Tuesday, July 5, 2011

Oei Hong Djien: Insting Mengoleksi

TEKS DODDI AHMAD FAUJI | FOTO DARMA ISMAYANTO

Dengan mendirikan museum seni rupa, nama Oei Hong Djien makin kukuh sebagai kolektor sejati.

SALAH seorang kolektor terkemuka di Indonesia adalah Oei Hong Djien (OHD). Grader tembakau asal Magelang itu, disebut sebagai kolektor terkemuka, karena reputasinya. Ia mendirikan museum seni rupa untuk memajang koleksi-koleksinya. Museum ini, ikut mengukuhkan reputasinya sebagai kolektor super-serius.

Mengapa Mr. OHD ini jadi kolektor karya seni rupa? Seusai membuka Jakarta Art District (JAD), di kawasan pusat perbelanjaan Grand Indonesia, pada pertengahan Februari lalu, OHD menuturkan mengapa ia bisa menjadi kolektor karya seni. Lahir bulan April 1939 di Magelang, OHD sudah akrab dengan karya seni, khusnya lukisan old master karya seniman Belanda yang tinggal di Indonesia. Waktu SD di Magelang, SMP dan SMA di Semarang, Jakarta, dan Bandung, OD juga dekat dengan karya seni rupa. Hal itu membuatnya jadi tidak betah kalau tinggal di rumah yang dindingnya kosong tanpa lukisan.

Salah seorang sepupunya belajar seni rupa di ITB, seangkatan dengan Sudjoko, atau lebih senior dari Srihadi. Lulus dari ITB, ia mengambil studi estetika di Belanda. Sepupunya itu menjadi salah seorang pembimbing dan pembangkit kecintaannya terhadap karya seni rupa.

“Pak Affandi juga guru saya soal estetika. Pak Affandi juga marketing yang bagus untuk dirinya. Beliau tidak pernah membanting harga. Daripada menurunkan harga, dia lebih suka meminta orang untuk mencicil pembayaran beberapa kali. Sebelum cicilan habis, beliau bawa lagi lukisan yang lain, bisa sampai tujuh. Waduh, saya suka banget, akhirnya nyicil lagi. Dengan cara begitu, harga lukisan Pak Affandi jadi stabil. Setelah Pak Affandi mulai sakit-sakitan, saya belajar ke Pak Widayat. Tapi belakangan malah Pak Widayat yang belajar ke saya. Kalau selesai melukis, beliau suka nanya ke saya, bagaimana Pak Ong Djien? Bagus, kata saya. Pak Widayat bilang, oh kalau Pak Ong Djien sudah bagus, mantaplah, ini sudah bagus.

Saya punya teman pelukis, namanya Kwee En Tjiong. Dia paham benar karya Affandi, Hendra, Widayat. Saya belajar dari dia. Tapi sekarang, dia malah banyak nanya ke saya. Dia bilang, wah pak Affandi, Hendra, dan Pak Widayat sudah wafat. Hanya ke kamu aku bisa belajar,” kata OHD, tentu dengan nada suara bangga.

Seusai dansa, OHD memang suka dansa, selepas pembukaan JAD itu, OHD menjawab beberapa pertanyaan yang juga ingin diketahui banyak orang. Berikut petikannya.

Apa makna kolektor bagi Anda?
Saya generasi lama. Para generasi lama itu, rata-rata tidak pernah merasa atau mengaku sebagai kolektor. Kami dulu itu suka karya seni, dan hobby mengoleksinya. Kalau ada uang, ya membeli karya seni. Pada saat itu, tidak ada pemikiran membeli lukisan untuk dijual kembali, atau untuk investasi dalam long time. Bagaimana mau jual, pasarnya juga tidak ada. Belum ada balai lelang seperti sekarang. Para pelukis juga susah menjual karyanya. Tapi karena senang, ada perhatian, berhubungan dengan seniman, kami makin dekat dengan karya seni, maka lama-lama timbul fesyen, dan akhirnya kecanduan.

