Presiden Gus Dur akan berhasil meredam pertikaian?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tergantung. Kalau pelaksanaannya terkontrol, terkendali, itu akan efektif. Tapi kalau misalnya cara melakukannya serampangan, dan mengakibatkan situasi malah menjadi reaktif, jelas perdamaian akan sulit sekali. Korban akan lebih besar. Karena itu kita mengusulkan tarik semua pasukan yang sudah ada di sana yang secara emosional sekarang ini mereka memang terlibat dalam kerusuhan. Polisi kan dikesankan mayoritas membantu kelompok merah (Kristen), sedangkan tentara dituding membantu kelompok putih (Islam). Jadi, harus dibantu pasukan khusus pembuat perdamaian dan pasukan pemelihara keamanan. Komandannya jelas, tidak terfragmentasi pada polisi, tentara, marinir. Memang susah menyatukan berbagai angkatan, tapi kalau tidak ya lebih rumit sebab setiap seragam pihak keamanan memiliki simbol sendiri. Selain itu, pasukan ini perlu monitoring system, diawasi supaya kalau ada pelanggaran bisa cepat ditindak pula. Itu sebabnya pers juga harus dilibatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Secara makro, kerusuhan di sejumlah daerah cepat meluas di mana-mana setelah Soeharto lengser. Apakah ini ada korelasinya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mau ngomong sedikit teoritik, begini, kita pada dasarnya sudah tersekat-sekat baik atas dasar etnik, ras, agama, dan lain-lain. Ikatan-ikatan itu sering kali terintegrasi, menyatu dengan wilayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ketersekatan secara etnik tadi sekaligus juga terjadi secara geografis. Pada saat Orde Baru berkuasa, terjadi proses sosial yang luar biasa. Proses ini sering kali tidak memberikan kesempatan kepada mekanisme lokal untuk mengadaptasikan diri dengan perubahan yang ada. Sebagai contoh misanya Ambon, pada awalnya birokrasi pemerintah dipegang kelompok Kristen karena pendidikan mereka memang lebih di atas rata-rata. Strukturnya begitu karena warisan Belanda. Tapi setelah kemerdekaan, terjadi perubahan sosial dan orang-orang pintar yang dihasilkan pendidikan juga banyak dari kalangan orang Islam juga. Nah mereka mulai pula menduduki birokrasi, entah di pemerintahan atau di kampus, dan sebagainya. Kalau hal ini tidak diajarkan adanya suatu perubahan baru, yang akan terjadi jelas ketegangan-ketegangan. Apalagi perubahan-perubahan sering kali disertai intervensi kekuasaan yang terus menimbulkan ketidakadilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tapi, khusus kasus Ambon-Maluku, belakangan berkobar karena sentimen agama....&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yang tampak di permukaan memang itu, yang menjadi bungkus dari pertikaian dalam persepsi kebanyakan orang memang masalah agama. Tapi itu kan benih dari proses sebab-akibat yang panjang yang tidak bisa disederhanakan atau direduksi ke dalam agama. Misalnya begini, di antara masyarakat yang bertikai itu adalah pendatang dan masyarakat asli. Kebetulan pendatang itu mayoritas BBM (Bugis, Buton, Makassar) misalnya, yang kebetulan beragama Islam. Sedangkan masyarakat asli yang pada awal-awal konfrontasi melakukan pengusiran terhadap pendatang, adalah kebetulan mayoritas Kristen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mereka yang bertikai itu awalnya memang pendatang dan penduduk asli. Tapi kemudian agamanya berbeda, etnisnya juga berbeda, kebetulan pencahariannya juga berbeda, kebetulan lokasi tempat tinggal mereka juga berbeda. Jadi ada semacam ketersekatan sosial yang dinding-dindingnya makin menebal karena berlapis-lapis seperti itu. Jadi kalau ada sedikit letupan-letupan karena masalah ekonomi misalnya, itu bisa merembet ke masalah agama, etnik, wilayah, dan itu bisa menimbulkan perang antarkampung. Misalnya konflik antara Berlan dan Palmeriam, itu kan awal-awalnya karena sentimen politik. Yang sebelah Golkar sedangkan kampung yang sebelahnya lagi pendukung PPP. Tapi pada saat yang sama, juga menjadi masalah ekonomi karena perebutan lahan ekonomi. Nah di Ambon misalnya suku BBM lawan penduduk lokal yang tidak terima yang Ambon asli, pada saat yang sama, agama berbeda, etnik berbeda, pencaharian berbeda. Tapi kita sekarang lebih mengatakan karena agamanya berbeda kan, padahal juga karena masalah ekonomi kelas menengah ke atas itu kebetulan suku BBM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, orang non-Ambon yang kebetulan berpencaharian pedagang itu di pantai, sedangkan orang-orang asli Ambon bukan pedagang dan tidak berumah di pantai. Jadi terjadi konflik perebutan wilayah, karena daerah pantai lebih strategis. Kemudian juga konflik merambat karena anak-anak para pedagang bisa sekolah dan pintar-pintar. Mereka masuk menjadi pegawai negeri dan duduk pula di birokrasi pemerintahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Akibatnya terjadi kecemasan di kalangan orang Ambon asli?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ya, orang Ambon asli cemas dengan kenyataan ini. Di tengah kecemasan ini orang-orang tidak diajari bagaimana menyikapi perubahan seperti ini, apakah orang pendatang itu harus diusir. Di sisi lain, pemerintah juga tidak pernah mempertimbangkan, ini bagaimana orang-orang asli porsinya menjadi berkurang. Walaupun pegawai negeri mayoritas masih orang-orang Kristen. Tapi kan problemnya bukan minoritas dan meyoritas, kalau dulu dapat seratus, semuanya dapat, sekarang cuma delapan puluh, itu juga bisa kesal. Ada yang menganalisis bahwa jabatan-jabatan atau kedudukan-kedudukan yang sebelumnya diduduki orang-orang Kristen telah diambil alih oleh para pendatang, itu tidak benar. Tapi kalau porsi yang selama ini mereka peroleh menjadi berkurang itu benar. Nah ibarat di Jakarta, banyak orang-orang yang sekolah di UI dari luar Betawi, tapi berapa sih orang Betawi yang sekolah di UI. Ini menjadi problem. Tapi memang kalau orang Betawi mau ribut di Jakarta, kekecilan mereka. Di Ambon, yang merasa kesal dan resah sangat banyak. Lagi pula, para pendatang ke Jakarta itu banyak orang Islam dan dari berbagai suku, nah kesamaan agama ini bisa merekatkan. Tapi di Ambon tidak, pendatang dan asli jelas berbeda agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Daerah mana lagi yang paling rentan pertikaian?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya di Maluku, di banyak daerah. Dan sekarang ada daerah yang paling rentan, misalnya di daerah Sambas, sudah Dayak, miskin, Kristen, penduduk lokal melawan Madura yang pendatang, Islam, relatif lebih kaya. Sudah itu ada sifat-sifat kultur yang sedikit berbeda. Ada perilaku-perilaku kultur yang tidak bisa dipahami oleh kultur yang lain. Orang Madura membawa golok sehari-hari misalnya, itu sudah biasa tapi bagi etnis lain kurang diterima karena membawa golok itu melahirkan imajinasi kekerasan. Persis orang Jawa melihat orang Batak misalnya, kan dianggap kasar. Nah, perilaku-perilaku kultur seperti itu tidak bisa dinilai perilaku kultur yang baik atau yang buruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana dengan isu adanya provokator di balik pertikaian di sejumlah daerah, juga di Maluku?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dari tatanan sosial yang rawan. Baru sekarang kita bicara tentang teori provokasi bahwa di setiap kerawanan sosial selalu ada masalah berupa konflik-konflik elite misalnya, preman-preman tertentu yang karena reformasi dia harus menoleh kanan-kiri karena adanya penertiban-penertiban. Itu yang terjadi di Jakarta, banyak sekali. Mereka tidak bisa mendapatkan lagi lahan yang selama ini digarapnya. Itu yang pertama. Yang kedua, katakan lahannya masih tetap tapi belum tentu bisa melakukan praktek-praktek ekonomi karena sekarang sedang terjadi krisis ekonomi. Mencari rezeki ke mana-mana sulit. Nah orang-orang seperti ini akan melancarkan provokasi, apalagi setelah dihabisi, mereka menghidupkan organized crime kelompok kriminal yang terorganisasi. Nah organized crime ini pada situasi seperti sekarang ini, tidak bisa lagi memiliki lahan ekonomi, mereka akan menciptakan konflik-konflik. Nah kalau di Jakarta sudah tidak bisa melakukan itu, mereka pulang ke daerah-daerahnya masing-masing, misalnya, untuk membuat kekacauan-kekacauan atau memicu tindak kekerasan yang kemudian membakar semua masyarakat yang susunan sosialnya sudah rentan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan lain lahirnya provokator di Ambon akibat dari konflik-konflik elite. Tapi itu semua hanya pemicu. Kalau mau mengadili orang-orang itu, ya pemicu-pemicu atau provokator-provokator itu harus ditangkap. Nah problemnya adalah pemicu-pemicu itu sendiri bisa menyatu dengan orang-orang yang berkuasa, dan pada akhirnya memang suruhannya. Kan jadinya serbasusah./M-3 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-2427754793394091394?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/2427754793394091394/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/imam-b-prasodjo-harus-dibantu-pasukan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/2427754793394091394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/2427754793394091394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/imam-b-prasodjo-harus-dibantu-pasukan.html' title='Imam B Prasodjo: Harus Dibantu Pasukan Khusus'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-5022973947228510941</id><published>2011-10-15T16:40:00.000-07:00</published><updated>2011-10-15T16:40:12.037-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perbincangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Butet Kertaredjasa: Karena Tuntutan Naskah'/><title type='text'>Butet Kertaredjasa: Karena Tuntutan Naskah</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;BUTET Kertaredjasa, kelahiran Yogyakarta, 21 November 1961, sejak 1985 bergabung dengan Teater Gandrik. Putra Bagong Kussudiardjo ini memberikan kontribusi yang cukup besar bagi grup teater yang didirikan di Yogyakarta pada 1981 itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Kakak kandung Djadug Ferianto ini merupakan salah seorang aktor andalan Teater Gandrik. Terlebih lagi setelah Butet --si raja monolog-- sering menirukan suara petinggi negara ini, Teater Gandrik semakin mencuat. Pertunjukan Butet, baik dalam monolog maupun bersama Teater Gandrik, selalu diserbu penonton. Meski demikian, Butet mengaku tidak pernah belajar menirukan suara orang. Wartawan &lt;i&gt;Media&lt;/i&gt; &lt;b&gt;Doddy Ahmad Fawdzy&lt;/b&gt; mewawancarai &lt;b&gt;Butet Kertaredjasa&lt;/b&gt;, di Jakarta, baru-baru ini. Petikannya:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Bagaimana proses latihannya?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Sebetulnya saya tidak bermaksud menirukan suara orang, tapi merupakan eksplorasi dari seni peran. Saya mencoba-coba saja. Saya menafsirkan naskah sedemikian rupa, hingga menemukan sesuatu yang dapat mengingatkan pada sosok seseorang. Suara yang ditiru itu mudah dipelajari karena hampir setiap hari muncul, baik di tv maupun radio. Kita tinggal mengikuti saja waktu orang itu bicara. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Sejak kapan Anda belajar meniru suara orang?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Pada pementasan &lt;i&gt;Geger Wong Ngoyak Macan&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Orde Tabung (1987) bersama Teater Gandrik, saya menirukan suara Harmoko. Pada tahun itu juga saya menirukan suara Soeharto, tapi sedikit-sedikit karena masih tabu. Pada lakon Upeti (1989) bersama Teater Gandrik menirukan suara Soeharto. Itu proses awal latihannya. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Mengapa Anda tertarik menirukan suara orang? Apa mengejar sensasi?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;O, tidak. Itu atas kemausan saya sendiri karena tuntutan naskah. Jika naskah tidak memberikan celah untuk menirukan suara orang, saya tidak perlu melakukannya. Kalau tujuan pementasan adalah menirukan suara, berarti setiap kali ada pementasan saya harus menirukan suara. Contohnya pada pementasan Brigade Maling ini, saya tidak menirukan suara, bukan. Peniruan suara itu adalah interpretasi terhadap naskah, tentang tokoh peran yang harus saya mainkan. Jika tiba-tiba sifat tokoh itu rakus, tamak, jahat, dan despotis, berarti saya harus menirukan suara tokoh anu atas interpretasi saya. Peniruan suara itu merupakan bagian dari disiplin kesenian. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dalam menirukan suara pejabat, apakah Anda menghadapi hambatan psikologis, misalnya takut pementasan dicekal atau diseret ke penjara?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Dahulu iya, karena pemerintahannya tidak waras terhadap seni. Sekarang tidak begitu. Tapi begini, dalam proses peniruan suara itu kan diterapkan konsep jurnalistik, ada peristiwa editing terhadap hasil peniruan suara. Jika suara yang ditirukan itu berbahaya dan sensitif, berarti harus diedit. Dan tentu juga didiskusikan dengan kelompok, karena dalam berteater itu kan ada kerja ensambel. Setiap personel harus saling mengontrol dan mengingatkan. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Bagaimana kalau dalam permainan monolog, segalanya bisa ditentukan sendiri?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;O, tidak. Ada sutradara. Saya kira sama saja. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Jika sutradaranya itu diri sendiri bagaimana?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Di sinilah kita harus bisa membedakan peran antara menjadi aktor monolog dan peran sutradara monolog. Jadi, dia aktor yang harus diatur dirinya sendiri. Sulit memang. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Antara bermain monolog dan bermain kelompok lebih menarik mana?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Sama saja. Keduanya adalah seni peran yang membutuhkan disiplin seni dan proses latihan. Tapi tentu bermonolog lebih melelahkan karena lebih banyak energi yang dikeluarkan. Tapi, saya mendedikasikan kerja itu sama, baik untuk permainan kelompok maupun monolog. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Boleh tahu, belajar teater dari mana?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Secara formal saya tidak pernah belajar. Otodidak saja. Malah sekolah formal saya dari Seni Rupa ISI Yogyakarta. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Kapan mulai tertarik berteater?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Sejak SMP. Di Yogya, ada yang namanya arisan teater. Setiap grup teater bergantian bermain di kampung-kampung. Nah, di kampung saya juga suka ada pertunjukan teater arisan itu. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Selain itu, sekitar 1970-an, ayah saya (Bagong Kussudiardjo, Red) suka mengajak saya menonton latihan teater di Bengkel Teater Yogyakarta pimpinan Mas Willy (Rendra, Red). Saya mengagumi Mas Willy pada saat berlatih dan bermain teater. Saya menjadi tertarik bermain teater. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 7.5pt;"&gt;Media Indonesia, Minggu, 25 Juli 1999.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-5022973947228510941?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/5022973947228510941/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/butet-kertaredjasa-karena-tuntutan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/5022973947228510941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/5022973947228510941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/butet-kertaredjasa-karena-tuntutan.html' title='Butet Kertaredjasa: Karena Tuntutan Naskah'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-6543571090797040957</id><published>2011-10-15T09:04:00.001-07:00</published><updated>2011-10-15T09:05:41.619-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ketika SBY kaget lalu bertanya Loh kok sampeyan ada di sini?'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anekdot'/><title type='text'>Ketika SBY kaget lalu bertanya, Loh kok sampeyan ada di sini?</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kebersahajaan pelukis Nasirun diperlihatkan dengan keterbukaan apa-apa yang dialaminya, termasuk terbuka secara gamblang menceritakan pengalaman-pengalaman yang dilaluinya, tanpa malu atau sungkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ia sudah banyak duit. Seorang kolektor membuatkannya kartu kredit kelas utama BNI yang deposit-nya minimal Rp 1 milyar. Setiap pemilik kartu kredit kelas ini akan menerima undangan untuk &lt;i&gt;gala dinner&lt;/i&gt; misalnya. Nasirun pun menerima undangan gala dinner yang acaranya diselenggarakan di hotel berbintang ternama di Yogyakarta.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Berangkatlah Nasirun dengan motor bebek tua kebanggaannya. Seperti biasa, ia mengenakan kaos oblong dengan rambut diikat kuncir, berpadu dengan celana jins lusuh. Sampai di depan lobby hotel, satpam segera menegurnya, karena sepeda motor tidak boleh melewati jalan menuju lobby itu. Ia diperintahkan memarkir motor di luar.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Bapak tidak boleh membawa motor ke sini, dan Bapak mau ke mana?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Saya akan menghadiri undangan gala dinner BNI,” jawab Nasirun.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Loh itu acara khusus untuk para tamu yang memiliki undangan.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Nasirun mengeluarkan yang ditaruh di balik kaos oblongnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Ini undangan saya.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Satpam itu kaget, sebab seorang yang mengendarai motor bebek tua, pakai kaos oblong, kok bisa menerima undangan gala dinner yang pasti untuk orang-orang kategori VIP. Namun karena undangan itu memang asli dan benar, maka Nasirun pun dipersilakan masuk, dan motor diparkirkan oleh satpam. Yang bertugas memarkirkan kendaraan di hotel biasanya petugas valet. Tapi ini motor yang mau diparkirkan. Terpksa satpam itu yang memarkirkannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Singkat cerita, Nasirun masuk ke dalam ruangan. Ia merasa kesepian dan keder karena tidak ada tamu yang ia kenali. Untunglah ada seorang kolektor yang membuatkannya kartu kredit BNI, memanggilnya, dan mengajaknya satu meja.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Acara makan malam itu dihibur pula dengan pertunjukan monolog oleh SBY (Si Butet Yogya). Sebagai mana diketahui, SBY adalah seorang monologer yang ditahbiskan sebagai raja monolog yang pandai merikan suara pejabat, terutama mantan Presiden Soeharto. Ia juga dikenal suka melakukan improvisasi yang kontekstual. SBY bermonolog dengan memutari meja, berkeliling, sampai akhirnya tiba di meja di mana Nasirun duduk.