Monday, April 2, 2007

K E M A R A U

KEMARAU kembali tiba, kekasih. Debu jalanan semakin menyatroni kita, bukan hanya di setiap tikungan. Terik surya bagai amarah Penguasa yang lalim, menyengat dan membakar. Haruskah aku membelikanmu Sunblock dan Pond’s supaya kulitmu tetap terpelihara dan secerlang pualam?

Kalau bukan dengan mencumbumu, kemarau ini akan berlalu seperti buih. Maka sambutlah aku yang mendekat ke arahmu. Aku yang sedang berharap pada semua kekuranganmu, dan terutama pada setiap jengkal kelebihanmu. Aku tidak berlebih dalam menilai perangaimu. Yakinlah, bahwa kamu adalah anggrek dari jenis lain yang belum pernah kutemui sekalipun dalam dongengan.


Kemarau telah mempertegas dirinya kekasih. Sesekali hujan masihlah mampir, tetapi bukankah kamu selalu merindukan hujan, selain bau laut dan harum pegunungan? Ternyata, kamu tidak perlu berlatih memperhalus suara, sebab pada riuh gemuruh suaramu pergolakan ini terasa semakin menggairahkan. Aku juga akan menulikan diri pada setiap ocehan orang tentang kamu. Dan, percakapan di antara kita, seringkali mencapai kesepahaman. Sesekali haruslah kita beda pendapat, tapi tidak musti berujung pada perdebatan tanpa ujung.

Kali ini aku percaya pada rasa dan naluri. Tidak perlu aku mengejarmu, sebab di antara kita sedang saling mendekat. Apakah kamu juga menyadari bahwa langkahmu seperti dibimbing Tuhan, perlahan namun pasti, akan berhasil menggapaiku?

No comments:

Post a Comment