Kapan seseorang disebut kolektor, menurut saya, kalau seseorang itu temboknya sudah penuh, tapi masih membeli terus. Jiwa mengoleksi, sebenarnya merupakan instink manusia. Misalnya waktu saya masih kecil, sudah mengoleksi bungkus cerutu, gambar-gambar wayang, serdadu dari logam, perangko, dan lain-lain. Ada orang yang jiwa mengoleksionya begitu hebat, hingga enggan membuang sesutu. Apa-apa yang sudah dikoleksinya ia simpan meskipun terlihat numpuk seperti sampah dan menjadi sarang tikus. Tapi tidak ia buang karena mungkin suatu waktu ia membutuhkannya.

Begitu pun dengan mengoleksi lukisan. Mula-mula senang, lalu jadi kecanduan. Kalau seseorang itu memiliki jiwa kolektor sejati, maka apa-apa yang sudah ia dapatkan, pasti akan ia pertahankan habis-habisan. Tapi kadang-kadang, memang tidak semua bisa dipertahankan, karena dalam proses mengoleksi benda-benda apalagi karya seni itu, ada perkembangan selera dan kepekaan estetika. Yang dulu kurang senang, eh sekarang malah kesengsem, yang dulu begitu disukai kemudian menjadi biasa-biasa saja. Kalau sudah kurang senang kemudian dilepas, itu wajar. Lukisan yang dulu saya senangi, yang dibeli tahun 1965-an, sekarang malu kalau saya pertontonkan. Tapi koleksi itu saya pertahankan karena ada nilai historisnya.

Dalam mengoleksi itu, menurut saya akan ada proses, termasuk dalam proses menakar kualitas estetik dan artistik. Kalau sudah begitu, mengoleksinya jadi lain. Ada konsep, bukan asal beli. Kalau sudah memakai konsep, dengan sendirinya akan selektif, baik secara kualitas maupun tema. Memang banyak kolektor yang membeli karya asal dia senangi. Mau dari Indonesia, Eropa, China, semua dibeli. Itu hak dia.

Meskipun sudah memakai batasan dan konsep, lama-lama koleksi saya menumpuk juga. Beberapa seniman top seperti pak Widayat, menganjurkan saya membuat gedung untuk mendisplay. Akhirnya saya bikin museum. Museum ini jelas dibatasi, tidak asal seneng kemudian dipajang. Museum saya membatasi diri pada karya seni rupa modern dan kontemporer Indonesia. Dengan batasan itu saja, pengetahuan dan tenaga saya tidak cukup untuk mendalaminya. Dana juga sudah tidak mencukupi. Karena itu, saya ingin lebih memfokuskan lagi pada karya seniman Indonesia. Kalau bisa, saya ingin menghadirkan perkembangan estetika para seniman Indonesia. Nah, di situ ada konsep historis dan preferensi karya yang dipajang. Preferensi saya adalah, karya yang bisa meningkatkan kualitas museum itu. Begitulah cara saya sekarang mengoleksi.

Dengan adanya konsep itu, untuk mengoleksi seniman muda pun menjadi lebih berhati-hati. Spesialisasi dia itu bagaimana, atau hanya ikut-ikutan trend saja. Kalau saya melihat di situ ada bakat luar biasa, okay lah. Itu pun, sekali lagi, sangat hati-hati. Tidak seperti dulu, melihat yang berbakat langsung main borong, lalu diseleksi, yang kurang bagus ya dilepas.

Anda pernah mengalami fase main borong terus diseleksi untuk dilepas?
Jaman waktu saya getol mengoleksi, harga lukisan masih murah. Ibarat kata, sekarang hanya bisa beli dua, dulu bisa beli puluhan. Meskipun masih murah, dulu itu sangat sulit menjual kembali lukisan. Senimannya juga susah menjual saat itu. Kalau sekarang kan lain. Saat booming, karya seniman di studionya jadi rebutan, pameran di galeri juga jadi rebutan, sampai dilotre untuk bisa mendapatkannya. Karena begitu dapat, bisa langsung dilempar ke balai lelang, langsung untung besar. Jaman dulu kan belum ada balai lelang. Balai lelang itu, Sotheby’s saja, baru ada di Singapura tahun 1994. Sebelum mereka dirikan di sana, mereka datang ke saya, menanyakan seniman-seniman Indonesia yang prospektif.