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Begitu melihat Nasirun, SBY sempat kaget, dan keluarlah kata-kata improvisatoris ini, “Loh, kok sampeyan bisa ada di sini?”&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-6543571090797040957?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/6543571090797040957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/ketika-sby-kaget-lalu-bertanya-loh-kok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/6543571090797040957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/6543571090797040957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/ketika-sby-kaget-lalu-bertanya-loh-kok.html' title='Ketika SBY kaget lalu bertanya, Loh kok sampeyan ada di sini?'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-1656254677848849377</id><published>2011-10-14T22:28:00.001-07:00</published><updated>2011-10-14T22:30:04.491-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nginap Di Hotel Bintang Lima Beli Rokok Di Kios Kaki Lima'/><title type='text'>Nginap Di Hotel Bintang Lima, Beli Rokok Di Kios Kaki Lima</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sekarang Nasirun sudah jadi milyarder. Tapi tetap saja ia seorang &lt;i&gt;ndeso&lt;/i&gt;. Suatu hari, Nasirun menerima undangan untuk berkunjung ke rumah salah satu bos grup Sampoerna, namanya Pak Sunardjo, bermukim di Surabaya. Orang sering menyebutnya Naryo Sampoerna. Di kalangan seniman rupa, nama Naryo Sampoerna tentu cukup dikenal. Dialah kolektor lukisan yang berani mem-bidding lukisan Nyoman Masriadi dengan harga hamper Rp 10 milyar pada sebuah lelang lukisan di luar negeri. Pak Naryo kini tekah mendirikan Sampoerna Art Haouse di Surabaya, sebuah ruang seni yang mewah &lt;i&gt;tenan&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Maka berangkatlah Nasirun ke Surabaya guna memenuhi undangan Pak Naryo. Sepulang dari Surabaya, sang Isteri menceritakan, betapa yang mengundang resah, apakah Nasirun jadi berangkat ke Surabaya. Ajudan Pak naryo menelepon ke rumah Nasirun di Yogya, apakah sang pelukis jadi berangkat ke Surabaya?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Istri Nasirun menerangkan, sang pelukis sudah berangkat ke Surabaya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Naik penerbangan apa, Bu?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Naik penerbangan bagaimana maksudnya, Pak?” isteri Nasirun balik bertanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Maksud saya, Bapak naik pesawat apa? Jam berapa akan tiba di Surabaya?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Oh, Mas Nasirun tidak naik pesawat Pak, tapi naik kereta api?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Baiklah Bu. Apa saya bisa tahu nomor HP Pak Nasirun?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Mas Nasirun tidak punya HP, Pak.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Apa Pak Nasirun naik kereta yang ke stasiun Pasar Turi atau ke stasiun Gubeng?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Wah saya tidak tahu Pak. Tadi Pak Nasirun berangkat pukul 05.00 pagi.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Mendengar Nasurin naik kereta api, entah yang ke Pasar Turi entah yang ke Gubeng, dan tidak punya HP untuk dikonfirmasi, paniklah ajudan yang ditugasi mengurusi kedatangan Nasirun ke Surabaya. Sang ajudan segera mengutus orang-orangngnya untuk mendatangi Stasiun Gubeng dan Stasiun Pasar Turi, keduanya merupakan stasiun di Surabaya. Mereka ditugasi untuk menunggu kedatangan Nasirun.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Nasirun tiba di Pasar Gubang siang-siang. Ia tidak tahu harus ke mana. Ia baru sadar kalau ia tidak tahu harus bagaimana, harus bertemu siapa, harus menelepon ke mana. Di tengah kebingungan itu, akhirnya Nasirun berjalan ke luar dari stasiun. Tak jauh dari pintu ke luar stasiun, ada pertunjukan doger monyet. Untuk mengusir kebingungan, akhirnya ia nonton doger monyet.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Orang-orang Sunardjo yang diutus ke stasiun Gubeng (juga yang diutus ke stasiun Pasar Turi), kebingungan. Mereka tidak tahu sosok Nasirun seperti apa. Mereka menunggu di pintu ke luar stasiun dengan membawa spanduk kecil bertuliskan, “Bapak Nasirun.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Tapi Nasirun tidak ngeh waktu melihat tulisan itu. Dia keburu ngeloyor ke luar stasiun, dan kini sedang asyik menikmati tontonan doger monyet.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Tidak habis akal, utusan Sunardjo segera menelepon sang bos (ajudan Pak Naryo), menanyakan sosok Nasirun seperti apa. Si bos juga tidak tahu. Akhirnya si Bos menelepon kembali ke rumah Nasirun di Yogya, menanyakan seperti apa sosok Nasirun.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Rambutnya panjang, kriwel-kriwel, diikat kuncir. Berjanggut, tapi tidak lebat. Kulitnya hitam, tingginya kira-kira 170 cm. Memakai kaos oblong dan celana jins warna hitam. Tidak membawa tas,” demikian sang isteri menjelaskan sosok suaminya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Berbekal penjelasan itu, anak buah si Bos berkeliaran mencari Nasirun. Mereka hampir putus asa. Sampai akhirnya salah seorang di antara mereka hendak membeli rokok di kios, kebetulan melewati area doger monyet. Ia seperti melihat sosok yang dijelaskan sang isteri melalui si bos. Orang itu pun mendekat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Maaf Pak, apa Bapak bernama Nasirun?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Ya, saya Nasirun.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Apa Bapak pelukis dari Yogya?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Ya, saya pelukis dari Yogya.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Apa Bapak akan memenuhi undangan dari Bapak Sunardjo.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Betul sekali. Kok Mas tahu? apa mas intel?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Kalau begitu benar Bapak orang yang saya cari. Mari ikut saya.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Nasirun ikut saja, tapi dengan perasaan cemas. Tiba-tiba saja terpikir bahwa orang yang menanyainya itu seorang intel. Mungkin karena pikiran Nasirun juga sedang kalut, masih kalut, karena tidak tahu ke mana harus pergi, jadinya ia sedikit curiga terhadap orang yang tahu rencananya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Nasirun tambah kaget karena ia dijemput oleh rombongan (kira-kira tediri dari lima orang dengan menggunakan dua mobil). Nasirun didudukkan di kursi tengah dengan mobil mewah yang baru pertama kalinya ia tumpangi mobil semewah itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Saya diminta menjemput Bapak oleh Pak Sunardjo. Saya kebingungan mencari Bapak,” kata salah seorang di antara mereka.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Mendengar ucapan itu, resah Nasirun kini reda. Ia tidak sedang diculik, tapi mau dibawa ke alamat yang benar.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Sampai di hotel mewah di Surabaya, Nasirun langsung di antar memasuki kamar hotel untuknya yang telah dipersiapkan. Bengong ia, karena sesampainya di kamar, rasa lapar menghardiknya, dan ia kehabisan rokok. Karena tidak ada rokok di kamar itu, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamar hotel guna mencari makan dan membeli rokok.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Aku mencari rokok di kios kaki lima, padahal nginap di hotel bintang lima… hahahaha ….,” tutur Nasirun pada suatu malam di tahun 2009.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-1656254677848849377?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/1656254677848849377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/nginap-di-hotel-bintang-lima-beli-rokok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/1656254677848849377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/1656254677848849377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/nginap-di-hotel-bintang-lima-beli-rokok.html' title='Nginap Di Hotel Bintang Lima, Beli Rokok Di Kios Kaki Lima'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-7807615334210749496</id><published>2011-10-14T21:31:00.001-07:00</published><updated>2011-10-15T08:45:57.292-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anekdot'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fauzi Bowo Tidak Terkenal'/><title type='text'>Fauzi Bowo Tidak Terkenal</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;Anda tahu Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo? Sebelum jadi Gubernur, kolektor lukisan itu menjabat wakil Gubernur saat Jakarta digubernuri oleh Sutiyoso. Saat menjadi Wagub DKI, Fauzi Bowo memang tidak begitu terkenal karena jarang "nongol" di TV. Kisah di bawah ini ikut menguatkan kalau Wagub Fauzi Bowo tidak terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun lukisannya banyak dibeli oleh Agung Tobing, juga oleh para kolektor dan kolekdol, seniman Nasirun tetaplah masih lugu. Rumahnya memang besar, dan tabungannya cukup gemuk, tapi Nasirun tetap seorang "ndeso" yang masih naik motor bebek tua. Nasirun bahkan belum bisa membedakan siapa kolektor sejati, siapa kolekdol, siapa &lt;i&gt;art dealer&lt;/i&gt;, dan siapa &lt;i&gt;broker&lt;/i&gt;. Bagi seorang seniman rupa yang memikirkan karier, tentu tidak boleh karyanya jatuh ke sembarang orang. Kalau jatuh ke &lt;i&gt;art dealer&lt;/i&gt; atau kolekdol, bisa saja karyanya "digoreng".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sahabatnya, akhirnya memperingatkan Nasirun supaya jangan terlalu polos menghadapi orang-orang yang berminat terhadap lukisannya. “Menghadapi tamu yang datang, jangan begitu saja percaya. Coba tanya, siapa namanya, di mana kerjanya, lukisan siapa saja yang sudah dikoleksinya,”  demikian sahabatnya mengingatkan. “Kita harus waspada, jangan-jangan yang mau beli lukisanmu itu hanya seorang kolekdol,” sahabatnya menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasirun coba menerapkan nasihat itu. Sampai suatu hari, telepon di rumahnya berdering. Yang menelepon mengabarkan, akan berkunjung ke Minimart Art milik Nasirun. Pasti Anda sudah tahu kalau pelukis kelahiran Cilacap, 1 Oktober 1965 itu menamai studio dan sanggar di rumahnya dengan Minimart Art (mini market khusus jualan karya seni gubahan Nasirun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya Fauzi,” kata yang menelepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggih Fauzi, aku tungggu di rumah. Apa perlu aku jemput?”&lt;br /&gt;&amp;nbsp;“Tidak perlu repot Mas. Saya pasti sampai ke sana.”&lt;br /&gt;“Enggih Fauzi,” balas Nasirun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasirun memang bersahabat dengan pematung cum pelukis Fauzie As'ad yang tinggal di Swiss. Lama tak bertemu, tentu akan menyenangkan bila teman lama datang berkunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang dari percakapan di telepon, ada tamu yang datang bersama isterinya. Tapi bukan tamu itu yang namanya Fauzie As’ad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Monggo Pak, silakan masuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak bicara, tamu itu pun masuk, dan segera berkeliling melihat-lihat lukisan yang terpajang di dinding Minimart Art. Nasirun tentu mendampingi sang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat pesan temannya supaya jangan terlalu lugu dan polos, maka Nasirun segera betanya, siapa nama tamu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya Fauzi,” kata tamu.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;“Maaf Pak, kalau boleh tahu, Bapak ini bekerja di mana?”&lt;br /&gt;“Mas Nasirun, jelek-jelek gini juga, ya Alhamdulillah, saya ini wakil Gubernur DKI Jakarta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar nama itu, Nasirun langsung kaget. Sudah lama ia mendengar ada kolektor karya seni di Jakarta, namanya Fauzi Bowo, menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta (Kala itu, Fauzi Bowo masih Wakil dari Gubernur Sutiyoso). Sudah lama memang mendengar, tapi belum pernah melihat, apalagi bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, tenyata aslinya lebih ganteng ya daripada yang di TV.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian kisah nyata Nasirun saat pertama kali bertemu Fauzi Bowo. Mungkin ia sudah menuturkan kisah ini kepada banyak orang. Kepada sastrawan Joni Ariadinata (ternyata mereka bersahabat) dan saya, Nasirun menceritakan ulang kisah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku malu sekali, ternyata Fauzi yang nelepon itu Fauzi Bowo. Aku kira Fauzie As’ad. Kadung malu, ya sudah aku bilang Bapak lebih ganteng aslinya daripada yang muncul di TV. Hahahahaha…. Saya asal ucap saja, di TV juga saya tidak pernah melihat Pak Fauzi. Tapi kan biasanya pejabat suka muncul di TV, jadi kuucapkan saja lebih genteng daripada di TV. Hahahaha …”&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-7807615334210749496?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/7807615334210749496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/fauzi-bowo-tidak-terkenal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/7807615334210749496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/7807615334210749496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/fauzi-bowo-tidak-terkenal.html' title='Fauzi Bowo Tidak Terkenal'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-5124324709453643173</id><published>2011-10-14T07:32:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T07:32:56.092-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serat Sepak Bola'/><title type='text'>Naturalisasi juga untuk Pengurus PSSI</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Prestasi PSSI jeblok terus, mendorong ide untuk melakukan naturalisasi pemain sepakbola warga negara asing menjadi warga negara Indonesia. Apakah ini akan meretaskan prestsi PSSI? Tentu saja, tapi kiranya tidak banyak-anyak amat perbaikan hasil naturalisasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naturalisasi tentu bukan perkara baru demi sepakbola. Ferenc Puskas misalnya, tercatat pernah bermain untuk dua tim nasional. Pada awal 1950-an, ia menjadi kapten sekaligus bintang Hongaria. Saat itu Hongaria dijuluki Tim Ajaib, karena selain berhasil melumat Inggirs 6-3 dalam permainan persahabatan, juga Setahun setelah sukses di Wembley, Hongaria nyaris menjadi juara dunia 1954. Meskipun sudah unggul 2-0, mereka akhirnya harus mengakui keunggulan Jerman Barat dalam partai final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi kemudian melanda Hongaria pada 1956. Kala itu Puskas se di luar negeri, memutuskannya untuk tidak pulang ke negaranya. Dia lalu bermain untuk Real Madrid. Dia kemudian menjadi warga negara Spanyol, dan bermain untuk negeri itu pada Piala Dunia 1962 di Cile. Sayang era keemasnya sudah lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naturalisasi yang sudah digembr-gemborkan sejak lama itu, akhirnya pada 10 Oktober 2011 dilaksanakan untuk lima pemain, yakni tiga orang asal Belanda: Tonnie Cusell, Stefano Lilipaly, Johny Rudolf van Beukering. Dan dua asalNigeria, yaitu Greg Nwokolo (bermain untuk Persija Jakarta) dan Victor Chuckwuekezie Igbonefo (Persipura Jayapura). Satu orang lagi yang tertunda di naturalisasi adalah Sergio van Dijk (Belanda). Ia masih di Australia untuk menyelesaika sebuah turnamen yang memang sudah direncanakan jauh-jauh hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi naturalisasi pemain asing itu, mantan pemain nasional Bambang Nurdiansyah mengtakan, untuk sekarang-sekarang ini, mengingat prestasi PSSI jeblok, naturalisasi bisa diterima. Tapi tidak bisa terus-terusan dilakukan. Pembinaan pemain lokal harus lebih digencarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya pendapat Bambang itu benar. Malah saya ingin menambahkan, naturalisasi itu seharusnya mendahulukan untuk pengurus PSSI. Pengurus PSSI perlu direvolusionerisasi. "Lelucon" para pengurus PSSI hingga sekarang, bagaimanapun berimbas pada kinerja Skuad Garuda. Tindak-tanduk parapengurus terlalu banyak yang bersifat politis sehingga rumah tangga PSSI menjadi keruh dan penuh intrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-5124324709453643173?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/5124324709453643173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/naturalisasi-juga-untuk-pengurus-pssi_14.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/5124324709453643173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/5124324709453643173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/naturalisasi-juga-untuk-pengurus-pssi_14.html' title='Naturalisasi juga untuk Pengurus PSSI'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-7593740423503365715</id><published>2011-10-14T07:04:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T07:16:42.849-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heurmeneutika'/><title type='text'>Mata Adalah Guru dan Hati Ukurannya</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-VRgq5yLQWFE/TphDLsBmBVI/AAAAAAAAA_Y/QnXmK03iA4M/s1600/edisi+17+sony+eska+BB.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="199" src="http://2.bp.blogspot.com/-VRgq5yLQWFE/TphDLsBmBVI/AAAAAAAAA_Y/QnXmK03iA4M/s320/edisi+17+sony+eska+BB.