Thursday, April 21, 2011

Butet Kartaredjasa Jadi Pengacara Kondang


photo: www.indonesiakreatif.net
Butet Kartaredjasa kembali bermonolog dengan lakon Sarimin. Ia semakin kukuh sebagai aktor sampakan.

Doddi Ahmad Fauji

Jika ingin pandai bicara, jadilah pengacara. Pernyataan di atas, tersirat dalam naskah monolog karya Agus Noor berjuluk Sarimin. Lakon ini, dipanggungkan oleh Butet Kartaredjasa di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, pada 14 – 18 November ini. Pertunjukan ini, bagian dari perhelatan Art Summit Indonesia ke-5. Dengan gaya sampakan (bermain-main) sebagai mana biasa Butet akting, lakon ini memang tarasa hidup. Panggung benar-benar menjadi tempat belangsungnya sandiwara kehidupan.
Syahdan menurut sohibul hikayat, pengacara adalah mereka yang pandai bersilat lidah. Kata dipermainkan, sehingga fakta menjadi jungkir balik. Kebenaran dan kesalahan yang berseberangan, bisa bertukar tempat. Dalam puisi yang ditulis Acep Zamzam Noor, juga diungkapkan, jika ingin pandai berbicara, jadilah pengacara.
Secara benderang dituturkan, ulah salah seorang pengacara kondang. “Aku ini hanya membela orang salah. Jadi kau harus mengaku salah,” kata pengacara yang mengaku bernama Binsar itu kepada tersangka Sarimin.
Sarimin hanyalah tukang doger monyet (topeng monyet) yang keliling kampung mencari sesuap nasi. Namun suatu hari, ia harus berhadapan dengan hukum. Ia tidak mengerti hukum apalagi menghapal pasal-pasalnya. Yang ia tahu, berbuat kebaikan sudah sesuai dengan tuntutan hukum. Namun, berbuat kebaikan di negeri ini malah berbuah petaka.
Photo: www.indonesiakreatif.net
Alkisah, suatu hari ketika keliling kampung bersama monyetnya, Sarimin menemukan KTP di Taman Lawang. Sayang ia tidak bisa membaca, jadi ia tidak tahu milik siapa KTP itu. Pergilah ia ke kantor polisi untuk melaporkan penemuannya. Namun polisi di bagian Yanmas (Pelayanan Masyarakat), enggan menerima laporan Sarimin. Polisi itu pura-pura sibuk mengetik ketika Sarimin menghadap. Ketika sarimin menunggu di kursi tunggu, polisi itu malah tidur. Bagitu sarimin menghadap kembali, lagi-lagi ia pura-pura sibuk mengetik. Kejadian ini terus berulang. Sarimin disuruh menunggu hingga tertidur lebih dari 1.163 hari.
Di hari yang nahas, datanglah polisi yang lain, dan mendapati Sarimin sedang tertidur. Polisi membangunkan Sarimin, dan bertanya mengapa sampai tertidur di kantor polisi. Sarimin menyatakan hendak melaporkan penemuan KTP. Polisi memeriksa KTP itu. Ia terkejut, karena ternyata itu adalah KTP milik Hakim Agung.
Polisi menanyakan kepada Sarimin mengapa tidak segera melapor, sebab itu adalah KTP milik orang penting. Sarimin mengatakan faktanya. Tapi polisi balik menuding, jangan-jangan Sarimin telah mencuri KTP itu, sebab tidak masuk akal menemukan KTP Hakim Agung di Taman Lawang. “Apa kau kira Hakim Agung itu seperti mahasiswa, yang karena tidak kuat bayar lalu menaruh dulu KTP?” bentak polisi.
Intinya, Polisi mengakali supaya Sarimin dinyatakan bersalah. “Bolehlah aku membuat laporan yang bisa menyelamatkanmu, kau akan bebas dari semua dakwaan, tapi kau harus mengerti,” kata polisi itu.
Sarimin tentu tidak punya uang lima juta. Harga diturunkan polisi hingga tiga juta, dua juta, satu juta, 500 ribu. “Ya sudah, 100 ribu saja, untuk pengganti uang rokok,” kata polisi itu.