Mencermati cerita Anda, kategori kolektor itu sepertinya banyak macamnya?
Betul, kolektor itu bisa dibagi-bagi. Misalnya kolektor yang tidak memiliki niat membuat museum, dia membeli asal dia senang. Ada kolektor yang menyesuaikan dengan dekorasi rumahnya. Kalau selera estetiknya bagus, ya baguslah koleksinya. Ada kolektor yang membeli karena dia suka, tapi tidak memakai konsep. Ada juga yang jual beli. Nah, yang ini sebenarnya sudah bukan kolektor. Tapi bukan berarti kolektor itu tidak boleh menjual koleksinya. Tapi kalau jual-beli, itu memang bukan kolektor. Kolektor pun suatu ketika dananya habis. Ada sebuah karya yang bagus, dia suka, ditawarkan kepadanya tapi dia tidak punya uang, nah mau bagaimana? Terpaksa dia seleksi koleksinya, lalu mungkin dijual atau tukar tambah. Waktu beli itu, motivasinya memang untuk mengoleksi, bukan untuk investasi. Motivasi bisa membedakan kolektor dengan bukan kolektor.

Tentu saja kolektor yang menggunakan konsep, akan sedikit jumlahnya. Tapi kita tetap harus optomis, sudah bisa menjadi pecinta karya seni juga, itu sudah bagus. Nanti kan dia akan berkembang, dari hanya cinta, jadi benar-benar kesengsem, pengetahuannya bertambah, lalu makin selektif. Kolektor harus selektif terhadap kualitas karya, supaya mendidik seniman melahirkan karya yang benar-benar berkualitas. Kalau seniman asal buat karya, nanti dia akan merasakan, karyanya tidak dikoleksi orang.

Seniman kita ribuan jumlahnya, sedangkan kolektor sejati hanya sedikit. Berarti kondisi itu akan melahirkan banyak art dealer dan predator?
Begini loh, sebenarnya seniman, galeri, balai lelang, kolektor, akan membangun satu kesatuan. Mereka adalah elemen seni rupa yang masing-masing memiliki fungsinya sendiri. Kalau fungsi ini digabung-gabungkan pada satu orang misalnya, itu tidak bagus. Seniman sebaiknya berfungsi hanya berkarya, jangan memikirkan pemasaran. Pemasaran itu biar ditangani galeri. Lalu art dealer juga harus fair. Jangan ia menggencet seniman untuk keuntungannya sendiri. Semua harus fair. Jangan sampai art dealer atau galeri membohongi kolektor baru. Janganlah menjurumuskannya, ini bahaya dan bisa merusak kondisi. Jangan pernah lahir perasaan kecewa dan lahir korban. Mereka yang kecewa dan merasa menjadi korban, hawatir nanti malah melahirkan orang-orang kecewa baru dan korban-korban baru.

O ya, bagaimana kedekatan Anda dengan Sotheby’s? Apa Anda jadi pemasok bagi mereka?
Saya mengikuti perkembangan Sotheby’s yang di Singapura. Waktu mengadakan lelang yang pertama untuk seniman-seniman Indonesia, mereka meminta tulisan saya untuk pengantar. Saya usulkan kepada mereka supaya memberikan ruang untuk seniman muda. Jangan hanya melelang seniman tua yang sudah establish, apalagi bila senimannya sudah meninggal, ini akan menciptakan lahan subur untuk pemalsuan lukisan. Mereka katakan, tidak bergerak di secondary market, tapi di primary market yang lukisannya memang laku. Mereka minta tulisan saya di bagian tentang seniman muda itu diedit, ya sudah saya edit. Kemudian mereka datang lagi ke saya, dan membenarkan apa yang saya katakan dulu.