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Teks Doddi Ahmad Fauji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun banyak psikolog yang mengoreksinya, namun teori psikoanalisis Sigmund Freud tidak bisa diruntuhkan sepenuhnya. Freud meyakini, tindakan manusia dipicu dan dipacu oleh alam bawah sadar yang terekam di masa silam, yang bisa jadi rekamannya itu sudah terhapus dari pita ingatan, namun masih terformat dalam saraf-saraf somatik, hingga kapan-kapan alam bawah sadar itu bisa muncul ke permukaan dalam bentuk tindak yang radikal seperti impulsif, reaksioner, defensif habis-habisan, atau mengasingkan diri dari keriuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Freud ini terasa mengena saat berhadap-hadapan dengan sebuah karya seni. Mengapa karya seni nampak seperti ini atau seperti itu, pastilah dilatari oleh suasana psikologis sang senimannya. Warna merah marun atau putih salju, biru dongker atau kuning lemon pada sebuah lukisan misalnya, dimunculkan oleh seniman bukan saja atas dasar pertimbangan komposisi warna, tetapi karena warna itu diyakini oleh seniman secara bawah sadar sebagai simbol tertentu. Warna merah misalnya, adalah idiom dari suasana marah, warna biru relevan dengan misteri, putih sejalan dengan harapan, hitam identik dengan kemurungan, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar singkat di atas saya jadikan rujukan untuk menelisik salah satu lukisan Sonny Eska berjuluk Mata Do Guru Roha Sisean (2009, 290 X 175 CM, mix media di atas kanvas), yang artinya: Mata adalah guru dan hati ukurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Sonny menggubah lukisan seperti itu, pasti dilatari unsur psikis bawah sadar yang membimbingnya secara naluriah untuk melahirkan karya seperti itu. Secara genetik etnisitas, Sonny adalah orang Batak, namun lahir dan besar di Jakarta. Secara kultural, Jakarta mencetak Sonny menjadi manusia kosmopolitan. Maka unsur lokalitas yang diwariskan secara genetik, dan unsur globalitas yang diterima melalui pergaulan budaya, bercampur-baur dalam lukisan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Xf6Cb-1p_ws/TphD3br6XjI/AAAAAAAAA_g/i6KHKoUDF88/s1600/edisi+17b2.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="289" src="http://1.bp.blogspot.com/-Xf6Cb-1p_ws/TphD3br6XjI/AAAAAAAAA_g/i6KHKoUDF88/s320/edisi+17b2.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sonny memilih warna-warni ceria, yang elementer, yang disediakan oleh pabrik cat, dan bukan warna “matang” hasil percampuran dari sejumlah warna. Pilihan warna ini selaras dengan ragam warna yang jadi kesukaan masyarakat sub-kultur Indonesia. Tengok misalnya warnawarna kostum adat dari masyarakat Sumatera, Kalimantan, Sulawesi cenderung menggunakan warna-warna terang yang oleh orang Jakarta sering dibilang warna “norak”. Warna ceria yang elementer itu, hadir pada lukisan Sonny, terdorong oleh alam bawah sadarnya sebagai keturunan Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Sonny sudah lama bersinggungan dengan kebudayaan lain yang bergeliat di Jakarta, yang dibawa oleh kaum urban. Perbauran warnawarna budaya itu pun muncul pada lukisan di atas, dan menjadi cermin bahwa Sonny adalah masyarakat berbudaya gado-gado sebagaimana yang terdapat di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gado-gado budaya itu, terefleksikan melalui obyek-obyek dan figurfigur yang direpresentasikan Sonny secara berhimpitan, berjejalan, saling berebut perhatian, bertubrukan, saling-silang, seperti yang terjadi di Jakarta. Coba perhatikan, betapa banyak obyek atau figur yang tampil pada lukisan berjuluk Mata Do Guru Roha Sisean itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu teks-teks yang bermunculan menghiasi kota Jakarta, apakah itu berupa nama gedung, papan reklame, atau iklan partai politik, juga tampil dalam lukisan Sonny. Sonny menuliskan judul lukisannya pada kanvas dalam ukuran besar, mengibaratkan teks-teks yang terus mengepung Jakarta, sesuatu yang jarang dilakukan perupa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan ini adalah gambaran bagaimana seorang Batak mempersepsi Kota Jakarta yang sumpek dan semrawut, yang penduduknya individualistik dan materialistik. Dan lukisan ini menguarkan pernyataan: siapa pun yang hidup di Jakarta, lambat laun akan tergerus menjadi manusia individual, yang harus tutup mata dan pura-pura tidak tahu persoalan orang lain. Untuk itulah, dua figur yang ditampilkan secara mencolok oleh Sonny, sengaja matanya dikasih hijab (penutup).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup di Jakarta sungguh berat, tidak seindah yang dibayangkan oleh masyarakat desa yang setiap habis Idul Fitri, berdatangan menjadi penduduk baru Jakarta dengan profesi sebagai pembantu rumah tangga atau pekerja keras lainnya. Jakarta sebenarnya bukan sorga: Jakarta hanyalah Kota Utopia. Ada banyak rintangan dan hambatan yang membelenggu, dan secara bawah sadar, Sonny menampilkan belenggu itu melalui obyek pagar dan tiang, dan dua sosok yang matanya dihijab, juga ditampilkan dalam kondisi dibedong seperti bayi. Pagar dan tiang itu harus dimusnahkan, maka tampillah pisau belati sebagai simbol dari penghancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak sadar, Sonny menampilkan berbagai fenomena dan insiden yang terjadi di Jakarta dalam bentuk simbol-simbol. Kobaran api yang tampil dalam lukisan itu, bagaimana pun menjadi gambaran dari kebakaran yang sering terjadi di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu yang cukup menonjol ditampilkan Sonny adalah sesosok berwarna hitam. Siapakah dia? Melihat wujud figur itu, saya teringat pada film Batman teranyar berjudul The Dark Knight. Figur itu memang mirip Batman yang muncul dari kegelapan, untuk menyelamatkan kota dari kemusnahan akibat ‘ketamakan’ segelintir sutradara yang mengendalikan kota. Jakarta, dalam lukisan ini, rupanya membutuhkan seorang Batman: pahlawan yang tidak membutuhkan tanda jasa, namun jelas-jelas berjasa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan Sonny tampil dengan cerdas untuk mengeritik urban civilization yang kita dambakan. Karena Jakarta belum bisa menjadi kota urban yang nyaman. Jakarta masih menjadi kota yang menghardik dan merampok rasa kemanusiaan. Dan lukisan-lukisan cerdas gubahan Sonny seperti diuraikan di atas, akan ditampilkan pada pameran tunggal di Galeri Nasional Indonesia, bulan Juli 2009. Selamat menikmati. ***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-7593740423503365715?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/7593740423503365715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/mata-adalah-guru-dan-hati-ukurannya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/7593740423503365715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/7593740423503365715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/mata-adalah-guru-dan-hati-ukurannya.html' title='Mata Adalah Guru dan Hati Ukurannya'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-VRgq5yLQWFE/TphDLsBmBVI/AAAAAAAAA_Y/QnXmK03iA4M/s72-c/edisi+17+sony+eska+BB.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-6395032527699143019</id><published>2011-10-14T03:20:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T03:27:41.447-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heurmeneutika'/><title type='text'>Impian di Persilangan Budaya</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ycscpEmbI4s/TpgMRUbsxaI/AAAAAAAAA_A/T9RpHCVGz9g/s1600/edisi+16bb.bmp" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-ycscpEmbI4s/TpgMRUbsxaI/AAAAAAAAA_A/T9RpHCVGz9g/s320/edisi+16bb.bmp" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Teks Doddi Ahmad Fauji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piranti teknologi yang terus tercanggihkan membuat manusia kehilangan atribut antropo-geografisnya. Laku dan seleranya kian seragam. Misalnya, orangorang keranjingan facebook atau sama-sama makan di food court. Lalu pada waktu bersamaan, mereka mudah dihinggapi rasa bosan, jenuh, dan akhirnya mencari hal-hal baru yang unik, eksotik, menantang dan menggairahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia memang semakin jadi makhluk paradoks, sarat kontradiksi. Serentak bisa hanyut ke dalam euphoria oleh suatu fenomena baru dan tidak ingin ketinggalan, tapi pada waktu bersamaan mencari sesuatu yang lain supaya berbeda dari yang lain. Akhirnya, mereka kerap terjebak dalam dilema atau bahkan tergerus ke dalam teka-teki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kongklusi yang saya tarik dari perbincangan dengan Radi Arwinda melalui fasilitas private massage, diperkuat oleh makalah yang ditulisnya tentang konsep-konsepnya dalam berkarya. Saya lihat beberapa foto repro karya Radi Arwinda yang dipamerkan di Galeri Canna, Jakarta, pada Mei – Juni 2009 ini, memang hendak menegaskan dilema sang seniman di tengah cosmopolitan culture, sekaligus bertanya ke dalam diri, apakah harus bertahan menggenggam budaya lokal, atau sekalian basah tercebur ke dalam budaya luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Radi memilih jadi manusia majemuk, yakni melakukan akulturasi budaya. Memang, di kota-kota besar, saya kira sekarang ini, tidak ada lagi manusia The Last Mohican, The Last Javanese, The Last Chinese, yang murni sejati berbalut tradisi leluhur. Sekarang ini kita meniscayakan terlibat ke dalam peradaban kompilasi dan konvergensi, zaman percampur-bauran adat dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sejatinya manusia yang sudah menerima pengaruh budaya lain sebanyak apa pun, ia tetap sudah membunuh karakter dasar yang dibawanya, yang diwariskan secara genetik oleh orangtuanya, dibentuk secara sporadik oleh lingkungan sosialnya, dan dipoles oleh udara, tanah, air, cahaya matahari, serta makanan yang membesarkannya. Kemana pun Radi Awinda pergi, kiranya ia tetap akan menjadi orang Sunda yang menjadi karakter dasar etnisitasnya. Hal ini terlihat pada lukisan-lukisannya yang dipemerkan di Galeri Canna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil saja karya Apet #5 itu, menjadi cover Arti edisi kali ini. Secara visual, lukisan Apet #5 diadopsi oleh Radi dari teknik sketsa komik Jepang yang biasa disebut manga. Goresan garis dan kontur lukisan itu benar-benar manga. Radi mengatakan, pengadopsian teknik manga dilakukan karena tertarik oleh kekuatan orang Jepang dalam mempertahankan jati diri bangsanya di tengah perbenturan antarbudaya.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ZEWlsqp_rpU/TpgOYAAez6I/AAAAAAAAA_M/OUWJYVZOAUA/s1600/edisi+16cc.bmp" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="291" src="http://3.bp.blogspot.com/-ZEWlsqp_rpU/TpgOYAAez6I/AAAAAAAAA_M/OUWJYVZOAUA/s400/edisi+16cc.bmp" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang ingin tampil dengan budayanya, karakternya, sekalipun saling pengaruh karakter sulit dihindari. Dengan kata lain, orang Jepang justru ingin mempengaruhi bangsa lain, dan bukan mereka yang terpengaruh oleh budaya lain. Manga menjadi inspirasi bagi Radi untuk mempertahankan ke-Sundaannya. Tapi untuk menangkap karakter-karakter Sunda dalam lukisan seri Apet itu, sayangnya tidaklah mudah, kecuali bila artefak visual yang ditampilkan Radi, misalnya corak batik Sunda pada kain atau selendang yang dikenakan si tokoh manga, atau latar mega mendung yang sering dimunculkan sebagai komplementer (pelengkap) estetika utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya coba menafsir dari sisi psikologis Radi sebagai orang Sunda melalui simbolisasi manga. Kartun Jepang atau yang dijelmakan dalam bentuk animasi (anime), sarat dengan impian. Manga atau anime bisa dibaca sebagai mimpi orang Jepang secara spiritual maupun fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara fisik, betapa orang Jepang ternyata merindukan mata yang belo (tidak sipit), tubuh jenjang nan sintal layaknya model kelas dunia. Secara spiritual, bangsa Jepang yang kalah dalam Perang Dunia II dan mengakhiri peperangan brutal itu, sedang bermimpi untuk memimpin dunia. Anime seri Kapten Tsubasa yang digubah tahun 80-an misalnya, adalah mimpi orang Jepang untuk bisa menjadi Juara Dunia Sepak Bola. Sekira 20 tahun kemudian, mimpi itu mulai mewujud, setidaknya Jepang bisa masuk dalam ke kompetisi Kejuaraan Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui karya Apet (bahasa Sunda) yang artinya akrab, Radi sedang bermimpi di tengah perbenturan budaya yang kian deras, kelak bisa berdaulat dengan karakter dasarnya sebagai orang Sunda. Juga, saya menangkap bahwa Radi yang kelahiran 1983, sedang bermimpi mendapatkan soulmate yang secara visual, bertubuh molek seperti perempuan dalam tokoh manga. Akankah terkabul impian ini? Proses dan waktu yang akan menjawab. ***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-6395032527699143019?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/6395032527699143019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/impian-di-persilangan-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/6395032527699143019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/6395032527699143019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/impian-di-persilangan-budaya.html' title='Impian di Persilangan Budaya'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ycscpEmbI4s/TpgMRUbsxaI/AAAAAAAAA_A/T9RpHCVGz9g/s72-c/edisi+16bb.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-8399117299532321964</id><published>2011-10-14T02:57:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T02:57:24.837-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Heurmeneutika'/><title type='text'>Enigma Visual pada Sebuah Elegi</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-yKSvb4gEBwE/TpgHIF_rcqI/AAAAAAAAA-0/NUCAKzKsvL8/s1600/edisi+15+B.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="393" src="http://3.bp.blogspot.com/-yKSvb4gEBwE/TpgHIF_rcqI/AAAAAAAAA-0/NUCAKzKsvL8/s400/edisi+15+B.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Teks Doddi Ahmad Fauji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berhadapan dengan lukisan gubahan Gatot Widodo (GW) berjuluk Cerita tentang Pagi yang dibesut memakai cat akrilik. Lukisan ini dikerjakan awal tahun 2009 di atas kanvas berukuran sekira 200 X 200 Cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang Pagi, akan dikira berupa elegi tentang pastoral (pemandangan alam) yang sejuk nan meneduhkan, ketika musim dan cuaca masih teratur. Pagi datang diawali fajar, lalu embun menitis di dedaunan, burung-burung berkicauan. Matahari tiba. Kehidupan dimulai dengan riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata yang disodorkan GW, adalah lukisan kemurungan yang dibesut oleh warna-warna gelap seperti biru kelabu, biru dongker, biru gelap, hitam pekat, cokelat tua, atau warna-warna lain yang masuk ke dalam kategori gelap. Dalam pada itu, obyek yang digubahnya, bukan pemandangan alam yang asri, melainkan figur-figur perempuan yang nampak samar-samar, berkelebatan, berjejalan, menjadi teka-teki yang harus ditebak oleh apresiator. Ada berapa perempuan dalam lukisan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang Pagi itu memang enigma visual yang mendekati muslihat optikal. Mata harus jeli menangkap setiap kelebat figur atau obyek lain yang ada di dalamnya. Bila tidak, kita akan terkecoh. Dikatakan enigma visual, karena untuk menangkap kontur yang membentuk figur-figur perempuan yang berjejal-jejal itu, kita harus bisa menyelusuri garis-garis yang tidak tegas di antara garis-garis yang didedahkan GW pada kanvasnya. Jelas pekerjaan ini membutuhkan kejelian, bahkan latihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang tertarik bermain dalam teka-teki GW, dalam garis-garis yang silang-sengkarut, ada keuntungannya, yaitu diam-diam diajak mengasah kepekaan, yang artinya melatih kerja otak kiri. Latihan ini sangat bagus untuk mereka yang terserang insomnia. Lukisan GW model begini, bisa menjadi sarana terapi untuk latihan konsentrasi, bahkan penyembuhan depresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat pada lukisan kaligrafi Made Wianta yang juga curat-coret. Tapi ternyata dalam kaligrafi Wianta itu ada obyek yang perlu ditangkap dengan cermat. Oktober 2008 lalu, Wianta diundang oleh rumah sakit di Jepang, untuk diteliti otaknya oleh tim yang dipimpin profesor Yamashiro Gumi. Tim ini sejak lama meneliti karya para perupa dunia, termasuk karya-karya Wianta sebagai sarana terapi bagi pasien di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari belasan lukisan GW yang saya lihat, yang digubah pada tahun 2008, umumnya mengandung corak yang serupa: sebuah lukisan coreng-moreng, corat-coret, yang mengabarkan kemurungan dengan menjejalkan berbagai kemungkinan bentuk-bentuk garis, bahkan garis-garis itu sengaja dibebat laksana coretan-coretan anak kecil. Obyek yang dilukisnya berupa figur-figur yang samar, antara perempuan atau kuda, atau gajah, atau perahu. Namun umumnya, pada setiap lukisan GW selalu terdapat figur perempuan, lebih dari satu perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi meski nampak ekspresionis dan naïf dengan torehan garis yang impulsif, lukisan GW selalu terlihat menyodorkan pikatan. Enak ditatap karena ada komposisi warna dan pembagian bidang yang seakan diperhitungkan, dikontrol dengan baik. Di antara dominasi warna gelap, ada warna cerah yang disisipkan, yang menjadi pembatas dari figur yang satu dengan figur yang lainnya. Figur pembatasnya itu, diulik oleh GW, menjadi figur perempuan yang lain. Makin berjejal-jelas saja bayangan perempuan yang samar, tapi makin asyik untuk menerkanya. Ada berapa perempuan di sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun corat-coret garis dan penumpukan obyek perempuan, muncul karena dorongan psikologis GW yang setelah saya berbincang-bincang dengannya, hidup GW memang mengalami pasang-surut. Naik-turun roda kehidupan yang dijalani GW, berputar begitu cepat. Hari ini sukses, besok terpuruk. Bangkit lagi, tenggelam lagi. Dan kini GW coba kembali bangkit setelah benar-benar bangkrut. Yah, GW pernah bangkrut dan nyaris tidak berkutik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengambil kongklusi linier, fluktuasi antara sukses dan gagal itulah yang melatari kelahiran lukisan-lukisan GW yang terkini, yang nampak bagai coretan-coretan di dinding-dinding kota. Sebuah coretan di dinding kota, sering kali mengabarkan kemurungan pencoretnya, menegaskan ketidakpuasaan pada keadaan, menggencarkan ketidakpercayaan kepada pemerintah, dan kemuraman-kemuraman lainnya. Lukisan GW, juga mengandung kemurungan dan kemuraman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru lukisan bercorak seperti gubahan GW itu yang ke depan akan menjadi tren untuk menghiasi kota. Di Amerika khususnya, sudah lama dinding kafe atau restoran didekor dengan karya visual yang naïf. Penemuan Warhol, Pollok, Basquiat dalam seni visual, memberi inspirasi kepada para developer untuk menghiasi dinding gedung dengan corak-corak pop art ala Warhol. Karya GW juga kini mewarnai pilar-pilar pada restoran Immigrant yang berada di Plaza Indonesia, lantai enam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah karya seni, kalau hanya diapresiasi dari sisi bentuknya, tentu kurang komprehensif, dan malah bisa jadi tidak menarik. Mungkin bagi mereka yang awam, karya GW hanya membuat mereka mengerutkan kening. Ia menjadi lebih utuh dan mengasyikan bila kita mengetahui hal-hal yang menjadi latar psikologi penciptaannya. Itu sebabnya, Abram Maslow merinci salah satu metode kajian kesenian dengan menggunakan pendekatan ekpresif: memahami jiwa senimannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, karya seni harus ditelisik latar psikologis penciptaannya, supaya apa-apa yang disodorkannya, baik tersurat maupun tersirat, dapat lebih dimengerti, dipahami, dihayati, lalu syukurlah kalau bisa dinikmati. Karya seni yang hidup, di dalamnya selalu mengandung emosi. Karya seni yang menyenangkan, selalu padat emosi. Karya yang zonder (tanpa) emosi, tentu saja akan hampa dan tidak mencerahkan. Orang lain akan bilang, karya yang hampa adalah kits, adalah junkies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari belasan lukisan GW yang secorak, diambil lukisan Cerita tentang Pagi, kemudian dijadikan cover Arti edisi 15 ini. Anda bisa ikut terlibat ke dalam permainan teka-teki yang disodorkan pelukis kelahiran Bojonegoro, 17 Juni 1968 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada lukisan ini, terasa ada emosi senimannya yang meletup-letup. Ada kemurungan dan jiwa yang labil. Ada kepedihan yang menguar. Tapi sekaligus juga ada harapan yang berbinar-binar, walau belum tegas benar. Emosi itu dituangkan melalui penggambaran belasan figur perempuan yang disamarkan secara sengaja. GW memang pernah terobsesi oleh perempuan. Saat berbincang-bincang dengan seniman lulusan Seni Lukis, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu, hari Rabu (8/4), menjelang sore, GW menuturkan, “semua perempuan sudah saya rasakan. Tinggal perempuan negro dan perempuan gila yang tidak pernah saya tahu,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara belasan perempuan itu, yang paling menonjol digambarkan adalah dua sosok perempuan. Satu perempuan di sebelah kanan, nampak bermata sipit. Satunya lagi bermata belo. Dua perempuan ini adalah pengalaman nyata yang dihadapi GW, di mana GW harus memilih salah satu untuk jadi istrinya. Satu perempuan memang orang Jepang dan satunya lagi orang Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi saya pilih orang Jawa yang ketemunya di bus malam, saat saya datang dari Yogya ke Jakarta, dalam keadaan saya benar-benar terpuruk. Kalau saya pilih orang Jepang, saya harus memulai dengan penyesuaian-penyesuaian yang ribet.