Sarimin tak punya uang sekalipun hanya 100 ribu. Padahal, pada usia 57 tahun ini, sudah 40 tahun ia bekerja sebagai tukang hibur monyet keliling. Kalau saja ia seorang pelukis, sudah layak mengadakan pameran restrospektif 40 tahun berkarya.
Sarimin ditahan. Datanglah pengacara tenar bernama Binsar untuk membelanya. Obrolan antara Binsar dan Sarimin sungguh mengejutkan. Sarimin tetap mengaku tidak bersalah. Ia sebenarnya ingin berbuat baik. Tapi malah balik dituding.
“Bagaimana aku bisa membelamu kalau kau merasa benar. Aku ini pengacara, tugasnya adalah membela orang yang salah, bukan membela orang yang benar. Dan di situlah keahlianku sebenarnya. Orang yang salah, bisa kupermainkan hingga jadi bebas dari penjara,” kata pengacara.
Tapi mengapa pengacara kondang mau membela Sarimin yang tidak punya uang?
Karena Sarimin bisa menjadi simbol dari perjuangan bila ia bersedia mati dengan cara tragis. “Seseorang dinyatakan pejuang diukur juga dari kadar kematiannya. Semakin dramatis ia mati, semakin hebat perjuangannya. Tinggal kau pilih, kau mau dibunuh dengan cara apa? Mau diracun arsenik atau dihajar hingga babak belur? Aparat bisa melakukannya. Nah, nanti aku akan membelamu, memperkarakan kematianmu, sehingga kau menjadi simbol perjuangan. Dengan begitu, aku pun akan disebut pembela pejuang. Namaku berhak disejajarkan dengan nama-nama para pejuang. Akupun memiliki kesempatan untuk memperoleh Yap Tian Hien Award.”
Kali ini, Butet membawakan karakter yang lebih beragam. Untuk kali pertama, Butet memerankan orang Batak dengan logat Batak. Ternyata penampilan Butet cukup meyakinkan sebagai seorang pengacara. Ilustrasi musik yang digarap Jaduk Ferianto, menambah hidup pertunjukan Butet.
Photo: kompas.com
Monolog kali ini berusaha menghadirkan adegan yang lebih teatrikal, yaitu kelengkapan seting panggung, dan interaksi antar-tokoh meski sang tokoh dihadirkan dalam bentuk boneka wayang. Monolog jadi tidak tunggal nada.
Bagian paling menarik dari akting Butet adalah ketika memarodikan polisi dengan tokoh Dursasana dalam pewayangan. Akting Butet pada adegan ini nampak megah. Keculasan polisi ketika berhadapan dengan orang lemah, terasa benar adanya.
Ada adagium di tengah masyarakat tentang kelakuan polisi ini. Bila hilang ayam, lalu melapor ke polisi, maka bersiaplah hilang kambing. “Tidak akan kau temukan keadilan di kantor polisi,” begitu pesan dalam film Good Father yang disutradarai Francis Copola.
Butet adalah aktor Teater Gandrik yang dikenal dengan akting sampakan, yang bermain seolah-olah memerankan seorang tokoh ini. Ini adalah akting gaya Bertolt Brecht. Ajaran Brecht memungkinkan seorang aktor melakukan improvisasi seluas-luasnya, dan ajaran ini sangat tepat diterapkan oleh Butet pada lakon Sarimin. Juga pada dasarnya, Butet ini adalah seorang humoris yang memiliki jiwa untuk melawak.
Dia seoerang komedian yang mungkin akan “tersiksa” jika harus bermain dengan akting inner action seperti yang dititahkan oleh Stanislavsky dalam teater realis. Hal itu terlihat ketika ia bermain dalam lakon Kunjungan Cinta yang dipentaskan Teater Koma beberapa waktu yang lalu. Butet tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan humor-humornya, padahal pertunjukan Kunjungan Cinta diarahkan oleh N Riantiarno untuk tidak melakukan improvisasi.

1 comment:

tulisan yang nyambung