Mereka pun mulai melelang karya seniman-seniman muda. Tapi mereka tidak kenal seniman-seniman muda Indonesia, dan tidak punya karyanya. Maka saya kenalkan secara langsung orang Sotheby’s ke beberapa seniman seperti Rudi Mantovani, Yunizar, Pupuk DP, dan lain-lain. Hanya waktu itu, seniman-seniman muda juga tidak punya karya. Karya yang bagus-bagus sudah ada di tempat saya. Orang Sotheby’s minta ke saya. Tapi saya bilang, saya enggak mau jual. Tapi mereka maksa. Ya saya coba, laku memang, tapi rugi. Rugi di ongkos dan sebagainya. Dan sering pada waktu, pembayaran pun tidak ada bank rekening. Saya merasa dirugikan, dan saya usulkan supaya mereka langsung berhubungan dengan seniman. Saya mengenalkan orang Sotheby’s ke seniman-seniman muda.

Apa balai lelang boleh ambil karya langsung dari seniman, atau sebaliknya?
Dulu kami mengira hal itu tidak boleh. Sewaktu pak Widayat mau melelang karyanya, kira-kira tahun 1994-an, dikiranya tidak boleh, jadi minta bantuan saya untuk memasukkan ke balai lelang. Dipotong komisi 10% oleh balai lelang karena saya dianggap kolektor. Suatu hari saya ketemu teman yang art dealer, juga memasukkan lukisan ke balai lelang, dipotong hanya 6%. Lah, saya tanya ke Sotheby’s, mengapa dia dipotong hanya 6% sedang saya 10%. Kata Sotheby’s, karena nama saya tercatat sebagai kolektor, kalau mau jadi 6%, nama saya di kantor pusat harus diganti jadi art dealer. Lah, saya enggak mau dong dibilang art dealer. Ini kan bukan lukisan saya, ini punya seniman. Lalu Sotheby’s bilang, mengapa tidak langsung pelukisnya yang setor ke balai lelang, tapi dia dianggap sebagai art dealer? Memang boleh, tanya saya. Ya boleh. Secara etika dan lain-lain, tidak ada masalah.

Kepentingan galeri dengan balai lelang bisa tubtukan kalau dari seniman langsung ke balai lelang?
Memang. Secara ideal, galeri itu jadi primary market, sedangkan balai lelang menggarap secondary market. Paling ideal seperti itu. Tapi aturan hukum dan aturan larangan tidak ada. Aturan etika, kita bisa berdebat.

Mengapa tidak dibuat aturan supaya hal ideal bisa tercapai?
Mau dibuat aturan bagaimana, undang-undangnya saja tidak ada. Usul saya, service galeri harus bagus. Seniman itu tidak mau pusing-pusing. Ke balai lelang misalnya kena 6%, ke galeri bisa 30%. Tapi balai lelang itu tidak mempromosikan seniman. Galeri adalah titik berangkat dari seniman. Nah, kalau service galeri bagus, seniman yang tidak mau pusing-pusing, akan memilih galeri. Lalu galeri melempar ke balai lelang. Kalau pengelola galeri itu memiliki konsep dan relasi yang bagus, seniman tidak akan mau meninggalkan galeri. Bagaimanapun, seniman akan bangga kalau karyanya jatuh ke peraduan yang tepat, nangkring di museum milik kolektor yang jelas tidak akan dijual lagi. Tapi kalau galeri hanya bisa jualan, yah seniman juga akan berpikir, mengapa tidak menjual langsung ke balai lelang, kan komisinya lebih kecil. Kalau lepas ke tangan kolekdol, seniman juga akan kecewa. Dan seniman juga pasti mempelajari orang. Ini galeri yang hebat atau hanya bisa jualan. Ini kolektor sejati, atau art dealer.

Kalau kolektor yang diminta balai lelang, pasti akan berpikir berkali-kali. Jika pun ia melepas, pasti karya yang benar-benar kurang bagus menurutnya. Kalau karya yang bagus dilepas, maka itu adalah kesalahan besar dari seorang kolektor. Kalau dia melepas karya-karya terbaik dari koleksinya, pasti semangatnya patah. Adalah celaka bagi seorang kolektor kalau semangatnya sudah patah. Kalau semangatnya sudah patah, itu bahaya, jadi enggak karu-karuan karya yang dikoleksinya.