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan itu, nampak menggunakan warna-warna gelap, terutama di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sadar atau tidak, GW sedang menumpahkan pengalaman masa lalunya yang kelam. Disebut kelam, bagaimanapun, kalau seseorang sudah terlibat narkoba hingga main suntik, adalah memasuki wilayah kematian. GW menuturkan, sampai-sampai darah bisa mengucur dari hidung kalau ia sedang ‘sakit’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kecanduan narkoba sangat sulit disembuhkan, dan biasanya sudah lenyap harap. Namun, musibah gempa Yogyakarta dan banjir sungai Bengawan Solo membawa titik terang. Adakalanya memang, seseorang harus benar-benar terpuruk dulu, sebelum menemukan jalan terang. Ibarat sebatang pohon, harus rontok dulu seluruh daunnya, sebelum akhirnya rindang dan subur kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gempa menghantam Yogya, GW sedang mabuk berat. Selepas gempa, halusinasi datang. Ia seperti melihat dirinya berada dalam kubangan batu, terjepit oleh batu-batu, tubuhnya putih, dan tiada terusik oleh pasir. Lalu GW tertidur karena letih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tersadar, rumahnya sudah rusak berat. Coba dikumpulkannya lukisan-lukisan yang tersisa. Lukisan-lukisan itu kemudian dibawa ke Bojonegoro. Namun malang, di sana lukisan-lukisan sisa itu kemudian terbawa hanyut ketika Bengawan Solo banjir bandang. Habis sudah kekayaan GW. Ia bangkrut. Ia kambali ke Yogya dengan terseok-seok. Tubuh merapuh didera narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan habis, kecuali lukisan yang masih tersisa dan diselamatkan galeri, tapi sudah menjadi milik galeri. Lukisan itu rupanya menyentuh dan menggelitik seorang art investor. Ada 11 lukisan GW di sana, dan diborong. Sang investor ingin ketemu GW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemulah mereka. Disarankannya GW pergi ke Jakarta untuk memulai hidup baru. Pergilah GW ke Jakarta hanya dengan membawa pakaian yang melekat di badan. Ia seharusnya naik pesawat. Tapi ia pergi dengan bus supaya ada dana sisa untuk membeli celana. Di bus itulah GW bertemu perempuan yang kemudian kini menjadi istrinya. Perempuan ini selanjutnya, dalam dugaan saya, telah berpengaruh besar bagi perjalanan hidup GW, yang memungkinkannya mulai meninggalkan narkoba. Lalu bagaimana terapi yang dijalani GW dalam menghilangkan adiksi? Ah, sebaiknya tanya dia langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat dari kebangkrutan dan narkoba itu, kemudian menjelma dua perempuan yang digambarkannya dengan warna yang lebih terang, yang menjadi simbol dari harapan. Warna terang seperti kuning lemon atau putih salju dalam lukisan, sering kali menjadi semiotisasi dari apa yang disebut dengan aufklarung, katarsis, enlightenment, pencerahan. Disadari atau tidak, disengaja atau tidak, pada luksian-lukisan GW terkini, selalu nampak sosok putih yang menjadi eye catching dari lukisannya. Ini adalah kabar yang disampaikan GW, bahwa duka telah menjadi masa lalunya. Sedang yang menjadi perjalanan ke depan, ialah harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini GW sudah hilang dari candu narkoba. Ia mulai melangkah mantap melalui jalur lukisan yang sudah digelutinya sejak dulu. Sebagai pelukis, sebenarnya GW sudah menjejaki jalur yang benar. Dulu, ia sudah mulai mengirim lukisan ke Eropa atau China. Pernah pameran di Belanda, China, Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GW lulusan seni lukis ISI. Secara metodis-akademis, tentu memiliki jaminan bisa melukis bentuk dengan tingkat presisi yang baik. GW juga suka musik, karena darah musik menitis dari ayahnya yang anggota drum band Polri. Seorang pelukis yang bisa main musik, atau setidaknya mengerti dan dapat menikmati musik dengan baik, cenderung bisa melukis dengan komposisi yang harmonis. Hal itu nampak pada lukisan GW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi seniman lukis yang berkualitas, diperhitungkan, GW memiliki modal dasar. Selain bisa melukis bentuk, bisa main musik, GW juga termasuk seorang pengrajin yang telaten. Ia bisa membuat seni kriya yang menggiurkan. Jalan sudah semakin lempang dan lurus. Apakah GW akan berhasil membuat gebrakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menangkap adanya muatan lokal pada lukisan GW. Corat-coretnya mengingatkan pada artefak-artefak yang ada di candi atau luksian goa. Tapi kini perniagaan seni rupa di dunia sedang lesu akibat krisis global. Namun kelak bakal terjadi booming kembali. Pada saat itulah, saya berkeyakinan lukisan GW akan diserbu pembeli dari luar negeri. Kenapa dari luar negeri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab orang asing sudah lama mulai bosan dengan lukisan seniman Eropa dan Amerika. Mereka mulai melirik China. Tapi harga lukisan dari China sudah terlalu mahal. Akan datang waktunya lukisan dari Indonesia yang naik daun. Dan yang naik daun itu, adalah lukisan-lukisan yang mengandung muatan lokal. ***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-8399117299532321964?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/8399117299532321964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/enigma-visual-pada-sebuah-elegi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/8399117299532321964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/8399117299532321964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/enigma-visual-pada-sebuah-elegi.html' title='Enigma Visual pada Sebuah Elegi'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-yKSvb4gEBwE/TpgHIF_rcqI/AAAAAAAAA-0/NUCAKzKsvL8/s72-c/edisi+15+B.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-2190149768544067326</id><published>2011-10-10T08:20:00.000-07:00</published><updated>2011-10-10T08:20:19.385-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tapal Batas'/><title type='text'>Pertahanan Di Negeri Pantun</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Teks Doddi Ahmad Fauji&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Pada dekade 80-an, banyak yang memprediksi negara Uni Soviet yang menganut paham komunisme, akan berakhir. Paham komunisme yang diadopsi dari ajaran Marxisme – Leninisme, menurut mereka, sudah tidak sesuai lagi dengan dinamika peradaban umat manusia. &lt;span class="st"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-theme-font: minor-latin;"&gt;Emmanuel Todd misalnya, penulis asal Perancis, memprediksi dalam beberapa dekade Uni Soviet akan bubar. Andrei Amalrik, cendekia asal Rusia sendiri, menulis buku yang meramalkan Uni Soviet akan bubar dalam 50 tahun ke depan. Yang mencengangkan, justru Uni Soviet bubar dalam delapan tahun setelah Andrei Amarlik meluncurkan bukunya. Tidak sampai 50 tahun kehancuran itu tiba. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Bahkan bubarnya Uni Soviet hanya terjadi tiga tahun setelah Imam Khomeini mengingatkannya kepada Gorbachev. Pada 3 Januari 1988, Pemimpin Revolusi Islam Iran itu menulis surat kepada Michael Gorbachev, Presiden Uni Soviet yang terakhir. Dengan pelbagai argumentasi yang bernas, Khomeini mengingatkan Gorbachev bahwa sistem sosialis yang diterapkan Uni Soviet dan Negara komunis lainnya, mengandung kesalahan yang fatal dan tidak bisa mensejahterakan rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Imam menulis, “Kebenaran akan terungkap, dan bahwa masalah utama negara Anda bukan terletak pada masalah kepemilikan,&amp;nbsp; ekonomi, dan kebebasan, melainkan pada ketiadaan keyakinan terhadap Tuhan sebagaimana juga dialami oleh negara-negara Barat. Ketidakyakinan Barat terhadap Tuhan inilah yang membawa mereka ke jalan buntu. Masalah utama Anda adalah pertempuran yang panjang dan tanpa arti, dengan Tuhan dan Pencipta Segala Wujud.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Bila Uni Soviet saja yang begitu adidaya bisa bubar, kemudian banyak pihak yang menakutkan pada suatu hari Indonesia bisa saja bubar seperti Uni Sovet atau Yugoslavia. Melalui lukisan yang dipamerkan di Taman Ismail Marzuki pada Juli 2011, seniman dan budayawan Hardi misalnya, mengingatkan, bila tidak ada perubahan perangai para elite politik, maka bisa saja terjadi perubahan yang mencengangkan menimpa Indonesia pada 2015 nanti. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dalam lukisan itu, Hardi memvisualkan beberapa tokoh Indonesia pada 2015 mengenakan pakaian yang identik dengan Islam. Tokoh-tokoh yang diberi baju muslim antara lain Frans Magnis Seseno, Goenawan Mohammad, Sri Sultan Hamengkubuwono, dll.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Bila keadaan begini terus, Indonesia akan pecah dan lahir negara-negara Islam,” kata Hardi dalam diskusi yang diselenggarakan bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-60.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Pada diskusi itu juga hadir Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, sebagai pembicara. Ia mengaitkan “ketakutan” Hardi melalui lukisannya dengan kejadian bubarnya Uni Soviet.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Politikus Fadli Zon yang &lt;i&gt;cum&lt;/i&gt; budayawan itu, yang juga dikenal sebagai pengamat Uni Soviet (Rusia), menguraikan kronologi bubarnya Uni Soviet. Menurut Fadli, Uni Soviet berdiri karena dipersatukan oleh partai politik dan militer. Kedua elemen tersebut meskipun dimiliki oleh Rusia dengan begitu kuatnya, ternyata tidak cukup untuk menopang pertahanan sebuah negara. Keresahan etno-nasionalis (suku bangsa) yang tidak terakomodir oleh pusat, menjadi titik awal pecahnya Uni Soviet.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Negara-negara bagian Uni Soviet di kawasan Baltik, merasa diperlakukan tidak adil, dan muncullah semangat etno-nasionalisme (kebangsaan kedaerahan) itu. Lalu mereka meminta desentralisasi melalui otonomi daerah seperti sekarang terjadi di Indonesia. Kemudian beberapa daerah, seperti Gerogia, Lituania, Latvia, meminta otonomi daerah secara khusus dan mendirikan pemerintahan sendiri seperti dimiliki oleh Pemerintah Aceh sekarang ini. Setelah otonomi khusus, ternyata Georgia tidak puas. Mereka akhirnya meminta referendum, dan Georgia pun merdeka. Referendum Georgia bisa mengingatkan siapapun pada kasus Timor Timur yang juga meminta referendum kepada pemerintah Indonesia. Kemerdekaan Georgia segera diikuti oleh Latvia dan Lithuania yang segera mendeklarasikan kemerdekaannya. Di Indonesia, kasus lepasnya Timor Timur tidak diikuti oleh daerah lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Pada bulan Juni 1991, Presiden Uni Soviet Michael Gorbachev, karena tidak mampu lagi mengatasi masalah internal Uni Soviet, malah menyatakan Rusia memisahkan diri dari Uni Soviet. Maka dengan memisahkan dirinya Rusia dari Uni Soviet, padahal Rusia adalah pendiri dan penopang utama Uni Soviet, maka negera Tirai Besi itu pun bubar. Di akhir 1991, Uni Soviet tinggal puing, dan terpecah-pecah menjadi 16 negara.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Kala itu, sebenarnya tidak ada yang kurang dari pertahanan Uni Soviet. Tentara melimpah. Persenjataan militer dan industri berat, sangat adidaya dan hanya Amerika Serikat yang mampu menyainginya. Sistem politik juga juga sangat stabil, karena dikendalikan oleh satu partai. Tapi Soviet toh runtuh juga.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kejadian di Uni Soviet pada dekade 90-an itu, kini sedang dialami oleh negara dan bangsa Indonesia, dengan kata lain, nasionalisme Indonesia sedang menghadapi ujian yang cukup berat. Apakah kita akan lulus ujian?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Bila perekat nasionalisme hanya ditopang oleh partai politik dan militer, tentu tidak cukup. Munculnya etno-nasionalisme seperti di Uni Soviet, bibit-bibitnya sudah terjadi di negara kita yang multi-etnis ini. Tapi banyak yang berargumentasi, sistem komunisme yang kolot dan feodal itulah yang menggerogoti pertahanan Uni Soviet dari dalam. Komunisme yang kolot dan feodal, hanya membuat para pemimpinnya yang&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;sejahtera, sementara rakyat di mana-mana sama menderitanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Argumentasi ini bisa saja dibenarkan, toh seluruh negara komunis di Eropa Timur juga mengalami kesenjangan kesejahteraan antara penguasa dan rakyat. Lalu satu-persatu negara-negara itu meninggalkan komunisme. Tahun 1990, Jerman Timur melebur ke dalam Jerman Barat, dan Tembok Berlin diruntuhkan. Yugoslavia juga bubar, dan terbagi ke dalam enam negara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Bila krisis ekonomi yang menjadi pelecut bubarnya sebuah negara, mungkin Indonesia sudah bubar sedari dulu, setidaknya pada krisis multidimensional yang terjadi pada 1998. Tapi Indonesia, Alhamdulillah masih berdiri dengan tegak sekalipun berulang-ulang diterjang krisis ekonomi. Berarti, yang menjadi sumber perpecahan bukan hanya persoalan ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Itu karena perekat nasionalisme kita bukan partai dan militer. Perekat nasionalisme kita adalah faktor sejarah dan budaya. Bangsa kita masih mengenal gotong-royong dan tolong menolong, dan sikap itulah yang bisa menyelamatkan bangsa kita. Tetapi lama-kelamaan, kemiskinan dan kesenjangan ekonomi, bisa menjadi musibah bagi bangsa kita,” tambah Fadli.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kesenjangan ekonomi akibat ketidakadilan dan korupsi yang dilakukan para pejabat (swasta maupun pemerintah), menurut Fadli adalah ancaman paling nyata bagi kelangsungan persatuan Indonesia. Solusi yang harus dijalankan adalah, memang sulit, mencari pemimpin yang memiliki &lt;i&gt;leadership&lt;/i&gt; sangat kuat dan tegas. Pemimpin bukan dalam artian hanya seorang Presiden, tapi kepemimpinan di seluruh lini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Fadli menyebutkan, banyak hal yang memang harus dibenahi dalam sistem ketatanegaraan kita, termasuk otonomi daerah yang sekarang ini. Dengan adanya otonomi daerah dan aturan yang tidak lentur, banyak anggaran yang tidak terserap ke dalam kegiatan. Anggaran tidak terserap artinya sama dengan menunda proses mensejahterakan rakyat. Otonomi daerah harus dikoreksi, terutama supaya terjadi kepemimpinan dan koordinasi secara nasional. Malah bila otonomi daerah tidak terkendali, ini bisa jadi bibit separatisme.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Selain membenahi ketatanegaraan dan birokrasi, seluruh elemen bangsa ini harus terus-menerus memperjuangkan cita-cita berdirinya negara Indonesia seperti yang termaktub dalam &lt;i&gt;preambule&lt;/i&gt; UUD 1945. Hingga saat ini, cita-cita itu belum terwujud. Inilah yang sebenarnya jadi titik lemah dari perekat nasionalisme dan pertahanan Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Saat ini, harus diakui, perekat nasionalisme bangsa Indonesia yang paling pragmatis ternyata bahasa Indonesia yang diadopsi dari bahasa Melayu Riau. Orang Papua dari Jayapura misalnya, tidak akan bisa berkomunikasi dengan orang Papua dari Manokwari atau dari Merauke bila mereka berkomunikasi dengan bahasa daerahnya masing-masing. Mereka jadi bisa berkomunikasi dengan orang Papua dari daerah lain karena sama-sama menggunakan bahasa Indonesia. Begitu pun Orang Indonesia dari dareah lain, merasa menjadi sebagai orang Indonesia karena menggunakan bahasa Indonesia. Karena itu, kita bukan saja harus memelihara bahasa Indonesia, tapi harus mengembangkannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Bahasa adalah salah satu unsur kebudayaan. Unsur kebudayaan tentu bukan hanya bahasa. Secara filosofis, kebudayaan bangsa Indonesia terangkum dalam pancasila. Namun di tataran pragmatis, banyak unsur-unsur kebudayaan yang menjadi perakat nasionalisme mulai meluntur, misalnya semangat gotong-royong, tolong-menolong, saling menghormati dan menghargai. Untuk membangkitkan kembali semangat-semangat itu, salah satunya adalah melalui aksi seni-budaya. Aksi seni budaya, mengajarkan berbagai nilai yang positif, seperti semangat mengapresiasi (menghargai), kerjasama, dan kreativitas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dalam soal menghidupkan seni budaya, kita perlu menengok masyarakat Pulau Bintan, khususnya di Kota Tanjungpinang yang menjadi pusat pemerintahan Provinsi Riau Kepulauan. Di sinilah seni tradisi pantun dan gurindam dirayakan sekaligus digebyarkan. Pemerintah dan masyrakat sepakat memberi nama Kota Tanjungpinang sebagai Kota Gurindam dan Negeri Pantun. