SOICHIRO Honda, penemu konsep motor ramping bermerk Honda --yang kini berjibun di jalan-jalan ibukota, kepada para pewarisnya berwasiat: Janganlah engkau sekalian pernah berhenti bermimpi, dan rasakanlah kedahsyatannya!
Pada saat yang sezaman, dari tempat yang berbeda, Bung Karno berujar: Gantungkan cita-citamu setinggi langit!
Dalam istilah yang berbeda namun substansinya sama, maknawiyah mimpi yang diujar oleh Honda, berkonstanta dengan cita-cita versi Bung Karno. Kedua kosa itu memeram nilai serupa, yaitu HARAPAN!
Kata harapan tidak seluruhnya sejalan dengan diksi ekspektasi, namun terdapat kehampiran tujuan. Orang Prusia menyebut dua vokab tadi dengan das sollen.
Oleh para esais, acapkali kata das sollen disampirkan dengan kata das sein (realita), untuk menjelas-tegaskan bahwa di muka bumi ini, dalam darama kehidupan yang datang tanpa pernah kita minta ini, seringlah cakrawala harapan enggan bertegak lurus dengan bumi realita. Dalam bahasa yang lain, sedikit ganjen memang, teman saya Im'an Syukri, mengistilahkan kesenjangan antara das sollen dengan das sein ini dengan dilema ekspektasi: Kita menginginkan sesuatu bakal begini, namun yang terjadi ternyata begitu.
Tetapi orang yang masih memiliki harapan, sekalipun tergelicir dan tergelincir saat mengusungnya, masihlah lebih baik dari mereka yang sudah pupus harap. Dan seburuk-buruknya manusia ialah yang zonder harap. Atau, mereka yang secara sengaja membunuh setiap harap yang menjemputnya. Setidaknya, hal ini diyakini dengan benar oleh Mas Willy (Wahyu Sulaiman Rendra).
Siapakah Rendra? Siapapun dia, dan apapun kata-mu tentang pemimpin Bengkel Teater ini, dia telah memberi inspirasi kepada saya melalui frase yang ditulisnya: Hadir dan mengalir!
Pada saat yang sezaman, dari tempat yang berbeda, Bung Karno berujar: Gantungkan cita-citamu setinggi langit!
Dalam istilah yang berbeda namun substansinya sama, maknawiyah mimpi yang diujar oleh Honda, berkonstanta dengan cita-cita versi Bung Karno. Kedua kosa itu memeram nilai serupa, yaitu HARAPAN!
Kata harapan tidak seluruhnya sejalan dengan diksi ekspektasi, namun terdapat kehampiran tujuan. Orang Prusia menyebut dua vokab tadi dengan das sollen.
Oleh para esais, acapkali kata das sollen disampirkan dengan kata das sein (realita), untuk menjelas-tegaskan bahwa di muka bumi ini, dalam darama kehidupan yang datang tanpa pernah kita minta ini, seringlah cakrawala harapan enggan bertegak lurus dengan bumi realita. Dalam bahasa yang lain, sedikit ganjen memang, teman saya Im'an Syukri, mengistilahkan kesenjangan antara das sollen dengan das sein ini dengan dilema ekspektasi: Kita menginginkan sesuatu bakal begini, namun yang terjadi ternyata begitu.
Tetapi orang yang masih memiliki harapan, sekalipun tergelicir dan tergelincir saat mengusungnya, masihlah lebih baik dari mereka yang sudah pupus harap. Dan seburuk-buruknya manusia ialah yang zonder harap. Atau, mereka yang secara sengaja membunuh setiap harap yang menjemputnya. Setidaknya, hal ini diyakini dengan benar oleh Mas Willy (Wahyu Sulaiman Rendra).
Siapakah Rendra? Siapapun dia, dan apapun kata-mu tentang pemimpin Bengkel Teater ini, dia telah memberi inspirasi kepada saya melalui frase yang ditulisnya: Hadir dan mengalir!
No comments:
Post a Comment