Lupa bahasa Meraukenya, namun pesan itu tertulis di bandara, juga lupa nama bandaranya, namun pesan itu seperti terpahat di hatiku: Satu Hati Satu Tujuan!
Dan berdirilah lelaki itu, di siang yang terik, pada mimbar itu, lalu menuturkan pengakuan yang mengusik rasa kemanusiaanku: Lihatlah wajah kami, mirip patung yang belum rampung diukir. Wajah kami gelap seperti nasib Afrika. Tapi kami masih memiliki senyuman untuk menyapa anak-anak Nusantara yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Biarlah kami tidak dikunjungi Presiden, tetapi kami akan tetap menjaga tugu paling timur dari Nusantara Raya, di mana matahari terbit dua jam lebih awal dari Jakarta. Kami hidup lebih awal dari orang Sabang, namun mengapa dalam lagu ditulisnya dari Sabang sampai Merauke, tidak dari Merauke hingga Sabang?
Dan berdirilah lelaki itu, di siang yang terik, pada mimbar itu, lalu menuturkan pengakuan yang mengusik rasa kemanusiaanku: Lihatlah wajah kami, mirip patung yang belum rampung diukir. Wajah kami gelap seperti nasib Afrika. Tapi kami masih memiliki senyuman untuk menyapa anak-anak Nusantara yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Biarlah kami tidak dikunjungi Presiden, tetapi kami akan tetap menjaga tugu paling timur dari Nusantara Raya, di mana matahari terbit dua jam lebih awal dari Jakarta. Kami hidup lebih awal dari orang Sabang, namun mengapa dalam lagu ditulisnya dari Sabang sampai Merauke, tidak dari Merauke hingga Sabang?
Lelaki itu Johannes Gluba Gebze namanya, Bupati Merauke yang biasa disapa Pak Jhon, yang mengaku wajahnya mirip patung yg belum rampung diukir. Adakah engkau memiliki imajinasi, seperti apakah wajah manusia yang mirip pantung belum rampung diukir?
Saya terharu mendengar pidato Beliau saat menyambut rombongan pejabat dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di Merauke, pada bulan puasa 2004 lalu. Dan ia bertutur tentang ubur-ubur berikut tabiatnya, juga mengenai semut hitam yang bisa mendirikan sarang hingga 11 meter. Ada juga kanguru, buaya, dan matahari yang terbit di laut Arafuru, yang nampak merah menyala, lebih cerlang dari matahari yang pernah kulihat di daerah manapun.
Kami pun diajak ke tugu perbatasan Nusantara - Papua Nugini, yaitu titik 5.200 KM, titik paling Timur dari Nusantara Raya. Seorang pejabat di Dinas Pariwisata Merauke tiba-tiba bertanya, Bapak pernah ke Titik 0 Kilometer di Sabang? Ya saya pernah, jawab saya. Berarti Bapak telah sempurna menjadi orang Indoenesia, sebab telah berziarah dari ujung paling Barat ke ujung paling Timur. Saya baru bisa bermimpi ingin ke Titik Nol Kilo Meter.
Ada rasa bangga, walau sebenarnya hanya kebetulan saja saya bisa mengunjungi dua tugu itu, sebab waktu itu memang saya sedang dimanjakan oleh Depbudpar untuk berkunjung ke beberapa tempat di Tanah Air, maklum wartawan! Tapi anehnya, saya belum merasa sempurna sebagai anak Nusantara. Saya kira, pidato Pak John itulah yang mengusik perasaan saya: Betapa kota Merauke yang bersih itu, dipimpin oleh seorang Bupati yang pidatonya yang menurut saya begitu inspiratif, sebagaimana juga dipahat di Bandara kota Merauke itu: Satu Hati Satu Tujuan!
Kemudian saya menulis puisi dengan meminjam diksi di atas, dialamatkan kepada teman saya di Aceh, Fozan Santa namanya: Satu hati satu tujuan hanyalah utopia, satu negara satu keadilan adalah propaganda! Yang terang ialah, pukul garuk tumpas kelor!
Kemudian saya menulis puisi dengan meminjam diksi di atas, dialamatkan kepada teman saya di Aceh, Fozan Santa namanya: Satu hati satu tujuan hanyalah utopia, satu negara satu keadilan adalah propaganda! Yang terang ialah, pukul garuk tumpas kelor!
Nusantara, tentu saja semua orang ingin memutari Nusantara yang luas ini. Tetapi bagi kebanyakan orang Papua, ingin bisa ke Jakarta adalah impian, sebagaimana ibuku memimpikan zirah ke Tanah Suci.
Walau bagaimanapun, Nusantara, dengan meminjam kata-kata Ibrahim Sattah, ingin kuucapkan kepada-mu: inilah terimakasihku nusantara, kuucapkan dari hati yang paling kanan, sebelum selamat tidur, sebelum tiba-tiba aku malu mengenangmu!
(Titik 5.200 KM, Merauke 2004).
anggap saja saya teman baru..:)
ReplyDelete*nuhun
sudah saya duga. apa kabar kang doddy?
ReplyDelete