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Di kota ini, pidato yang disampaikan oleh pajabat pemerintah maupun yang disampaikan oleh tetua adat, harus dibuka dengan berpantun terlebih dalu. Pantuan dipraktikan dalam keseharian, dan dilombakan di tingkat SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Pemilihan kepala daerah salah satunya diseleksi dengan kepandaian berpantun. Gerakan berpantuan telah mempersatukan rasa kebangsaan masyarakat Melayu di Tanjungpinang. Bahkan, dengan berpantuan itu, mereka mengikat rasa ke-Melayu-an mereka dengan memperluasnya ke Brunai, Malaysia, dan Singapura. Secara periodik, mereka menyelenggarakan lomba berbalas pantun antar negeri serumpun (Melayu) yang tidak dibatasi oleh Negara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Lalu Gurindam (syair), terutama Gurindam XII Gubahan Raja Ali Haji yang isinya merupakan perintah menjalankan kebaikan dan menjauhi keburukan, menjadi filosofi masyarakat di Tanjungpinang. Gerakan menghidupkan dan mengkreasi seni tradisi sesuai dengan semangat zaman seperti yang dilakukan di Tanjungpinang, adalah upaya untuk mempertahankan jati diri bangsa, dan tentu akan berimbas pada semangat nasionalisme. Bagaimanapun, nasionalisme menjadi hampa tanpa semangat kebangsaan, dan salah satu suluh dari semangat kebangsaan terdapat pada jati diri dan tradisi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Pertahanan seni-budaya seperti di Tanjungpinang, sungguh perlu digencarkan sebagai salah satu jalan mempertahankan kedaulatan negara dan bangsa. Kecuali di jaman revolusi kemerdekaan dulu, negara Indonesia sebenarnya tidak pernah melakukan peperangan dalam mempertahankan negara dan bangsa. Bukan berarti senjata dan benteng-benteng pertahanan tidak dibutuhkan, tetapi tantangan di era sekarang ini, dalam mempertahankan kenegaraan dan kebangsaan, lebih urgensif dengan mempertahankan sektor budaya, apalagi di tengah gempuran kebudayaan asing yang semakin gencar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Pantun di Tanjungpinang, telah menjadi benteng pertahanan kebangsaan yang kongkrit dan kokoh. Bila tanpa pantun dan gurindam, Pulau Bintan sangat rentan terserang separatisme, apalagi Pulau itu letaknya tidak berjauhan dengan Singapura dan Malaysia. Bisa saja banyak masyarakat yang berkhianat. Tetapi Riau memiliki pertahanan kebangsaan yang kuat, yaitu Bahasa Indonesia, sebab dari sanalah Bahasa Indonesia bermula. Seperti digambarkan di atas, perakat nasionalisme Indonesia yang paling pragmatis saat ini adalah Bahasa Indonesia. Tanpa Bahasa Indonesia, sangat mungkin daerah-daerah di Indonesia sudah berpencar-pencar mendirikan negara sendiri-sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Tetapi sekali lagi, apalah artinya mempertahankan negara bila tanpa rasa kebangsaan, dan rasa kebangsaan itu terkandung dalam kebudayaannya, dan unsur kebudayaan yang paling prafmatis dan fungsional adalah bahasa&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-2190149768544067326?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/2190149768544067326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/pertahanan-di-negeri-pantun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/2190149768544067326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/2190149768544067326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/pertahanan-di-negeri-pantun.html' title='Pertahanan Di Negeri Pantun'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-6087299667525342249</id><published>2011-10-10T07:26:00.000-07:00</published><updated>2011-10-10T07:26:47.589-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tapal Batas'/><title type='text'>Satu Hati Satu Tujuan</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 16px;"&gt;Teks Doddi Ahmad Fauji&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Mempertahankan keutuhan Nusantara adalah harus mempersatukan satu hati untuk mencapai satu tujuan bersama, yaitu kesejahteraan rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Sekira tahun 2004, saya berkesempatan mengunjungi Kabupaten Marauke bersama rombongan pejabat dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Rombongan disambut oleh pidato Bupati Merauke kala itu, Johanes Gluba Gebze, yang biasa dipanggil Pak Jon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Pidato Pak Jon, kurang lebih seperti ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Wajah kami mungkin mirip patung yang belum rampung diukir, tapi kami punya senyuman untuk menyambut tamu-tamu yang datang dari &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Selamat datang di Kabupaten Merauke. Anda tidak akan disambut oleh upacara yang meriah, tidak akan menginap di gedung yang mentereng, karena semua itu tidak kami miliki. Tapi Anda bisa melihat laut Arafuru yang menggetarkan, matahari yang bulat penuh, dan langit yang cemerlang tanpa awan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Betapa girang hati kami telah dikunjungi oleh para pejabat dari &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Dengan kunjungan ini, kami merasa disapa sebagai anak-anak Nusantara. Tetapi meskipun tanpa kunjungan, kami akan bersetia menjaga dapur Nusantara yang berada di kawasan paling timur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Bila Sabang adalah beranda rumah, dan &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; adalah ruang tamu, maka Merauke ini adalah dapur. Jadi kami adalah orang dapur yang harus memberi suluh supaya tungku Nusantara tetap menyala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Bila kita hendak becermin ke alam, di mana matahari terbit dari timur, maka semestinya pula menempatkan Merauke itu sebagai serambi. Kami hidup lebih dulu dua jam dari penduduk &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, sebab matahari lebih awal terbit dua jam di sini. Tapi itu hanya sebuah kemestian yang sulit dijalankan. Sebab bila hendak dijalankan, berarti kita harus mengubah lagu Dari Sabang Sampai Merauke menjadi Dari Merauke Sampai Sabang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Pidato Pak Jon sungguh luar biasa: &lt;i&gt;out of box from my mind&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Pada pidatonya itu, antara eufimisme, ironi, pengharapan, dan permohonan menyatu-padu dalam kalimat-kalimat yang filosofis. Mari renungkan kalimat ini, “Mungkin wajah kami mirip patung yang belum rampung diukir, tapi kami punya senyuman untuk menyambut tamu-tamu yang datang dari &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Sebuah eufimisme yang alamiah, sekaligus sindiran yang menukik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Di kawasan perbatasan, yang semestinya menjadi beranda rumah tangga Nusantara, memang banyak ditamui hal-hal yang ironis. Kawasan perbatasan Indonesia di Merauke, tidak nampak seperti beranda yang megah dari sebuah negara besar. Apa yang ada di &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, adalah alamiah belaka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Tetapi harus diakui, pada masa Pak Jon memimpin, &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Merauke nampak asri, bersih dan tertata. &lt;st1:place w:st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; penduduk menggunakan helm saat berkendaraan, bukan karena takut polisi, tapi taat aturan. Toh di &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Kabupaten Merauke, tidak banyak ditemui polisi lalu lintas. Agak berbeda dengan &lt;st1:city w:st="on"&gt;Kota&lt;/st1:city&gt; jayapura yang mirip &lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt; atau &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, di Merauke tidak nampak sampah-sampah mengotori jalanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Seperti kata Pak Jon, penduduk Merauke memang ramah senyuman. Entah ini telah diinstruksikan, atau memang telah menjadi laku keseharian. Tapi menurut orang tua dulu, bangsa Nusantara memang murah senyum. Apalagi di daerah pegunungan seperti Periangan, penduduknya selalu ramah kepada siapapun. Itulah sebabnya psikolog MA Brower mengatakan, Priangan diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt; memang tidak memiliki musim salju yang membuat manusia jadi cemberut karena menahankan dingin. Negeri kita adalah kolam susu, tongkat batu jadi tanaman. Kekayaan alam negeri kita sangat melimpah. Kondisi geografis yang subur ini telah mendidik penghuninya jadi murah senyum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Tetapi di kota-kota besar sekarang ini, di mana manusia terhimpit di hutan beton, keramahan itu seperti tercerabut serempak. Manusia menjadi hampa dan seperti robot. Demi bertahan hidup yang cukup berat, uang akhirnya menjadi Tuhan. Mungkinkah semangat kebangsaan bisa diminta dari mereka yang menyembah rupiah sebagai Tuhan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Kepada masyarakat Merauke yang masih alamiah, semangat kebangsaan akan mudah disemai. Setiap anak bangsa akan menjadi prajurit sejak di dalam hatinya masing-masing. Tidak perlu dirayu, tak usah dipaksa, mereka akan memberikan hatinya, tentu dengan catatan seperi kata Pak Jon, “kami merasa disapa sebagai anak-anak Nusantara.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Bila kehidupan ini akan berjalan statis, tak perlu diragukan, bahwa penduduk Merauke akan bersetia menjadi suluh Nusantara di dapur yang paling Timur. Sayangnya, roda kehidupan begitu dinamis, dan perubahan terjadi dengan eskalasi makin cepat. Lambat-laun namun pasti, semua yang alamiah akan tergerus oleh kemajuan, dan menjadikan mereka sebagai budak-budak penyembah Tuhan yang bernama rupiah. Bila kata Tuhan mereka berkhianatlah kepada Nusantara, maka sebagai budak, mereka akan berkhianat. Itulah yang terjadi di &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Korupsi adalah perbuatan yang berkhianat kepada rakyat Nusantara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Rasanya, masih lama wajah Merauke akan berubah. Tanah yang lapang, masih seluas mata memandang. Tiada pabrik yang mengepulkan asap hitam. Tiada kopaja atau mikrolet yang menyeburkan karbon mono oksida. Langit nampak biru-kelabu bahkan tanpa awan. Dan di hutan-hutan, semut hitam masih memberikan pelajaran yang berharga tentang makna persatuan. Di Merauke saya melihat semut-semut hitam membangun sarang dari tanah, hingga muncul ke permukaan. Sarang semut itu tingginya bisa mencapai 11 meter. Semut-semut hitam itu telah mengajarkan kepada penduduk di Merauke, bahwa kebersamaan dan persatuan bisa mewujudkan sesuatu yang sulit masuk akal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Di daerah perbatasan Indonesia – Papua Nugini, atau di kawasan tugu titik 5200 KM, gairah hidup yang alamiah juga masih terasa kental. Penduduk Indonesia yang berada di kawasan perbatasan itu, dengan penduduk Papua Nugini yang juga berada di kawasan perbatasan itu, hidup rukun layaknya saudara, dan memang pada kenyatannya banyak di antara mereka adalah saudara sedarah, saudara sesuku, yaitu &lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Suku&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Marind. Jika alam tidak berubah, dan dinamika politik tidak porak-poranda, mereka akan terus hidup damai seperti itu, meskipun beda kewarganegaraan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Barangkali, ya barangkali, penduduk Merauke masih lebih beruntung dari penduduk Papua Nugini bila dibandingkan dengan ketersediaan bahan pangan. Kenyataannya, suku Marind dan suku-suku lain yang berasal dari Papua Nugini, tiap sore datang ke wilayah RI melalui jalan perbatasan setapak kaki. Dengan sepeda ontel, mereka datang ke wilayah RI dengan membawa hasil buruan dan hasil alam. Mereka membawa cula, tanduk, kulit, dan lain-lain, untuk dijual kepada penduduk RI. Lalu mereka pulang dengan membawa gula, kopi, garam, ikan asin, minyak, rokok, batu batrey, dan barang-barang lain untuk kebutuhan hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Mereka masuk ke wilayah perbatasan RI tanpa pemeriksaan yang ketat. Memang ada selembar &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; dokumen yang harus mereka keluarkan, dan polisi di perbatasan memeriksanya, lalu mengijinkan mereka masuk. Di kawasan perbatasan ini, tidak ada pagar, tidak ada benteng yang mentereng. Yang ada hanya tugu Titik 5200 KM, yaitu penanda titik terjauh kawasan RI dihitung dari tugu Titik 0 KM yang ada di Kota Sabang. Satu lagi tugu yang ada di &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, adalah tugu yang menjadi perbatasan RI – PNG.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Pertahanan&lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt; &lt;st1:state w:st="on"&gt;RI&lt;/st1:state&gt;&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt; di kawasan perbatasan itu, bukanlah serdadu, tapi “hati” penduduk. Namun muncul pertanyaan, sampai kapankah mereka memberikan “hati” untuk Nusantara?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Bila kita cermati sebuah &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; terbuka yang dikirimkan via milis, miris rasanya. Tidak bisa dimungkiri, ada riak-riak separatisme di Tanah Air ini. Simak saja penggalan tulisan di milis &lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/Komunitas_Papua/message/548"&gt;http://groups.yahoo.com/group/Komunitas_Papua/message/548&lt;/a&gt; yang berbunyi: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;“Dengan menjalankan peran Anda sebagai agen Bupati, berarti Anda sedang dicongar seperti sapi oleh orang-orang non Papua di Merauke untuk memperkuat sistem sosial, politik, ekonomi, hukum, administratif, dan ideologi yang sepenuhnya dirancang dan diterapkan oleh pemerintah kolonial Indonesia untuk mengindonesiakan kami orang Papua Barat… “&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Bupati yang dimaksud dalam &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; milis itu, tiada lain adalah Pak Jon yang kata-katanya terdengar filsuf itu. Jika saya sebagai orang luar Papua terpukau mendengar pidato penyambutan yang disampaikan Pak Jon, justru orang Papua sendiri ada yang menilai Pak Jon adalah perpanjangan tangan kolonial RI. Tentu, bibit-bibit seperatisme seperti ini tidak bisa dibiarkan dan dianggap gampangan. Harus diselesaikan sebijaksana mungkin, dan sebenarnya pembesar di republik ini tahu, tindakan apa yang harus diambil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Seperti dikutip Antara, tindakan yang harus diambil adalah seperti yang dikatakan Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu pada upacara pelantikannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Barnabas mengatakan, cara terbaik untuk menghambat upaya separatisme di Papua adalah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;dengan meningkatkan kesejahteraan, memberantas kebodohan dan keterbelakangan agar rakyat Papua hidup sejajar dengan saudara-saudaranya di wilayah lain &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;"Pada jumpa pers sehari sebelum pelantikan, Senin (24/7/2006), kami telah menegaskan bahwa untuk menuntaskan separatisme di Papua maka jalan satu-satunya adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat. Jika rakyat sudah sejahtera maka mereka tidak akan bertindak macam-macam. Orang berteriak karena dia tidak sejahtera," katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;RI bisa berharap penduduk Merauke tidak akan terhasut oleh provokasi-provokasi gencar yang disampaikan melalui online. &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; satu falsafah hidup yang patut dicermati dari merauke, yang falsafah itu sering mereka ucapkan, dan mereka tulisan di beberapa tempat yang cukup penting, di antaranya di salah satu gedung Mopah, Bandar Udara Merauke. Falsafah itu berbunyi: Izakod bekai izakod kai (Satu hati satu tujuan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Bila sudah membicarakan tujuan, maka tentu kita harus berpaling pada &lt;i&gt;preambule&lt;/i&gt; UUD 1945, yang menyebutkan tujuan daripada pendirian republik ini. Sekedar untuk mengingatkan, bila saja lupa kalimat-kalimat persis dari tujuan pendirian RI menurut &lt;i&gt;preambule&lt;/i&gt; adalah seperti ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-line-height-alt: 1.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Symbol; font-size: 12.0pt; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Ketuhanan Yang Maha Esa, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-line-height-alt: 1.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Symbol; font-size: 12.0pt; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kemanusiaan yang adil dan beradab, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-line-height-alt: 1.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Symbol; font-size: 12.0pt; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Persatuan &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, dan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-line-height-alt: 1.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Symbol; font-size: 12.0pt; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: Symbol; font-size: 12.0pt; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tujuan di atas, tidak akan ditolak oleh akal sehat, oleh bangsa manapun. Tetapi seringkali, justru kita lupa bahwa untuk mempertahankan kedaulatan negeri ini, juga sekaligus harus dengan melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Mungkinkah kemerdekaan dan perdamaian abadi bisa terwujud bila kita membentengi diri dengan moncong meriam, dengan kecurigaan dan kata-kata yang mengobarkan kebencian?