Seperti apa prestige yang dirasakan seorang kolektor sejati?
Menjadi kolektor memang ada kebanggaan, dan harus ada kebanggaan. Seorang kolektor akan bangga kalau koleksi-koleksinya dinilai oleh publik sebagai karya-karya terbaik. Kalau saya punya museum, jadi saya bisa mendapatkan komentar publik di buku komentar, bagaimana pandangan mereka tentang koleksi saya. Kalau komentarnya bagus, kan saya bangga saya telah berjalan on the right track.

Pernah ada komentar miring terhadap koleksi Anda?
Dulu waktu permulaan, pernah ada komentar, sayang koleksi yang kontemporer kurang banyak, karya patung kurang banyak. Dari komentar publik itu saya banyak belajar. Saya melakukan otokritik. Yang kurang suka, saya turunkan, saya taruh di gudang. Sekarang umumnya komentar, menggembirakan saya.

Bagaimana anda melihat kolektor jaman sekarang?
Macam-macam. Banyak kolektor muda dengan uang yang lebih fresh, dan dengan selera yang berbeda. Tapi banyak juga yang mengaku kolektor dengan latar belakang pemain saham, sehingga memperlakukan lukisan seperti saham. Sekarang ini, ada juga mereka yang mengoleksi dengan mengejar target. Aneh, kok mengoleksi pakai target. Biasanya kalau membeli lukisan pakai target, suka salah beli. Habis begitu, ia cerita ke mana-mana dan seolah-olah dialah kolektor terbaik karena memiliki koleksi karya si ini atau si itu. Mungkin dia baru akan merasakan salah beli setelah beberapa tahun ke depan. Mengapa bisa salah beli? Itulah, dalam mengoleksi terkadang suka ada emosi. Karena punya banyak duit, dia beli tidak dengan mata, tapi dengan telinga, hanya karena emosional.

Pesan saya, jangan menganggap diri kita adalah yang terbaik. Di atas langit masih ada langit. Tapi kita harus belajar terus-menerus, supaya kita tidak keliru. Semua orang bisa buat kesalahan. Orang itu dalam melihat karya, di lain waktu maka akan lain mood-nya, akan lain seleranya, lain pula penglihatannya. Terkadang saya juga suka kaget sendiri, lah lukisan begini kok bisa saya beli, ini tak masuk akal.

Dengar-dengar, Anda punya saudara di Belanda dan suka bantu menjualkan lukisan old master karya seniman Belanda di Indonesia ke balai lelang di Eropa?
Iya saya punya banyak saudara di Belanda. Wah, enggaklah jual lukisan old master seniman Belanda yang koleksi ayah saya itu. Lagian itu kan karya seniman tidak terkenal. Mana bisa laku kalau dijual di Eropa. Salah satu saudara saya di Belanda itu jago fotografi. Dia suka bantu memotret karya-karya lukisan yang akan dilelang, lalu memperlihatkannya ke saya. Kalau ada yang saya nilai bagus dan saya suka, saya bilang ke saudara saya, tolong bantu bid lukisan itu. |

wawancara ini pernah dimuat di almarhum majalah arti.

1 comment:

  1. Hanya dengan minimal Deposit Rp 20.000,- kamu berkesempatan memenangkan hadiah Jackpot hingga puluhan juta. Tunggu apa lagi..
    Hanya di Aslibandar.net kamu mendapatkan Bonus Mingguan dan Bonus Double Referral 20% secara cuma-cuma.

    Daftar dan buktikan hadiah dari Aslibandar.net yang akan membuat kamu merasa puas di sertai Costomer Service yang ramah dan siap membantu anda para pencinta Poker Online Indonesia. !!!

    Untuk Info lebih lanjut silahkan hubungi kami melalui :

    * Ym: Aslibandar_Cs
    * Phone: 855976375885
    * Fb: AsliBandar
    * Skype: AsliBandar
    * Whatsapp: 85569776588
    * BBM: 2B3C34F4

    ReplyDelete

tulisan yang nyambung