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kita tahu, misalnya, saat ada konfrontasi dengan &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;, kata-kata kasar berseliweran menghasut ke &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kemari, dan tidak menyelesaikan masalah, selain hanya mengobarkan kebencian. Contoh kalimat-kalaimat yang mengobarkan kebencian, saya kutipkan sebuah thread dari situs: &lt;a href="http://www.topix.com/forum/world/malaysia/TRFL7585RARD320OQ"&gt;www.topix.com/forum/world/malaysia/TRFL7585RARD320OQ&lt;/a&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;“Gw bikin thread ini buat kalian khusus forumers dari &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;INDONESIA&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; (anjing malon gak usah ikut..!!). Di sini loe bebas mau maki2 apa saja ttg malingsial.. negaranya kah.. orang2 nya kah.. kebudayaannya kah... etc.. pokoknya loe di sini bebas mau tulis apapun! gak ada batasan bahasa halus &amp;amp; kasar disini!!. &lt;st1:city w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt; similikity yang lebih mengedepankan diskusi yg sehat, tp jangan lupa juga bhw ada banyak juga forumers &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; yg sudah sedemikian muak dengan tingkah laku malingsial yg semakin ngelunjak dengan &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. So, keluarkan semua kedongkolan loe disini..!!! DASAR MALON BANGSAT...!!!! Akur..?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Bunyi thread di atas, bisa dimaklumi, karena tentu yang mereka ke depankan bukan semangat pembukaan UUD 1945. Tetapi permakluman tentu tidak cukup, dan kita tidak bisa berharap banyak untuk mempertahankan kedaulatan RI kepada mereka-mereka yang mudah tersulut. Dikiranya kita bisa menang bila perang melawan &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang didukung Inggris. Bung Karno sudah membuktikan, tidak mampu menggayang &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Yang ada, malah Bung Karno yang terjungkal. Ingat kata Bung Karno: Jas Merah (Jangan sekali-kali melupakan sejarah).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Satu hati satu tujuan, semoga bukan sekedar jargon, dan satu negara satu keadilan, semoga bukan utopia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-6087299667525342249?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/6087299667525342249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/satu-hati-satu-tujuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/6087299667525342249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/6087299667525342249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/satu-hati-satu-tujuan.html' title='Satu Hati Satu Tujuan'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-1258371526801459051</id><published>2011-10-10T07:19:00.000-07:00</published><updated>2011-10-10T07:19:30.350-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tapal Batas'/><title type='text'>Jasmerah: Pulangnya Sang Penakluk</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 16px; line-height: 18px;"&gt;Teks Doddi Ahmad Fauji&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Pertahanan dan keamanan tidak semata bertumpu pada kekutan senjata dan jumlah tentara, tetapi juga pada kekuatan jiwa. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Manusia barbar tidak bisa ditaklukan dengan cara merampas tanahnya dan merebut kekuasaannya. Manusia barbar harus ditaklukan jiwanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Demikian kesimpulan Alexander The Great atau Iskandar Agung saat mengecap kekalahan yang menyakitkan dari India. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Akan tetapi kalah oleh India ada hikmahnya juga. Setidaknya, terbit pencerahan baru yang melahirkan kesadaran-kesadaran lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Alexander benar-benar tidak berminat lagi meneruskan penyerangan terhadap India. Ia memutuskan untuk pulang ke Yunani. Namun di tengah jalan, ia mangkat karena didera kolera. Sepeninggal Alexander, kekuasaan Yunani yang telah terbentang luas hasil penaklukan Alex, mencakup Mesir, Eropa, dan seluruh kawasan Persia, kembali tercabik-cabik. Mereka berebut kekuasaan dan membagi-baginya. Kekuasaan yang terpecah-pecah itu, dengan mudah dilumat kembali oleh pihak lain. Pribahasa “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,” menemukan pembenarannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Kisah Alex sudah berlalu lebih dari 2400 tahun. Tapi kisah ini masih memberi inspirasi pada era kekinian. Tahun 1956, kisah Alex difilmkan dengan Richard Burton bermain sebagai Alexander. Tahun 2004, kembali muncul film Alexander garapan sutradara &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Oliver_Stone" title="Oliver Stone"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;Oliver Stone&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dengan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Colin_Farrell" title="Colin Farrell"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;Colin Farrell&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan Angelina Jolie sebagai pemeran. Film tahun 2004, diangkat dari buku &lt;i&gt;Alexander the Great&lt;/i&gt; (1970) karya &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Robin_Lane_Fox" title="Robin Lane Fox"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;Robin Lane Fox&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Professor of Ancient History at Oxford. Kehadiran dua film ini menegaskan, kisah yang sudah berlalu itu masih relevan untuk dipelajari dan dipungut hikmahnya. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dan sangat kontekstual dengan zeit geitz (semangat jaman). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Seperti dikisahkan dalam sejarah, sedari belia, Alex adalah murid Aristoteles, di mana Aristoteles ditempatkan dalam peradaban dunia sebagai mahaguru filsafat humanisme terbesar sepanjang jaman, dan telah memberi inspirasi pada kelahiran ilmu modern hingga berkembang seperti sekarang ini. Sebagai murid dari mahaguru yang humanis, tentu Alex pun menyerap hakikat, gagasan, dan tujuan filsafat humanisme, yaitu mengolah akal-budi manusia dan mereduksi naluri-naluri yang buruk seperti fasistik, despotistik, jahil, rakus, dan naluri serba-jahat lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Benar bahwa sebagai penguasa Yunani, Alex terpanggil untuk memimpin langsung perang melawan Persia. Kala itu, imperium Persia yang sudah begitu luas dan besar, masih saja rakus untuk menaklukan kawasan-kawasan lain termasuk Yunani yang di tahun-tahun sebelumnya, pernah dikalahkan Persia. Mulanya, Alex bangkit untuk menapis serangan Persia yang rakus itu. Alex melihat, bangsa Persia adalah bangsa yang barbar dan suka merongrong daulat bangsa lain. Dalam konteks peperangan ini, posisi Yunani adalah mempertahankan diri dari rongrongan bangsa luar. Dalam pikiran Alexander juga terbit persepsi, bahwa bangsa lain di luar Yunani adalah barbar belaka, karena itu mereka harus ditaklukan supaya menjadi lunak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Seperti dikisahkan dalam berbagai film, tentara Yunani kalah jumlah mencapai 10 kali lipat dari tentara Persia, juga kalah dalam modernisme persenjataan. Tapi Persia berhasil dikalahkan. Keberhasilan mengalahkan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 16px; line-height: 18px;"&gt;Persia itu, membuat Yunani jadi percaya diri. Ketika memasuki Persia, Alexander terperanjat melihat hasil-hasil pembangunan Persia mengagumkan. Bangsa Persia yang dalam benak orang Yunani dituding barbar itu, ternyata memiliki peradaban yang sudah maju. Alexander sebetulnya sudah merasa cukup dengan mengalahkan Persia, namun godaan dan rongrongan manusia untuk memperluas kekuasaan, dan juga bujukan dari teman-temannya, membuat mereka ingin terus melaju. Mereka pun terus melaju ke arah Timur guna menaklukan manusia barbar berikutnya, Selanjutnya, perang yang mereka lakukan tentu bukan lagi dalam rangka mempertahankan diri, tapi untuk memperluas kekuasaan dan memenuhi hasrat purbawi manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Satu demi satu mereka menaklukan daerah-daearh yang dilaluinya, dan terus berjalan ke daerah yang tak pernah mereka ketahui, tak pernah mereka bayangkan, kecuali dikisahkan dalam dongengan bahwa ada bangsa yang bernama India, yang memiliki tentara dengan menunggangi gajah. Dalam pada itu, bangsa Yunani kala itu, tidak pernah melihat gajah. Mereka hanya tahu gajah ada dalam mitos.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Perjalanan tentara Yunani akhirnya sampai ke India. Betapa mereka terperanjat saat melihat gajah yang sesungguhnya. Kala itu, Alex yang sudah jaya, lupa pada ajaran Aristoteles. Bahkan Alex berujar, Aristoteles ilmunya dangkal karena tidak pernah melihat Persia dan gajah yang sesungguhnya. Merasa lebih hebat dari gurunya, ia pun bertekad untuk menaklukkan India.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Ada yang tidak terperhitungkan oleh tentara Yunani termasuk oleh Alexander. Naluri binatang sungguh berbeda dengan naluri manusia. Kuda tidak pernah takut menghadapi tombak dan pedang. Karena itu, kuda bisa terus melaju menyongsong musuh. Namun ternyata kuda takut oleh gajah yang badannya lebih besar dan raungannya lebih keras. Kuda-kuda tentara Yunani enggan melaju sekalipun telah dilecut. Kuda-kuda itu bergeming saat melihat barisan gajah yang ditunggangi tentara India. Inilah mula kekalahan Yunani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Alex pulang dengan berujar, manusia barbar tidak bisa ditaklukan tanahnya, tapi harus ditaklukan jiwanya. Kekalahan itu telah membawanya kembali pada kesadaran humanistik. Ia tidak berminat lagi untuk melakukan peperangan. Ia memutuskan untuk pulang dan memperkuat jiwa-jiwa bangsa Yunani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Kisah tentang Sang Penakluk Sepanjang Jaman itu, tentu terbuka untuk ditafsir ulang, dan bisa ditarik garis kontekstual dengan kondisi sosial-politik negara dan bangsa Indonesia saat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Saat ini, bangsa kita sedang memasuki masa terombang-ambing. Gonjang-ganjing politik belum juga reda. Korupsi kian merajalela. Dalam pada itu, percik-percik separatisme, bertempiasan di beberapa&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 16px; line-height: 18px;"&gt;Konfrontasi di kawasan-kawasan perbatasan RI, bisa dengan mudah meletus, seperti yang terjadi dengan Malaysia saat memperebutkan Pulau Sipadan dan Ligitan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Dengan menghikmati kembali kisah Alexander, kita bisa melihat bahwa pertahanan itu tidak terletak pada jumlah tentara atau persenjataan yang modern. Pertahanan itu berasal dari dalam diri. Saat akan bertanding, antusias dan mentalitas bangsa Yunani jauh lebih menggebu dan berkobar, hingga melahirkan gaung dan raungan yang menakutkan. Sementara tentara Persia tidak berdarah untuk perang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Kemenangan Yunani berasal dari dalam diri. Hal ini pula yang diajarkan dalam kisah Musashi, samurai tidak bertuan yang berhasil menaklukan berbagai perguruan hanya dengan seorang diri. Kemenangan orang-orang yang kemudian menjadi penguasa dunia, juga sering dikisahkan, berasal dari keyakinan yang begitu kuat, dan bukan dari persenjataan yang lengkap dengan dukungan tentara yang banyak. Imamura menaklukan Belanda di Kalijati, Subang, juga hanya dengan jumlah tentara yang sedikit dan dengan persenjataan yang tidak memadai. Tapi Belanda gentar sebelum perang. Atau Fidel Castro yang bergerak hanya dengan tujuh orang dari hutan, dengan bedil seadanya, toh berhasil menumbangkan junta militer yang bahkan didukung oleh Amerika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Menyerang atau bertahan, sama-sama membutuhkan jiwa-jiwa yang kuat, dan keyakinan itu bersandar di lubuk hati yang terdalam. Ada baiknya kita hikmati sekelumit kalimat di bawah ini: &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dari Abu 'Abdillah An-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma berkata, "Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang syubhat (samar-samar), kebanyakan manusia tidak mengetahuinya, maka siapa yang menjaga dirinya dari yang syubhat itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya, dan siapa&amp;nbsp; yang terjerumus dalam perkara syubhat maka ia telah terjerumus kedalam wilayah yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang maka hampir-hampir dia terjerumus ke dalamnya. Ingatlah setiap raja memiliki larangan dan ingatlah bahwa larangan Allah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ingatlah bahwa dalam jasad ada segumpal daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”. [HR. Bukhari dan Muslim]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Maka dalam konteks pertahanan pun, intinya ada di dalam hati. Bukan berarti persenjataan dan prajurit tidak dibutuhkan. Namun bila prajuritnya tidak memiliki keyakinan yang kuat, pertahanan akan mudah goyah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 16px; line-height: 18px;"&gt;Malah bisa jadi pertahanan akan berantakan bila banyak prajurit yang ternyata berkhianat demi kepentingan sendiri atau kelompoknya. Kisah penjualan pasir dari perairan Indonesia ke Singapura seperti yang pernah dilansir media massa beberapa waktu lalu, di mana Singapura memanfaatkan pasir itu untuk mengeruk laut demi perluasan wilayahnya, harus dipandang sebagai pengkhianatan. Berarti jiwa-jiwa bangsa kita masih lemah dalam mempertahankan kedaulatan tanahnya. Sebab dengan penjualan pasir itu, tanah Singapura menjadi lebih luas, dan laut kita jadi menyempit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Pertahanan bisa menjadi sangat rapuh, bukan karena musuh yang begitu kuat menyerang, tapi karena jiwa yang lumpuh untuk bertahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Tetapi, berita-berita yang beredar di media massa ketika membahas soal pertahanan, jarang sekali membicarakan dari sudut jiwa bangsa atau dari sudut manusianya. Anggaran untuk Kementerian Pertahanan, lebih banyak membahas pembelian persenjataan. Para pembesar di negeri ini sepertinya sepakat, pertahanan kita kurang bagus karena persenjataan dan perlengkapan yang dimiliki negara kita didominasi oleh barang rongsokan. Dua kapal selam yang kita miliki misalnya, adalah kapal selam keluaran Rusia pada era Perang Dunia II.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Memang, bila membicarakan pertahanan hanya dari konteks negara, yang muncul adalah mempertahankan kadaulatan wilayah. Itulah yang menjadi alasan anggaran pertahanan perlu ditambah untuk membeli persenjataan, terutama setelah Pulau Sipadan dan Ligitan lepas ke Malaysia. Padahal menurut pendapat beberapa pakar yang melakukan analisis, lepasnya Sipadan dan Ligitan bukan karena perlengkapan perang negara kita yang didominasi barang rongsokan, toh kedua pulau itu lepas bukan karena kalah perangan, tapi karena kalah strategi oleh Malaysia dalam hal pembangunan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Kedua pulau itu sudah lama menjadi sengketa. Karena gejolak internal lebih menyedot tenaga dan perhatian, membuat pemerintah kita lupa bahwa ada dua pulau yang sedang dipersengketakan dengan Malaysia. Sementara pemerintah Malaysia terus membangun di kedua pulau itu, sehingga Mahkamah Internasional memberikan kedua pulau itu untuk Malaysia yang dianggap lebih peduli. Misalkan diberikan referendum kepada penduduk di dua pulau itu, apakah akan memilih Malaysia atau Indonesia, rasanya tidak yakin mereka akan memilih bergabung dengan Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Mengkaji fakta di atas, dan membaca gejolak yang terus timbul di kawasan perbatasan (borderline) Republik Indonesia, sudah waktunya pertahanan kebangsaan diperkuat. Sudah waktunya membangun benteng-benteng pertahanan itu sejak dari dalam jiwa, dan bukan sekadar membangun benteng yang mentereng seperti yang diwujudkan oleh Kaisar China dengan mendirikan Benteng China. Toh Dinasti China pendiri benteng itu, runtuh bukan oleh serangan dari luar, tapi porak-poranda dari dalam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Adanya pihak-pihak yang berani menjual pasir ke Singapura atau menjual BBM ke tengkulak Malaysia, membuktikan pertahanan jiwa kebangsaan kita sangat rapuh. Luasnya wilayah Singapura, berpisahnya Timor-Timur, lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan, adalah pelajaran yang mengingatkan bahwa manusia tidak bisa ditaklukan dengan cara merampas tanahnya atau merebut kekuasaanya, tapi harus dengan menaklukan jiwanya, seperti kata Alexander.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Setiap bulan Juni, tentang kebangsaan kembali dirayakan dan didiskusikan, karena tanggal 1 Juni dinyatakan sebagai hari kelahiran Pancasila, dan tanggal 6 Juni, Bung Karno lahir. Pancasila dan Soekarno telah menjadi dua kata sakti yang seolah bisa menyembuhkan luka bangsa, apapun jenisnya. Tentu saja bila hanya dengan menyebut dan mengenang dua kata sakti itu, luka tidak akan bisa disembuhkan. Ajaran Pancasila dan spirit Bung Karno, harus diteladani dan diejawantahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Seluruh sila dalam Pancasila adalah ajaran yang menitikberatkan pada persoalan kebangsaan. Bung Karno juga dinisbatkan sebagai bapak bangsa (founding father) dan bukan bapak negara. Tetapi semakin hari, sepertinya bangsa ini sedang menjauh dari moralitas Pancasila dan élan vital Bung Karno. Kita terlalu bersibuk membicarakan Negara dari konteks fisik, namun kurang abai dalam memperkuat jiwa nasionalis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Makin maraknya tindak korupsi dan kriminalitas, menjadi sinyalemen betapa ajaran Pancasila semakin ditinggalkan. Semakin banyaknya orang-orang yang mendahulukan kepentingan pribadi dan golongan, semakin mencerminkan betapa spirit Bung Karno hanya tinggal jargon. Sungguh jauh dari spirit Bung Karno yang betapa kuat dan kukuh menggenggam semangat kebangsaan. Demi bangsa, ia tidak gentar oleh bedil dan senapan, juga tidak lumpuh oleh penyekapan dan pembuangan. Pun, ia tidak pernah terdengar melakukan korupsi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Bung Karno kemudian menegaskan, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Sejarah, tentu bukan sekadar untuk dihapal, tapi untuk dinukil dan ditafsir terus-menerus. Selanjutnya, mari kita belajar pada sejarah lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan, serta berpisahnya Timor Timur, yaitu bahwa pertahanan yang paling kuat ialah membangun jiwa-jiwa yang kuat. Di kawasan perbatasan wilayah, yang diperkuat bukan hanya benteng mentereng, tapi jiwa-jiwa dengan semangat kebangsaan yang menyala-nyala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-1258371526801459051?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/1258371526801459051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/jasmerah-pulangnya-sang-penakluk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/1258371526801459051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/1258371526801459051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/jasmerah-pulangnya-sang-penakluk.html' title='Jasmerah: Pulangnya Sang Penakluk'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-8985681484983804623</id><published>2011-10-10T07:09:00.001-07:00</published><updated>2011-10-10T07:09:08.036-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tapal Batas'/><title type='text'>Jasmerah: Berkiblat Ke Utara</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 16px;"&gt;Teks Doddi Ahmad Fauji&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;“Soekarno!” &amp;nbsp;Teriak seseorang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Kami menoleh ke arah teriakan itu. Rupanya berasal dari dalam toko klontongan yang sedang kami lalui. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Melihat kami menoleh, orang itu nampak bahagia dan segera ke luar dari toko. Ia mengulurkan senyuman dan menyalami kami. Tahu kami bukan orang Rusia, ia coba bicara dalam bahasa Inggris yang terbata-bata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Saya dan Benny Benke (wartawan koran Suara Merdeka), coba menyimak apa yang ia sampaikan. Kami beruntung bisa sampai ke Rusia untuk membaca puisi dan menjadi pembicara dalam seminar Kebudayaan Indonesia Terkini di Universitas Negeri Moskow, Rusia, dan di Universitas Negeri St. Petersburg, pada bulan Maret 2004 silam. Para peserta seminar adalah para profesor yang mewakili 7 Perguruan Tinggi di Rusia yang mempelajari kebudayaan Indonesia. Kami pun tentu memanfaatkan kunjungan ke Rusia itu untuk menyusuri jalan-jalan di Kota Moskow dan Kota St. Petersburg yang bersejarah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Selama di Moskow, Benny tiba-tiba keranjingan mengenakan kupiah untuk menghalau udara dingin selepas rinyai salju reda. Saat menyusuri jalan-jalan itulah kami dengar seseorang meneriakkan kata “Soekarno” dari dalam toko.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;“Saya pengagum Soekarno,” kata orang itu. Kupiah yang dipakai oleh Benny, kata dia, mengingatkannya kepada Presiden Soekarno yang pernah ia lihat dulu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Lelaki itu pun bercerita. Waktu kecil dulu, ia dan teman-teman sekolahnya berjajar dan berbanjar di jalan menuju &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;gelanggang olah raga Luzhniki, di Kota Moskow. Anak-anak disetting untuk mengibar-ngibarkan bendera Merah Putih ukuran mini guna menyambut kedatangan Presiden Soekarno yang akan berorasi di gedung itu pada 1956. Mengenakan baju kebesarannya, setelan sapari, Soekarno tak pernah menanggalkan kupiah di depan umum. Sejak Soekarno memperkenalkannya, walau tidak pernah dikukuhkan melalui Undang-undang, kupiah telah menjadi penutup kepala resmi bangsa Indonesia, yang dipakai oleh para Presiden dan anggota Kabinet, anggota DPR, pemuka agama Islam, termasuk dipakai oleh Kwik Kian Gie sewaktu menjabat Menteri di Kabinet Gotong Royong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;“Soekarno sangat hebat. Kami semua terpesona. Bung Karno berpidato Di Luzhniki. Kami anak-anak kecil, tentu tidak mengerti apa yang disampaikan dalam pidato Bung Karno, tapi kami semua bertepuk tangan. Aku masih ingat topi yang dipakainya, khas sekali, mungkin hanya orang Indonesia yang memakai topi seperti yang kamu pakai ini,” kata pemilik toko itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Kedatangan Soekarno menarik perhatian ribuan masyarakat Soviet. Acara yang paling istimewa adalah pertemuan akbar persahabatan Uni Soviet – Indonesia yang diadakan di gelanggang olah raga Luzhniki itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;“Waktu itu, pidato Soekarno berkali-kali disambut gegap gempita tepuk tangan. Para hadirin telah terpesona dengan penampilan orator luar biasa ini. Semua memahami bahwa mereka sedang menyaksikan tokoh berskala dunia, putra sejati bangsanya yang luhur,” kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Alexander Ivanov, seperti ia tuliskan dalam Yubileum yang Ke-60 Hubungan Rusia – Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 1;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Kunjungan resmi kenegaraan Bung Karno ke Rusia, mulai &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;28 Agustus hingga 12 September 1956, membuka sejarah baru hubungan bilateral Indonesia – Uni Soviet, yang masa itu dipimpin Nikita Khruschev. Pada 11 September, berhasil ditandatangani Pernyataan Bersama. Dokumen itu menegaskan, kedua negara akan membangun hubungan bilateral berdasarkan prinsip saling menghormati keutuhan wilayah dan kedaulatan masing-masing negara, penolakan campur tangan urusan masing-masing, dan akan mengikuti semangat serta prinsip-prinsip Konferensi Bandung. Kedua pihak sepakat untuk mengatur kerjasama di bidang perdagangan, teknologi, dan ekonomi berdasarkan kesetaraan dan saling menguntungkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Usai orasi di Luzhniki, Bung Karno melihat-lihat gelanggang olah raga itu, dan berkata kepada Khruschev, “Saya ingin yang sama”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Soviet pun segera mengirimkan para arsitek dan teknisi ke Indonesia untuk mewujudkan Gedung Olah Raga Senayan Bung Karno (Gelora Bung Karno). Pada 1962, menjelang Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games di Jakarta, Gelora Bung Karno sudah bisa diresmikan. Menurut Ivanov, dari segi mutunya, Gelora Bung Karno waktu itu bahkan lebih unggul dibanding Luzhniki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;“Di Gelora Bung Karno langsung dipasang pelindung untuk melindungi para penonton dari hujan dan sengatan matahari. Di Luzhniki, konstruksi seperti itu baru dipasang 40 tahun kemudian,” tulis Ivanov dalam situs resmi Kedubes Rusia untuk Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Setalah kunjungan 1956, Soekarno mengunjungi Uni Sovyet tiga kali lagi, yaitu pada 1959, 1961 dan 1964. Pada 1960, Nikita Khruschev melakukan kunjungan balasan ke Indonesia, dan menghasilkan penandatanganan persetujuan-persetujuan baru mengenai kerjasama antara kedua negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Persetujuan-persetujuan baru itu berhasil melahirkan sejumlah kesepakatan bilatelar yang bersifat strategis, termasuk kerjasama dalam bidang peningkatan pertahanan Indonesia, modernisasi angkatan udara dan angkatan laut Indonesia. Uni Soviet mulai mengirimkan persenjataan dan peralatan militer ke Indonesia, juga beberapa ribu orang tentara maritim dan angkatan udara Indonesia, dididik dan dilatih di Uni Soviet. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Ivanov memerinci, pada masa kerjasama dengan Pemerintah Soekarno, Uni Soviet telah memasok persenjataan dan teknik militer dengan biaya melebihi satu miliar dollar AS (dengan perhitungan harga masa itu). Angkatan laut mendapat 70 buah kapal tempur dan kapal pendukung, termasuk kapal-kapal penjelalah bernama “Ordzhonikidze” (Indonesia member nama “Irian”), 6 buah kapal torpedo, 4 buah kapal jaga, 12 buah kapal selam, 12 buah kapal motor luncur rudal dan 12 buah kapal motor luncur torpedo, 10 buah kapal penyapu ranjau, pesawat-pesawat tempur MIG-17, MIG-19, MIG-21, dan pesawat-pesawat pendukung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Pasukan marinir mendapat 100 buah tank amfibi, artileri, beberapa devisi rudal sistem pertahanan antirudal, persenjataan tembak, mesiu, dan amunisi untuk dua divisi pasukan militer. Angkatan Udara Indonesia disuplai dengan pesawat torpedo modern (TU-16 KS dan TU-16), pesawat pengebom, dan pesawat intelijen jarak jauh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Berbekal persenjataan militer tersebut, Soekarno mengambil tindakan tegas terhadap Belanda yang masih bercokol di Papua. Pada tanggal 13 Desember 1961, Presiden Soekarno memerintahkan TNI untuk membebaskan Irian Jaya dengan tindakan perang serta menyampaikan amanat kepada bangsa Indonesia agar mengikuti Tiga Komando Rakyat (Trikora). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Saat mengambil keputusan itu, Presiden Soekarno mempunyai keyakinan kuat pada kekuatan tentara Indonesia dan pada dukungan dari para sekutu. Dukungan persenjataan militer dari Uni Soviet membuat TNI lebih kuat. Sedangkan dukungan secara politis, selain datang dari Rusia, juga datang dari Amerika Serikat, di mana Presiden Kennedy di PBB menyatakan guna menghindari perang di Pasifik, maka Belanda harus meninggalkan Papua Barat yang telah diganti nama oleh Bung Karno menjadi Irian (Ikut Republik Indonesia Anti Nederland).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Menurut beberapa pengamat, selain karena dukungan Soviet dan Amerika melalui Kennedy, kehadiran kapal selam Soviet di perairan Irian membuat Belanda menerima ultimatum Indonesia, tapi dengan catatan bahwa pada tahun 1969, warga Irian harus diberi kesempatan referendum untuk menentukan apakah tetap bergabung dengan Indonesia atau memisahkan diri dan membentuk pemerintahan sendiri. Hingga saat ini, Papua masih berlindung dalam payung NKRI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Kiranya, bangsa Indonesia cukup beruntung dan patut bersyukur karena memiliki Negara sahabat seperti Rusia. Kontribusi Rusia terhadap Indonesia sudah cukup jelas dan tegas, baik dalam bidang politik maupun bantuan persenjataan militer. Hubungan Indonesia – Soviet memang sempat memburuk semasa Orde Baru berkuasa, namun tidak sampai memutuskan hubungan bilateral. Tapi setelah Soviet runtuh dan Orde Baru jatuh, hubungan Indonesia – Rusia kembali terjalin baik. Bahkan Rusia telah mengagendakan beberapa rencana untuk menjalin hubungan bilateral yang lebih harmonis dan saling menguntungkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Beberapa rencana yang telah diagendakan Rusia untuk Indonesia antara lain menjajaki kerja sama industri pertahanan dalam bentuk produksi disertai transfer teknologinya. Indonesia bukan hanya disuruh membeli alutsista (alat utama sistem persenjataan) buatan Rusia, tapi sekaligus diajari teknologinya, juga termasuk teknik produksinya. Seperti dituturkan Dubes Rusia untuk Indonesia Alexander Ivanov, Rusia akan menjalin&amp;nbsp; kerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia (pesawat), PT PAL (kapal laut), dan PT Pindad (persenjataan militer). Juga bersedia melatih beberapa perwira Indonesia di negeri beruang kutub itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Dengan PT Pindad, kami sudah merancang nota kesepakatannya, sedangkan dengan PT Dirgantara Indonesia, kami sudah menyelesaikan nota kesepakatannya untuk segera disahkan oleh dua pihak," kata Ivanov seusai menyematkan penghargaan "&lt;i&gt;Medal for Strengthening Combat Fraternity&lt;/i&gt;" dari Pemerintah Rusia kepada Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, di Jakarta, akhir September 2011.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ivanov memerinci beberapa rencana yang akan dijalankan, misalnya menjajaki pembuatan tank dengan PT Pindad dan pemeliharaan menyeluruh sejumlah helikopter Mi-35 dengan PT Dirgantara Indonesia. Sementara dengan PT PAL, telah dilakukan penjajakan untuk pembuatan sejumlah peralatan dan persenjataan maritim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Di tengah kondisi buruknya alutsista Indonesia, apalagi setelah berkiblat ke Amerika namun kemudian Amerika melakukan embargo, maka berkiblat ke arah utara (Rusia) untuk memperbaiki peralatan militer dan memperkuat pertahanan NKRI, merupakan langkah yang tepat. Pemerintah Indonesia jelas harus &lt;i&gt;all out&lt;/i&gt; dalam menyambut tawaran dari Rusia itu, apalagi dengan catatan, bahwa hubungan bilateral Indonesia – Rusia sedari dulu, dijalankan tanpa ikatan politik atau ideologi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kita patut berkiblat ke Rusia karena negara dengan wilayah terbesar di dunia ini, bukan sekadar memiliki wilayah yang besar, tapi pernah menjadi negara adidaya di masa Uni Soviet dulu. Sekarang pun langkah pembangunan industri Rusia memperlihatkan indikasi bahwa mereka akan kembali menjadi negara adidaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sejarah mencatat, bahwa Rusia memiliki sistem pertahanan yang kuat, serta persenjataan militer yang canggih.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Mereka memang pernah dijajah oleh bangsa Mongolia, namun segera dapat membebaskan diri. Rusia pernah diserang oleh Napoleon Bonaparte, namun mereka memenangkan peperangan dan membuat tentara Napoleon pulang membawa kekalahan. Di masa perang dunia dua, salah satu kota penting Rusia, Stalingrad, pernah dikepung selama 900 hari oleh tentara Hitler. Namun mereka bertahan dan berhasil menghalau tentara Hitler. Tak puas sekedar menghalau, tentara Rusia segera mengejar tentara Jerman dan berhasil mengakhiri kediktatoran Hitler. Sejak itu, kawasan Eropa Timur pun menjadi mitra Uni Soviet dan mengukuhkan kebersamaan mereka dalam Fakta Warsawa.&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dalam sejarah, Rusia hanya pernah kalah perang secara memalukan dari Jepang pada era 1904 – 1905 dalam rangka memperebutkan kawasan Mansuria. Namun kekalahan ini tidak menjadikan Kekaisaran Rusia tamat riwayat. Sebagai negara, Rusia tetap berjaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Politik dan persenjataan militer Rusia, pernah menguasai separuh negara dan bangsa di dunia. Bahwa kemudian imperium Uni Soviet runtuh, bukan karena kalah perang militer melawan musuh, namun kalah dalam strategi politik. Uni Soviet kalah licik dalam berpolitik melawan trik Amerika dan sekutunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Berkiblat ke Rusia yang berada di utara itu, tentu kita jangan hanya menjiplak metode dan teknik perindustriannya, tapi juga harus belajar pada kebudayaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Catatlah, betapa orang Rusia sangat menghargai hasil cipta karsa anak bangsanya, dan mendahulukan menghargai hasil cipta seni-budayanya. Patung yang terdekat dari Kremlin (pusat pemerintahan Rusia), adalah patung Alexander Pushkin (penyair), baru kemudian disusul patung Yuri Gagarin (astronot), dan patung terdekat berikutnya adalah patung kepala Lenin. Artinya, sekalipun mereka sangat membanggakan hasil-hasil industri teknologi, namun penghargaan kepada seniman-budayawan, lebih didahulukan. Taman Gorky (untuk mengenang sastrawan Maxim Gorky) yang berada di Moskow, menjadi taman utama dan sangat penting bagi masyarakat Rusia. Grup band Scorpions menggelar konser legendaris di Gorgy Park, yang kemudian dibadikan dalam lagu Wind of Change.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Bila suatu hari Anda berkunjung ke Kota St. Petersburg, Kota terbesar kedua di Rusia, cobalah amati dengan jeli jejak-jejak sejarah dan tanda penghargaan bagi para putra Rusia yang berprestasi. Setiap jengkal tanah di Kota St. Petersburg, seakan menjadi catatan sejarah prestasi bangsa Rusia. Di kota ini, banyak sekali rumah dipasangi plakat, misalnya bertuliskan, “Di rumah ini pernah tinggal seorang penemu turbin.” Bahkan kafe tempat Alexander Puskhin nongkrong dan membunuh waktu, masih terawat dengan baik hingga sekarang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Begitulah kebudayaan bangsa Rusia, gemar menghargai prestasi bangsanya, dan Kota St. Petersburg adalah gudang prasasti bagi insan-insan yang berprestasi.&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dalam persenjataan militer, walaupun sering dicemooh oleh bangsa Amerika melalui ilustrasi &lt;i&gt;game&lt;/i&gt; atau film, namun terbukti AK-47 merupakan senjata paling sukses dan banyak diadopsi oleh berbagai negara. Dalam film-film Hollywood, selalu digambarkan musuh mereka menggunakan senjata AK-47 buatan Rusia, dan tentu musuh-musuh itu akan dikalahkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dalam teknologi persenjataan militer, memang lambang kesuksesan Rusia disimbolkan dengan senapan serbu AK-47 hasil rancangan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mikhail_Kalashnikov" title="Mikhail Kalashnikov"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;Mikhail Kalashnikov&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, di mana AK-47 ternyata diam-diam ada dalam bendera Mozambik, Burkina Faso, dan dalam bendera Hizbullah. Di beberapa negara Afrika, banyak anak yang diberni nama Kalash, yang merupakan kependekan dari Kalashnikov. Apapun yang terjadi, AK-47 buatan Rusia pernah menjadi yang terbaik di dunia, dan pernah digunakan oleh paling banyak tentara. Setidaknya, 10 negara telah membeli lisensi untuk memproduksi AK-47 di negaranya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Rusia sudah mengulurkan tangan. Ada baiknya kita menyambut total uluran tangan itu. Ketika Alexander Ivanov ditanya oleh para wartawan, mengapa Rusia mau menggandeng Indonesia, Ivanov mejawab singkat dan padat, “Because we are friend.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sebagai teman yang pernah sama-sama pula bermusuhan dengan Amerika, tentu ia akan membantu permasalahan alutsista dan pertahanan NKRI yang rentan dari separatisme. Jangan salah bahwa Rusia juga rentan dari separatisme dan gangguan teroris. “Kita akan bekerjasama pula dalam memerangi separatisme dan terorisme,” kata Alexander Ivanov.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-8985681484983804623?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/8985681484983804623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/jasmerah-berkiblat-ke-utara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/8985681484983804623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/8985681484983804623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/jasmerah-berkiblat-ke-utara.html' title='Jasmerah: Berkiblat Ke Utara'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-130204596432564691</id><published>2011-10-05T05:21:00.000-07:00</published><updated>2011-10-05T05:37:00.081-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Poliseni'/><title type='text'>Class Action untuk Operator Konten Pencuri Pulsa Rp140 Milyar Per Bulan</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Operator konten pencuri pulsa yang suka menegirimkan sms jebakan (tipuan) dengan 4 digit yang sudah sangat meresahkan masyarakat itu, layak diajukan ke pengadilan melalui “class action”. Sudah pula banyak bloger menulis soal penguras pulsa ini, termasuk saya juga pernah menulis di sebuah blog dan di situseni.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukur bahwa kementerian Komunikasi dan Informasi sekarang bertindak. Menkominfo Tifatul sembiring seperti dikutip para wartawan menyatakan akan mengusut para operator konten yang suka mencuri pulsa itu. Bila terbukti mereka benar-benar melakukan penipuan, maka pemerintah akan mengajukannya ke polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau seseorang merasa tidak mendaftar tapi tiba-tiba dia terima SMS kiriman&amp;nbsp; yang tidak pernah dikehendakinya, maka ini sudah pemerasan, penipuan. Kalau mau menjadi pelanggan, kan mestinya mendaftar, tapi ini masyarakat tidak pernah merasa mendaftar,” kata Tifatul Sembiring kepada wartawan, pada 5 Oktober di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tv One dan MetroTV memberikan soal ini, juga media yang lain. Bagsulah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), menyatakan dalam sebulan pencuri pulsa itu bisa menguras sampai Rp 140 milyar per bulan. Gila, besar sekali. YLKI sedang mengumpulkan pengaduan masyarakat untuk mengajukan konten penuri pulsa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) juga sedang mengumpulkan pengaduan dari masyarakat. Saat ini, setidaknya sudah ada 400-an pengaduan masyarakat. Bahan pengaduan ini akan dikumpulkan bersama YLKI, dan untuk selanjutnya diajukan ke polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat saya, perlu diadakan class action karena ini sudah merugikan masyarakat secara luas. Bila terbukti bersalah, mereka harus ditindak, dan uang yang telah mereka curi harus diambil kembali dan diserahkan kepada masyarakat melalui negara. Selanjutnya, perusahaan yang mendirikan operator &lt;br /&gt;konten pencuri pulsa itu, dan perusahaan operator seluler yang mendukung, baik secara langsung maupun tidak langsung, harus dikenai hukuman, paling rendah membayar denda, dan paling berat disita asetnya, dan perusahaannya diambil alih oleh negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya class action harus digencarkan, karena penipuan kini merebak di mana-mana. Class Action bisa dikembangkan ke depannya, mengadukan pemerintah yang mbalelo. Masyarakat harus berani, jangan terus-terusan dijajah oleh pengusaha dan penguasa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-130204596432564691?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/130204596432564691/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/class-action-untuk-operator-konten.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/130204596432564691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/130204596432564691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/class-action-untuk-operator-konten.html' title='Class Action untuk Operator Konten Pencuri Pulsa Rp140 Milyar Per Bulan'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-1727994100141406765</id><published>2011-10-02T03:18:00.000-07:00</published><updated>2011-10-02T03:18:41.365-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='umum'/><title type='text'>Seputar "Lomba Kritik Seni 2011"</title><content type='html'>Teks Doddi Ahmad Fauji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2011, Direktorat Kesenian (sekarang namanya Direktorat Seni Pertunjukan), yang berada dalam gerbong Direktorat Jenderal (Ditjen) Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, menyelenggarakan Lomba Kritik Seni 2011. Pada pelaksanan lomba, Direktorat Seni Pertunjukan meminta bantuaan situseni.com untuk menyiarkan hal-hal yang berkait dengan lomba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Event ini mulai diumumkan kepada publik sejak pertengahan Juli 2011, dan publik yang ingin ikut serta dalam lomba, bisa mengirimkan karya kritik seni melalui email lks2011@situseni.com dan di cc ke situseni@ymail.com. Penutupan pengiriman karya ditetapkan tanggal 17 Agustus 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Animo masyarakat pecinta seni dan penulis ternyata cukup bagus. Sejak diumumkan melalui poster dan media internet, hingga masa penutupan pengimiman karya, telah masuk 233 tulisan kritik yang dikirim oleh sekira 150-an penulis, di mana seorang penulis ada yang mengirimkan tulisan hingga 5 tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia menunjuk Dr. Seno Gumira Ajidarma (sastrawan cum dosen IKJ), Seno Joko Suyono (Redaktur rubrik budaya Majalah Tempo), dan Yusuf Susilo Hartono (Pemred Majalah Visual Arts) menjadi juri untuk menyeleksi lima naskah terbaik, di mana masing-masing naskah yang menang akan dihadiahi Rp10.000.000 (sepuluh juta rupiah) di mana pajak ditanggung pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan  Juri yang ditunjuk panitia melakukan tafsir atas kriteria LKS 2011 yang telah ditentukan  panitia sebelumnya, dan membahasakan kriteria tersebut menjadi "pembacaan atas  ketajaman analisis, daya penjelasan, dan keunikan gaya dalam kematangan  tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan penilaian dan melakukan rapat penjurian pada 26 September 2011, Dewan Juri memilih dan memutuskan 4 naskah yang layak dinilai menang. Bila memaksakan lima naskah, menurut para juri, akan terlihat jomblang kualitasnya untuk satu naskah yang dipaksakan memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah yang dinyatakan menang adalah:&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt;"&gt;1. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Karya Tari dan Karawitan Tumadhah, Refleksi Pengembaraan Spiritual, oleh Wahyu Santosa &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Prabowo.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;2. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Membongkar Surabaya sebagai Kota Lendiri, oleh Mashuri.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt;"&gt;3. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Puisi, Sejarah, Santet, Sebentuk 'Surat Kreatif Kepada Fatah Yasin Noor, Penulis Kumpulan Puisi Rajegwesi’, oleh Mashuri.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt;"&gt;4. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Benda-benda,  Bahasa, dan Kala, Mencari Simetri Tersembunyi dalam Teman-temanku dari  Atap Bahasa Karya Afrizal Malna, oleh Tia Setiadi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Rencana semula, LKS  akan memilih lima tulisan pemenang. Namun Dewan Juri memilih dan  menetapkan empat terbaik dengan argumentasi untuk mempertahankan  kualitas karya tulis para pemenang. “Kami hanya bisa menetapkan empat  tulisan ini dengan kualitas yang nyaris sebanding. Kami berharap keempat  tulisan hasil lomba ini kelak dapat menjadi bahan perbandingan untuk  melahirkan karya kritik seni yang ideal. Bila lomba kritik seni ini  kembali diselenggarakan oleh Direktorat Kesenian, kami berharap,  kualitas karya kritik yang nanti memang, minimalnya memiliki kualitas  seperti naskah-naskah yang menang dalam LKS 2011 ini,” kata Ketua Dewan  Juri Seno Gumira&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Ajidarma.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dewan Juri  mengeluarkan beberapa catatan seputar LKS 2011. Menurut Dewan Juri,  sesungguhnya banyak ide atau gagasan yang menarik dalam LKS 2011, yang  muncul dari berbagai daerah di Tanah Air, namun selama ini tidak  terpantau oleh “Jakarta”. Dewan Juri juga melihat beberapa kelemahan  fundamental pada beberapa naskah yang masuk, misalnya kurang matang  dalam pengolahan kritik, lemah daya deskripsi, teori (asing) yang  dicomot kurang dikunyah sampai lumat sehingga pengaplikasiannya dalam  menganalisis objek seni, tidak terasa tajam atau malah teori itu dikutip  hanya untuk bergagah-gagahan tanpa ada kaitan dengan objek seni yang  dikritik.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Selain itu, Dewan Juri  menemukan fakta bahwa banyak sekali naskah yang masuk yang kurang tepat  untuk ukuran kritik seni, misalnya naskah yang dikirimkan itu merupakan  tulisan hasil riset ilmiah untuk kepentingan akademik, bahan pengajaran  di sekolah atau perguruan tinggi, hingga naskah kuratorial pameran seni  rupa. Naskah kuratorial pameran seni rupa umumnya lebih bersifat  promotif ketimbang sebagai karya kritik seni. Dewan juri juga menemukan,  naskah-naskah yang masuk merupakan karya kritik jurnalistik, malah  beberapa naskah yang masuk itu di antaranya pernah dipublikasikan di  media massa cetak. Bukan berarti kritik seni gaya jurnalistik itu tidak  baik dan tidak berkualitas, namun dalam lomba kali ini, naskah para  pemenang lomba jauh lebih berkualitas, lebih argumentatif, dan lebih  deskriptif dalam menjelaskan objek seni yang dikritik.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Direktur Seni  Pertunjukan (saat LKS 2011 ini digagas, nama jabtannya masih Direktur  Kesenian), Sulistyo Tirtokusumo selaku penanggungjawab LKS 2011 berharap  lomba ini akan dapat merangsang iklim kritik seni di Tanah Air yang  belakangan ini mengalami kelesuan. “Sebab kritik seni sangat diperlukan  untuk kemajuan kesenian di Tanah Air,” kata Sulistyo.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Karena itu, tahun  depan, Direktorat Seni Pertunjukan, Ditjen NBSF, Kementerian Budpar  berencana menggelar kembali lomba kritik seni.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;b&gt;Ide dan Rencana Awal Lomba Kritik Seni&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Ide awal penyelenggaraan lomba kritik seni ini berasal dari situseni.com yang mengajukan proposal ke Direktoirat Kesenian, NBSF, Budpar. Lomba kritik seni yang diusulkan dalam proposal adalah untuk mengeritik karya seni lukis yang mewakili beberapa kecenderungan. Proposal ini diusulkan sekira bulan Juli tahun 2010. Setelah membaca proposal, Direktur Kesenian Sulistyo Tirtokusumo menyetujui diselenggarakannya lomba kritik seni ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diadakan perdiskusian dengan para Kepala Subdirektorat di lingkungan Direktorat Kesenian, terjadi perluasan objek kritik seni, tidak lagi hanya mengeritik karya seni lukis, tapi seluruh aliran kesenian bisa dipilih menjadi objek kritik dengan catatan karya yang dikiritik merupakan gubahan seniman Indonesia dalam lima tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula, personel situseni.com berpikir akan ditunjuk menjadi pelaksana kegiatan secara penuh. Namun dalam pelaksanaannya, kegiatan ini diselenggarakan secara swakelola oleh Direktorat Kesenian, dan situseni.com sebagai penggagas lomba, hanya ditunjuk menjadi media partner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karena tujuan yang dicanangkan oleh situseni.com dalam proposal yang diajukan ke Direktorat Kesenian adalah terwujudnya lomba kritik seni guna ikut memacu dan memicu kegiatan "kritik seni" maka meski hanya ditunjuk sebagai media partner, tidak membuat personel situseni.com mundur dari kegiatan tersebut, sebab yang paling fundamental adalkah terlaksananya lomba kritik seni tersebut, siapapun penyelenggaranya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6085450534307611177-1727994100141406765?l=gugahjanari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gugahjanari.blogspot.com/feeds/1727994100141406765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/seputar-lomba-kritik-seni-2011.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/1727994100141406765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6085450534307611177/posts/default/1727994100141406765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gugahjanari.blogspot.com/2011/10/seputar-lomba-kritik-seni-2011.html' title='Seputar &quot;Lomba Kritik Seni 2011&quot;'/><author><name>doddi Ahmad Fauji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14354044076342969984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-8rAMGTY-5GE/Tn1-nsUFQAI/AAAAAAAAA-Q/anxYn-j9rw8/s220/d.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6085450534307611177.post-2886706330103124086</id><published>2011-10-02T02:01:00.001-07:00</published><updated>2011-10-02T02:01:30.354-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artefak'/><title type='text'>Senandung Musik Nandong</title><content type='html'>Teks Doddi Ahmad Fauji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nandong adalah seni pertunjukan berbasis musik dan nyanyian. Instrumen yang digunakan untuk menghasilkan musik adalah biola, kendang, dan rebana. Sedangkan nyanyian yang disenandungkan, bisa disamakan dengan senandung tembang di masyarakat Jawa atau Sunda. Lirik yang mendasari tembang dalam nandong diambil dari cerita-cerita masyarakat, atau petuah-petuah leluhur bagi generasi muda. Nandong dimainkan oleh grup, di mana satu grup nandong umumnya terdiri dari empat orang. Satu orang menggesek biola, satu orang menabuh kendang, satu orang menabuh rebana (rapa'i dalam bahasa Aceh), dan satu orang menjadi vokalis yang menyenandungkan syair-syair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, masyarakat yang merasa paling memilik seni nandong adalah masyarakat Simeulue yang menghuni Pulau Simeulue, yang secara administratif masuk ke dalam pemerintahan Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh. Masyarakat Simeulue mengklaim, nandong adalah seni tradisi Pulau Simeulue. Padahal, sebagian masyarakat di Riau dan Sumatra Barat juga mengenal seni nandong. Tapi bisa jadi ragam dan varian nandong di Simeulue dengan di Riau atau Sumatra Barat, memang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa paling memiliki karena memang di Simeulue, masih cukup banyak masyarakat yang meminatinya. Terutama setelah musibah tsunami menghantam Aceh dan sekitarnya, termasuk Pulau Simeulue, pada 26 Desember 2004 silam, seni Nandong yang mulai ditinggalkan anak-anak muda Simeulue, kembali naik daun. Hal itu terjadi karena ternyata ada kaitan antara seni nandong dengan musibah tsunami. Pada salah satu syair nandong yang sering disenandungkan oleh masyarakat Simeulue, terdapat peringatan musibah tsunami yang pernah menghantam Pulau Simeulue pada tahun&amp;nbsp; 1833 dan 1907.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu syair yang mengabadikan musibah tsunami itu berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Smong rume-rumemo/ &lt;br /&gt;Linon uwak-uwakmo/ &lt;br /&gt;Elaik keudang-keudangmo/ &lt;br /&gt;Kilek suluhsuluhmo/ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;Tsunami air mandimu/ &lt;br /&gt;Gempa ayunanmu/ &lt;br /&gt;Petir kendang-kendangmu/ &lt;br /&gt;Halilintar lampu-lampumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syair-syair dalam nandong umumnya memang mengandung "local genuin" atau kearifan lokal. Misalnya, nasihat orang tua kepada anaknya yang baru disunat, nasihat kepada generasi muda yang akan melangsungkan pernikahan, dan lain-lain. Bisa jadi nasihat orang tua yang disampaikan dalam nandong itu sudah kurang berkenan bagi generasi muda di Pulau Simeulue, karena itu nandong mulai ditinggalkan generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saat tsunami menghantam pada 2004 silam itu, masyarakat Simeulue diingatkan kembali pada syair nandong yang berisi tentang smong (tsunami dalam bahasa Simeulue). Nandong kemudian menjadi kontekstual kembali, dan memiliki nilai yang sejajar dengan sandang atau pangan. Masyarakat Simeulue merasa, Nandong adalah warisan tak ternilai yang harus dipelihara. Maka pada bulan September 2006, bertempat di lapangan Sinabang, persis di depan Kantor Bupati Simeulue, festival nandong digelar untuk memperingati musibah tsunami 2004. Saya melihat pada festival itu, para pesertanya memang berasal dari generasi tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya diajak oleh Yoppi Andri, seniman kelahiran 1971 asli Simeulue, untuk berkunjung dan menyaksikan festival Nandong itu. Saya mengenal Yoppi karena dipertemukan oleh musibah tsunami 2004 itu. Saat musibah terjadi, saya dan beberapa teman wartawan kebudayaan seperti Fikar A. Weda, Sihar Ramses Simatupang, Benny benke, Tarsih Eka Putra, dll, menyelnggarakan acara untuk menggalang dana dan bantuan khusus bagi seniman dan budayawan Aceh. Kami membentuk organisasi Koordinatoriat Bangkit Aceh (KBA) yang berkantor di Galeri Nasional Indonesia. KBA diserahkan dan diteruskan oleh seniman-seniman Aceh seperti Kostaman, Fauzan Santa, dan termasuk Yoppi Andri. Namun KBA itu nasibnya terbengkelai. Tidak mudah memang mendirikan sebuah organisasi yang konsisten, apalagi personelnya baru saling kenal. Namun perkenalan saya dengan Yoppi terus berlanjut dan menjadi pertemanan hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006, Yoppi Andri mengontak saya dan mengajak kerjasama untuk membuat suatu even yang berguna bagi masyarakat Simeulue. Yoppi menginginkan diselenggarakannya festival Nandong di Simeulue. Maka kami segera bekerja, menyusun rencana dan dituangkan dalam proposal yang akan diajukan ke Badan Rehabilitasi Rekonstruksi Aceh dan Nias (BRR) yang dibentuk oleh Pemerintah SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ingin menggelar festival nandong, Yoppi juga menginginkan pembuatan album musik nandong. Maka kami susun rencana pembuatan album nandong dan festival nandong dalam proposal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela bekerja, tiba-tiba musibah gempa bumi menimpa Yogyakarta. Isterinya Yoppi adalah orang Yogya, dan keluarganya di Yogya termasuk yang terkena musibah bencana itu. Yoppi dan isterinya segera pulang ke Yogya untuk menengok keluarga isterinya Tuti (isteri Yoppi). Ya ampun, rumah mereka hancur, dan harus mengungsi di tenda darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menawarkan kepada Yoppi dan isterinya untuk tinggal di kontrakan saya, di kawasan Beji, Depok. Maka di rumah kontrakan yang tidak begitu luas itu rencana membuat festival nandong dan album nandong diteruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam yang sunyi, sering Yoppi menggesek biola, terdengar begitu menyayat-nyayat, seperti nasibnya yang begitu getir. Di Simeulue, rumah orang tuanya hancur akibat gempa dan tsunami 2004 yang kemudian diterjang lagi gempa pada 2005. Di Yogya, rumah mertuanya Yoppi yang hancur. Saya yang sedang jobless karena berhenti bekerja dari Media Indonesia, merasa terhibur dengan kehadiran Yoppi dan anak isterinya (Tuti dan Ame). Ketika saya tidak punya penghasilan teta
